Riwayat dan Kemelut Dakwah Islam di Korea

Sejarah Islam di Korea

Semenanjung Korea dalam riwayat sejarah sudah berpenghuni sejak 2.333 SM. Mereka merupakan kelompok-kelompok dari utara tepatnya Suku Mongol yang datang dari masa prasejarah yang menggunakan rumpun bahasa Ural-Altaik. Hikayat Tegun merupakan salah satu saksi, sedianya mereka tidak terlepas dengan dialektika sejarah seperti umumnya belahan bumi lain. Oleh karena itu, intelegensia mereka membuahkan Animisme dan Dinamisme yang tidak satu paket berwujud dogma-dogma sistematik.

Selanjutnya, Korea masa prasejarah hingga ke abad pertengahan diselimuti oleh Agama Animisme dan sedikit Dinamisme. Animisme diyakini sebagai agama tertua. Animisme di Korea disebut dengan Shamanisme. Sejatinya, kreasi Shamanisme ini tidak terlepas pula oleh sebaran ras di Korea yang homogen dan tidak menjalin ikatan apa pun dengan tetangga baik Cina maupun Jepang. Semenanjung Korea praktis dikurung lautan dan di arah Utara dipisahkan oleh Sungai Yalu menuju Manchuria, Cina dan Rusia.

Isolasi mereka kemudian berubah pasca, jalinan sosial dengan negara tetangga, Cina. Pada Abad ke 7 M, Islam telah berkembang dengan pesat di Hijaz dan Arab hingga menggetarkan Sassanid serta Romawi. Menurut Schrieke, peta jalur perdagangan lama antara daerah Timur dan Barat telah memberikan bukti jalinan sosial yang terjalin. Pada akhirnya, riwayat pengembaraan Muslim ke Cina juga turut berlabuh Korea terjadi di Abad ke 9 M. Dalam perkembangan selanjutnya, “pasang-surut” Islamisasi di Korea memberikan warna tersendiri dalam belantika panggung religi yang damai. Tercatat, Islamisasi terbagi dalam dua periode yakni, periode Tiga Kerajaan hingga penjajahan Jepang (prakemerdekaan) dan pasca kemerdekaan hingga kini.

Riwayat Islam Pra Merdeka dari Masa Tiga Kerajaan Besar sampai Penjajahan Jepang

Sumber pertama mengenai kehadiran Islam terjadi pada abad ke 7 M. Pada masa itu, di Korea terdapat sebuah dinasti yang bernama Goguryeo. Dan pada waktu itu, dua imperium besar saling berhadapan satu sama salin untuk melindungi atau menguasai Asia Tengah. Kekhalifahan Abbasiyah di selatan dan Dinasti Tang di Timur bertempur di Talas merupakan gesekan perbatasan. Korea dalam waktu itu terbilang sangat dekat dengan Tang, hingga tersebutlah Gao Xianzhi yang merupakan panglima perang dari Tang dalam pertempuran itu. Menariknya Gao Xianzhi ini keturunan dari Goguryo yang mengabdi pada Tang meskipun akhirnya, Dinasti Tang dikalahkan sehingga, Abbasiyah mendapat pengaruh luas di Asia Tengah (Grayson, 2002). Pada tahun 651 M, dakwah Islam telah sampai di Tang dan kemudian disangkakan telah berada di Korea.

Pada Abad ke 8 M, hubungan pengembaraan antara biksu, utusan dengan pedagang dari dan menuju Korea kembali stabil. Hal tersebut terjadi setelah kejatuhan Goguryo silam dan munculnya Balhae sebagai entitas baru yang memberikan kestabilan sosial-masyarakat kembali. Di masa itu, relasi internasional kembali membaik. Agama Budha diperkirakan kembali kuat setelah relasi Tang Cina, Korea lalu Jepang. Pedagang Islam diyakini telah ada di Korea untuk berburu emas atas santernya laporan artefak emas Korea yang populer di masyarakat kelas atas Dinasti Xian dan Silla (Kim, 2005). Karena Dinasti Tang memegang peranan penting di abad ini, dimungkinkan banyak pedagang juga utusan dari barat termasuk Arab telah sampai Cina yang pada waktu berikutnya telah berada di Korea.

Baca Juga  Peran Lee Kuan Yew dalam Menghantarkan Singapura Menjadi Negara Maju

Pada abad ke 9 M, Islam secara kuat diverifikasi keberadaannya di Korea. Di antara masa ini, terdapat saudagar muslim bernama Cho Young. Dalam riwayatnya dalam Buku Sam Kuk Sagi saudagar Islam ini mulanya empat orang lalu, tiga di antaranya meninggal sehingga menyisakan Cho Young seorang. Cho Young kemudian masyhur sebagai pedagang yang beragama Islam pada waktu itu (Geun, 2011).

