Raja Ali Haji: dari Melayu untuk Persatuan Indonesia

Raja Ali Haji

Tidak asing bagi telinga kita mendengar sayup-sayup syair Gurindam Dua Belas yang sempat di-recycle menjadi sebuah lagu. Namun tahukah kita akan sosok Raja Ali Haji? Ya, beliaulah yang kemudian menjadi peletak dasar Bahasa Indonesia yang kita kenal sekarang ini. Beliau menggubah buku yang bertajuk “Kitab Pengetahuan Bahasa tahun 1850-an yang kemudian dikaitkan dalam Kongres Pemuda II 28 Oktober 1928 sebagai Bahasa Indonesia. Tata bahasa Melayu sempat selesai digubah beliau tahun 1857, bertajuk Bustan al-Katibin.

Lahir di Selangor, Melayu (sekarang Malaysia) tahun 1808, beliau ini sejatinya adalah ulama dan sastrawan yang terkenal. Kakeknya merupakan pejuang asal Bugis (sekarang Makassar) yang terkenal syahid di Palagan Malaka. Lahir dari pasangan Raja Ahmad yang bergelar Engkau Haji Tua dan Encik Hamidah binti Panglima Malik Selangor, menjadikan RAH mempunyai darah biru. Beliau besar dari lingkungan Kesultanan Riau-Lingga di Pulau Penyengat (sekarang Riau) membuatnya tak sulit mendapat akses pendidikan.

Khazanah keilmuannya dimulai mula-mula dipermulus ayahnya yang memberikan pendidikan dasar di lingkungan istana. Ia kemudian yang termasuk pertama mendapat pendidikan dalam bidang agama, bahasa serta sastra secara luas. Selanjutnya beliau diajak oleh ayahnya mengembara di Batavia di tahun 1822. Sementara itu, ia juga pernah ke Singapura yang oleh didirikan oleh Sir Thomas Stamford Raffles kemudian. Enam tahun berikutnya, ia sudah mencapai Arab untuk beribadah haji, mempelajari Bahasa Arab serta memperdalam ilmu agama.

Dalam kancah perpolitikan atau pemerintahan, Raja Ali Haji sudah mengakomodir banyak urusan kenegaraan berlabel penting di usia beliau yang baru 20 tahun. Beliau juga mempunyai kuasa sebagai staf penasihat Yang Dipertuan Agung hal ihwal politik dan hukum. Tak sampai di situ, pada usia yang 32 tahun dengan sepupunya, yakni Raja Ali bin Raja Ja’far dipercaya memerintah di daerah Lingga. Tak kalah, di bidang sastra ia banyak mengukir karya sastra yang melejitkan namanya hingga kini. Tahun 1865, ia menyelesaikan Silsilah Melayu dan Bugis dan setahun berselang, Tuhfat al-Nafis. Tak lupa, beliau juga kental menyuguhkan karya sastra beraroma Islam dan Melayu juga dalam penyuguhan kesejarahan masa lampau.

Baca Juga  Pengaruh Terusan Suez terhadap Perdagangan Dunia Masa Kolonial (1869-1956)

Raja Ali Haji kemudian meninggal pada usia ke 65 tahun 1873, sesuai nubuat  menyoal urusan usia yang kurang-lebih dari Rasulullah SAW.  Wafat di Pulau Penyengat, lantas jasadnya dimakamkan di Komplek Pemakaman Engkau Putri Raja Hamidah. Kendati demikian, letak makam beliau berada di luar bangunan makam utama. Menjadi indah ketika gubahan Gurindam Dua Belas tahun 1847 itu tetap dilukiskan di dinding sekitar makam. Atas sumbangsih beliau, Pemerintah Republik Indonesia menetapkan Raja Ali Haji menjadi pahlawan nasional, 5 November 2004 dengan dasar penetapan Keppres no. 89/TK/2004.

Referensi :

Kuncoro Hadi dan Sustianingsih. (2015). Ensiklopedia Pahlawan Nasional. Yogyakarta: Istana Media.

Maier, M. H.Hendrik (2001). Raja Ali Haji dan Hang Tuah: Arloji dan Mufassar. Sari 19, 159-178.

.

Penulis: Muhammad Ath Thaariq

Editor: Fastabiqul Hakim