Representasi Film Hotel Rwanda terhadap Genosida di Rwanda 1994

Genosida adalah pembunuhan besar-besaran secara berencana terhadap suatu bangsa atau ras. Sehingga dapat diartikan lebih lanjut bahwa Genosida merupakan perbuatan atau cara yang telah direncanakan untuk bertujuan memusnahkan atau pembunuhan terhadap suku, ras, atau bangsa dengan jumlah yang banyak. Genosida juga bertujuan untuk mengurangi populasi suatu rasa tau suku, hal tersebut menjadikan genosida sebagai kejahatan terhadap umat manusia menurut para sarjana hubungan internasional (D. Turangan, Doortje, 2011: 1).

Oleh Majelis Umum PBB disimpulkan bahwa kejahatan tersebut tidak hanya terjadi pada satu suku atau ras saja, namun juga terhadap kelompok-kelompok politik (political groups), dikarenakan kelompok tersebut tidak mudah dikenali identifikasinya dan menyebabkan gangguan masalah politik di nasional maupun internasional.

Genosida di Rwanda 1994

Latar Belakang Konflik

Sebelum terjadinya genosida, Rwanda sendiri dalam sejarah pada kurun waktu kolonialisme dan imperialisme dikuasai oleh bangsa barat yakni Jerman setelah terjadi kesepakatan pada Konferensi Berlin. Jerman menguasai wilayah yang dinamai German East Africa yang sekarang menjadi negara Rwanda dan Burundi. Kemudian, setelah berlangsungnya Perang Dunia I, Rwanda menjadi negara jajahan dari Belgia. Dalam pelaksanaannya Belgia menerapkan sistem jajahan yakni Indirect Rule. Disana belgia mulai memperkenalkan politik identitas yang diskriminasi suku yakni Hutu, Tutsi dan Twa (J. Shaw, Eric, 2012: 12-13).

Hutu merupakan suku mayoritas Rwanda dengan populasi 85%, Tutsi 14% dan Twa hanya sekitar 1%. Mereka dibedakan atas status sosial dan kelas sosial (Hintjens, Helen, 2013: 197). Terdapat perbedaan fisik antara Hutu dan Tutsi. Tutsi dideskripsikan memiliki badan yang tinggi, kurus, dan ramping. Sedangkan, Hutu memiliki tubuh yang lebih pendek dan kuat. Hal tersebut yang menyebabkan Belgia memilih suku Tutsi untuk diberikan kewenangan dalam pemerintahan dan kekuasaan dan Hutu yang merupakan suku mayoritas tidak diberi hal yang sama oleh Belgia. Hal ini tentu saja menyebabkan kecemburuan sosial pada masyarakat Rwanda yang mayoritas diisi oleh bangsa Hutu yang mau tidak mau harus melakukan perlawanan agar mendapat hak yang sama seperti Tutsi.

Baca Juga  Garis Imajiner Yogyakarta: Gunung Merapi

Kemudian, dominasi suku Tutsi terhadap penguasaan di sejumlah sector berlangsung hingga tahun 1950an. Belgia akan meninggalkan Rwanda atas desakan dari PBB yang menyebabkan akan terjadinya kemerdekaan bangsa Rwanda dan Belgia malah menyerahkan kekuasaan kepada suku Hutu. Keputusan ini sangat mengejutkan bagi suku Tutsi. Kedua suku mendirikan partai yang mengakodimir masalah politik mereka. Hutu mendirikan Parti du movement de l’emancipation des Bahutu yang dikenal dengan Parmenhutu. Dan Tutsi mendirikan partai Union Nationale Rwandese atau UNAR (J. Shaw, Eric, 2012: 20). Namun, hal tersebut tidak meredam konflik, konflik terus bergejolak menyebabkan kedua suku tersebut bertikai hingga menyebabkan korban jiwa terus meningkat.

Pada tahun 1960 terjadi Revolusi Hutu yang menyebabkan korban berjatuhan di pihak Tutsi hingga membuat Tutsi terpinggirkan dari kekuasaan dan memilih untuk pergi ke negara-negara tetangga, mayoritas pergi ke negara Uganda dan Zaire. Pada tahun 1964, sebanyak 70% suku Tutsi menjadi pengungsi.

7 April 1994: Pembunuhan Besar-Besaran Dimulai

Dominasi suku Hutu berlangsung hingga tahun 1990an. Pada tahun tersebut suku Tutsi membuat RPF (Rwanda Patriotic Front) yang dipimpin oleh Paul Kagame yang bertujuan untuk merebut kekuasaan dari suku Hutu (Melvern, L, 2006: 17). Siang hari pada tanggal 6 April 1994, Presiden Habyarimana terbunuh saat pesawatnya ditembak jatuh. Habyarimana adalah presiden dari kalangan Hutu. Diduga kelompok RPF dibalik pembunuhan tersebut.