Islamisasi secara signifikan kemudian terjadi mulai abad ke 11 M permulaan. Dinasti Koryo yang waktu itu diperintah oleh Raja Hyun Jong, September 1024 M datanglah rombongan muslim berjumlah seratus orag dengan pimpinan mereka bernama Al Raza. Di tahun berikutnya pada bulan yang sama, datang juga sebuah rombongan dengan kepala mereka bernama Hasan. Mereka ini disebut Tashih yang berasal dari pengucapan dari Cina. Sementara itu, agama mereka (Islam) disebut dengan Agama Hae Kyo (agama yang bersih dan jujur) atau Chung Jin (Geun, 2011).

Berikutnya, Islamisasi kemudian terjadi secara masif pada abad ke 13 dan 14 M.  Pada masa ini, Imperium Mongol menancapkan kuasanya pada dua pertiga luas dunia (Baker, 2006). Dengan begitu, hubungan erat menghasilkan penerimaan budaya baru pun terbentuk di era Dinasti Koryo. Di masa ini, orang Arab Islam kemudian mendapat kepercayaan tinggi sehingga mampu menjabat tinggi di pemerintahan. Samga salah satunya yang kemudian menjadi Korea dengan nama Jang Song Ryeong. Kemudian hari marga Jang ini mencapai populasi 50.000 ribu jiwa (Geun, 2011).

Bentuk apresiasi yang lain tampak dalam Kota Gaesong (Islam Korea, 2006). Masjid telah berdiri di sana yang diberi nama “Yegung”. Sementara itu pemimpin agama Islam disebut dengan Doro. Mereka dipilih oleh kelompok itu sendiri. Pihak kerajaan setempat mengundang Doro ini juga dalam pesta-pesta maupun acara istana dengan membawakan doa dengan khasnya Arab yang disuguhkan pada hadirin yang datang. 

Islam kemudian berbalik kalah dan dilarang semenjak kalahnya Imperium Mongol atas Ming pada abad ke 14 M. Tahun 1368 M, Dinasti Ming terbentuk sehingga kiblat Korea kembali ke awalnya. Celakanya, Islam kemudian tidak mendapat porsi karena efek isolasi serta pemaksaan kembali ke Konghucu oleh Dinasti Ming memberikan efek kemudian di Korea. Korea kemudian mempopulerkan kembali Budhha dan menypesialkan agama Konghucu dalam pemerintahan. Akibatnya Islam mengalami kevakuman dan harus tutup riwayat sampai era kemerdekaan.

Sebelum benar-benar merdeka, dalam penjajahan Jepang. Islam kembali mendapat kontak oleh imigran di Korea namun, kiranya hal itu tidak membuahkan hasil awal abad ke 20. Dan Islam sendiri benar-benar hapus sementara dari peta religi Korea. Akan tetapi, menyoal peta kebudayaan berbeda. Melihat daripada awal Dinasti Chosun pertengahan abad ke 14, budaya Islam sedemikian rupa telah merasuk dalam masyarakat Korea yang notabene sulit menerima budaya baru secara cepat (Geun, 2011).

Baca Juga  Geliat Kemajuan Pendidikan di Mangkunegaran

Islam Kembali Berkembang Pasca Kemerdekaan Korea

Islam dikemudian hari kembali booming pada waktu Korea dilanda Perang Saudara 1950-1953. Adalah Tentara Turki yang dalam kontingen PBB bersama-sama pihak Korea Selatan merupakan fasilitator keislaman. Perang yang berakhir Juli 1953, memberikan hasil yang sama bahwa Korea tetap dibagi dua berdasar ideologinya masing-masing. Dengan begitu, Korea Utara lebih mengisolasi diri dari luar dan hanya menerima komunisme dari RRC juga Soviet. Sementara itu, Korea Selatan yang berkiblat pada barat, sudah barang tentu menerapkan kapitalisme-liberalisme yang memberikan kebebasan bagi rakyatnya untuk memeluk kepercayaan atau agama tertentu (Yoon & Setiawati, 2003).

Zubair Kochi dan Abdurahman merupakan salah satu Tentara Turki yang aktif dalam saluran islamisasi ini (Haq, 1985). Pasukan Perdamaian Turki selain menyoal bertempur, mereka juga turut aktif dalam urusan kemanusiaan. Mereka kemudian membangun sarana beribadah (masjid) sementara guna keperluan Ilahiyah mereka. Orang pribumi Korea kemudian tertarik dengan gaya hidup mereka seperti suara adzan, gerakan shalat hingga bacaan ayat suci Al Quran. Di kemudian hari mereka turut membuat Ankara School sehingga mendapat kesan keharuan di sanubari rakyat Korea. Tak dinyanya, berikutnya tercatat ada dua Tentara Korea yang masuk Islam yakni, Umar Kim Jin Kyu dan Abdullah Kim Yoo Doo (KMF (Korea Muslim Federation), 2005). 

Pada akhirnya, gelombang Muslim kemudian bertambah. Peran serta Muslim Korea yang masuk Islam tahun 1930-an dan 1940-an di Cina bernama Muhammad Yoon Do Young dan Yusuf Yoon Hyung Koo ((N.J.), 1997). Mereka inilah yang menjadi penghubung antara risalah Islam dari Bahasa Turki ke dalam Bahasa Korea. Begitu pula dengan peranan Imam Besar Abdul Gafur Kara Ismailoglu yang kerap mendakwahkan Islam pada masyarakat Korea saat berkunjung ke base came Tentara Turki. Hingga kemudian terdapat sepuluh orang mualaf  Korea yang berpengaruh dan membentuk komunitas muslim pertama di sana, di antaranya ialah Prof. Abu Bakar Kim.

Kemudian pertumbuhan Islam terus naik seiring Perang Saudara yang berakhir 1953 dan munculnya Korea Muslim Federation di tahun 1955. Di tahun 1955 pula, Korea mengakui Islam sebagai salah satu agama resmi dan pemimpin agama diperoleh lewat keputusan pengikutnya. Muhammad Yoon Do Young kemudian dikenal sebagai pucuk pimpinan Muslim Korea pertama. Hal tersebut berimbas pada jumlah mualaf Korea yang terus naik hingga kini. Kurun waktu 1976-1977, mualaf Korea bertambah sebanyak 3000 orang sementara, tahun 1982 naik tajam bertambah 22.000 orang (Umayyatun, 2017).

Baca Juga  Aksi Spionase Australia terhadap Indonesia pada Tahun 2009

Tantangan dan Peluang Dakwah Islam

Permasalahan Dakwah Islam sebenarnya terjadi pada komunikasi bahasa. Sejak zaman Dinasti Silla, pedagang Arab yang merapat di Korea tidak mampu menyiarkan risalah Islam secara optimal akibat kendala bahasa. Hal tersebut kemudian menjadi hambatan bagi kemuliaan risalah agama yang sebenarnya telah ada relasi antara Timur Tengah dengan adanya jalur sutra dari Cina menuju Barat melalui darat lewat Uzbekistan maupun laut lewat India dan Nusantara (Liu, 2010) . Dengan begitu, Islam belum tumbuh berarti atau tidak masif di abad ke 7-9 M.

Kesulitan dan hambatan dalam urusan budaya juga meruncingkan berbagai kesulitan Islam untuk tumbuh di Korea. Untuk urusan agama, dominasi kuat agama atau kepercayaan lokal seperti Buddha dan Shamanisme yang telah mengakar kuat tidak serta merta mengonversi begitu saja agama pribumi. Dalam urusan bahasa, Bahasa Korea yang dipakai terlampau berbeda dengan Bahasa Arab sehingga menimbulkan kesulitan tersendiri dalam memahami risalah Islam. Selanjutnya, dalam urusan makanan, pergaulan, cuaca serta etos dan prinsip kerja yang cepat dan tangkas dirasa menimbulkan perbedaan yang paling mencolok dengan ketetapan Islam (Geun, 2011).

Bersama kesulitan terdapat kemudahan. Pada akhirnya, berbagai negara sahabat turut aktif membantu muslimin Korea. Di antara Turki, Arab, Malaysia, Indonesia juga negara timur tengah lainnya. Selain diekspor ke negara-negara tadi guna disiapkan menjadi juru dakwah, mereka juga dipersiapkan untuk menjadi cendekiawan. Turki dan negara sahabat yang lain pun turut aktif dalam pembangunan saran dan prasarana keagamaan seperti Masjid di jantung Korea, Seoul. Dukungan terus mengalir setelah gelombang migran pekerja datang juga dar negara-negara dengan berpenduduk Muslim seperti Indonesia. Sehingga, populasi muslim asli Korea tahun 2010 ada 75.000. Orang Korea yang kemudian memeluk Islam menjelaskan bahwa, mereka tertarik atas kejelasan teologi Islam yang paling masuk akal. Adapun mereka merupakan golongan terdidik atau terpelajar (Umayyatun, 2017).

Riwayat Islamisasi di Korea juga mirip dengan apa yang terjadi di Nusantara, seperti pola-pola atau variabel yang tersaji. Hal tersebut dibuktikan dengan samanya latar belakang waktu juga sebab-musabab kehadiran Islam yang sampai pada Korea. Sulitnya akulturasi juga efek kosmologis Korea menyebabkan sulitnya Islam tumbuh di Korea. Di satu sisi, Korea menerima dan mengagungkan kebudayaan Islam semasa Mongol bercokol di Cina. Sementara itu, Cina dalam penguasaan Mongol juga memberikan pengaruh yang kuat dan berakar pada Agama Konghucu dan Buddha pun kulturnya yang luar biasa. Korea sebenarnya menjadi tidak terlalu penting dalam geografi Islam karena wilayahnya menjadi vasal oleh dua entitas yakni, Cina dan Jepang. Namun, geliat Korea masa sekarang juga memberikan pengaruh besar pada dunia. Hal tersebut juga memberikan perhatian dari dunia Muslim untuk memberikan pengaruhnya di negeri ginseng tersebut.

.

Penulis: Muhammad Ath Thaariq

Editor: Fastabiqul Hakim