Kelompok Hutu ekstremis yang disebut Hutu Power. Terbunuhnya presiden dijadikan alasan bagi Hutu Ekstremis untuk melakukan pembantaian terhadap suku Tutsi. Para suku Tutsi dapat dikenali dengan kartu tanda pengenal yang dibuat tertulis nama suku didalamnya. Hutu ekstremis memulai dengan menutup jalan-jalan yang biasa dilalui oleh suku Tutsi dan membunuh setiap tutsi yang ditemui. Negara Rwanda saat itu terjadi chaos yang tidak terhindarkan.

Baca Juga  Kebebasan Beragama di Indonesia dalam Konteks Sejarah

Menurut Prunier (1995) diestimasikan bahwa 20.000 orang terbunuh pada minggu pertama pelaksanaan Genosida. Para korban hanya bergelimpangan di jalan-jalan tanpa ada penguburan yang laya. Ada juga yang mengestimasikan bahwa 80.000 orang terbunuh dan banyak orang yang menjadi pengungsi di negara lain. Yang dilakukan PBB untuk meredam konflik tersebut adalah dengan mengirimkan sejumlah pasukan PBB yang dipimpin oleh Jenderal Romeo Dallaire untuk menjaga perdamaian antara pasukan Hutu dengan pasukan RPF. Namun, usaha tersebut nampaknya sia-sia pasukan penjaga perdamaian hanya sebagai formalitas saja karena korban-korban sudah banyak yang berjatuhan diakibatkan keadaan yang mengerikan pada saat itu.

Film Hotel Rwanda

Hotel Rwanda merupakan film bergenre drama sejarah yang dirilis pertama kali pada tahun 2004 yang disutradai oleh Terry George. Film ini dibintangi sejumlah actor dan aktris Hollywood seperti Don Cheadle, Nick Nolte, Sophie Okonedo, dan Joaquin Phoenix. Film ini mengisahkan tentang konflik antara suku Hutu dan Tutsi yang mengakibatkan korban sipil tewas tidak bersalah mencapai hampir satu juta orang.

Menceritakan Paul Rusebagina (Don Cheadle), ia berlatar belakang dari suku Hutu dan manajer sebuah hotel yang bernama Sabena Hotel des Mille Collines. Namun, istrinya Tatiana ialah seorang suku Tutsi. Hal yang tidak diinginkan itu terjadi pada suatu hari pada bulan April 1994.

Pada malam pembantaian, para Hutu ekstremis datang ke perumahannya yang dihuni oleh mayoritas suku Tutsi yang bertujuan untuk membunuh semua suku tersebut. Paul berupaya untuk menyelamatkan tetangganya dengan kecerdikannya. Setelah tawar menawar dengan pihak militer Rwanda, ia mengungsikan keluarga dan temannya ke hotel tempat ia bekerja. Namun, semakin banyak pengungsi yang datang ke hotel tersebut menjadikan tempat itu sesak dan penuh. Dan terdapat seorangreporter dari media asing yang menginap disana juga.

Baca Juga  Mengulik Serat Tripama: Sebuah Doktrin Bela Negara ala Mangkunegara IV

Seorang pemimpin pasukan perdamaian PBB, Kolonel Oliver yang membantu Paul mengungsikan para korban ke hotel tersebut. Namun, sang kolonel tidak bisa ikut campur karena pasukan perdamaian PBB dilarang ikut campur masalah tersebut. Hotel tersebut semakin sesak dan penuh ditambah pengungsi anak-anak yang diungsikan oleh Pat, sorang petugas palang merah. Berbagai cara dilakukan Paul untuk mengevakuasi pengungsi tersebut untuk keluar dari hotel. Namun, usaha itu sia-sia karena diluar banyak pasukan Hutu ekstremis yang menghadang. Diluar hotel banyak suku-suku Tutsi yang dibantai oleh kelompok ekstremis.

Di tengah keputusasaan Paul berbicara kepada Jenderal Rwanda untuk segera mengambil tindakan untuk menyelesaikan konflik dan memerasnya dengan ancaman menjadikan jenderal tersebut sebagai penjahat perang. Sang jenderal kemudian setuju dank e hotel yang diserang oleh perusuh dan kelompok Hutu ekstremis. Tentara sang jenderal akhirnya dapat mengakhiri kekacauan disana. Keluarga Paul dan pengungsi dapat keluar dengan kawalan dari pasukan perdamaian PBB.

Film tersebut sangat menggambarkan apa yang terjadi di Rwanda pada kurun waktu 1994. Dan film tersebut diangkat dari kisah nyata. Tokoh utamanya yakni Paul Rusebagina, ia merupakan tokoh nyata, dan hotel yang dijadikan tempat pengungsian juga nyata. Sang Colonel Oliver merupakan penokohan dari Jendral Romeo Dallaire yang merupakan pemimpin pasukan perdamaian PBB. Penggambaran yang cukup jelas mengingatkan kembali pada tragedi kemanusiaan di Rwanda yang sangatlah keji. Para produser dan pembuat film ini bertujuan atau memberi pesan kepada dunia bahwa genosida adalah tindakan yang merusak hak asasi manusia dan termasuk kejahatan perang dan memberi pesan agar dimasa depan tragedi tersebut tidak terulang kembali.

.

Penulis: Penta Lavida

Editor: Adien Tsaqif