Roro Mendut Pronocitro: Sebuah Romansa Cinta dari Bumi Mataram

“Harta, pangkat, dan jabatan bukanlah jaminan untuk mendapatkan cinta sejati seseorang. Cinta sejati tidak selamanya bisa dinilai dengan materi, namun justru cinta itu hadir karena perasaan saling memberi menerima dan memiliki sebagaimana kisah Roro Mendut-Pronocitro.”

Membahas tentang cinta memang tak akan pernah ada habisnya, karena pada hakikatnya manusia selalu ingin mencintai dan dicintai. Tapi tidak selamanya manusia dalam mencintai berjalan dengan mulus bak air mengalir, pasti akan banyak halang rintang yang menyertainya, bahkan tak jarang berakhir dengan tragedi yang merenggut nyawa.

Satu kisah dari sebuah nisan di sudut Yogyakarta yang ingin menuturkan kisah hidupnya kepada sahabat pembaca setia sejarahkita.com. Sebuah nisan yang didalamnya menyimpan kisah arti sebenarnya dari kisah cinta sejati. Mungkin kisah ini tak sefenomenal Romeo dan Juliet, tak setragis Cleopatra dan Mark Antony, tak sesuci Layla dan Majnun, atau bahkan tak seagung cinta Shah Jahan dan Mumtaz Mahal, akan tetapi bagi orang Jawa kisah cinta ini sangat mengandung arti yang dalam tentang arti sebenarnya cinta sejati.

Maka izinkanlah saya menuturkan kembali kisah ini yang pernah terjadi sekitar tahun 1600-an. Tentang memori kenangan cinta abadi dari dua anak manusia bernama Roro Mendut dan Pronocitro yang masih tersimpan rapih di bawah nisan ini.

Kisah ini berawal pada suatu masa dimana Kerajaan Mataram Islam masih berkuasa dibawah pimpinan Raja ketiganya, Sultan Agung Hanyokrokusumo. Suatu masa dimana embrio dari Kraton Ngayogyakarta ini terus berekspansi dan pernah menguasai hampir seluruh wilayah di Pulau Jawa.

Tersebutlah seorang gadis pantai utara dari desa Teluk Cikal, Roro Mendut namanya. Hidup dengan orang tua angkatnya kakek dan nenek Siwa karena ia adalah yatim piatu. Setiap hari ia membantu orang tua angkatnya menjaring ikan dan menjemur rumput laut. Ketika menginjak dewasa, Roro Mendut menjelma menjadi seorang mawar laut pantai utara yang kecantikannya tak terkira. Ia pun menjalin cinta dengan pemuda bernama Pronocitro, putra Nyai Singabarong saudagar dari Pekalongan sebelum akhirnya dipungut dijadikan anak angkat oleh Adipati Pragola II, penguasa Pati kala itu.

Tinggal di Puri Kadipaten, Roro Mendut dilayani oleh dayang yang bernama Ni Semangka dan Genduk Duku. Namun karena Sang Adipati tidak tahan akan kecantikan Roro Mendut akhirnya Sang Adipati berniat mempersuntingnya sebagai Selir. Sebelum menjadi selir tentunya Roro Mendut harus menjalani masa pingitan. Roro Mendut sebenarnya tidak menyetujuinya karena ia telah memiliki kekasih, akan tetapi ia tak kuasa untuk menolaknya.       

Baca Juga  Raden Pabelan: Riwayat Akhir Kisah sang "Fakboy" dari Tanah Jawa

Akan tetapi sebelum Adipati Pragola II mempersunting Roro Mendut, ia terlebih dahulu gugur dalam perang melawan Mataram. Sang Adipati gugur karena tertusuk Tombak Kyai Baru Klinting. Perang ini sebenarnya karena kesalahpahaman yaitu penyerangan Pati ke Jepara karena sebuah konflik, namun oleh Tumenggung Endranata (beliau dieksekusi mati dibelah menjadi 3 dan dimakamkan di 3 tempat yang berbeda: kepalanya di Gapura Supit Urang, badanya di anak tangga dekat  gapura Astana Pajimatan Imogiri dan kakinya di tengah kolam, karena penghianatannya kepada Mataram pada waktu menyerang Batavia) Pati dilaporkan akan memberontak kepada Mataram. Dengan gugurnya Adipati Pragola II menandai runtuhnya Kadipaten Pati.    

Atas perintah Sultan Agung, Tumenggung Wiraguna diutus untuk menggempur dan menguasai Pati. Kadipaten dibakar habis, Seluruh harta dan pusaka Kadipaten diangkut ke Mataram. Sementara istri Sang Adipati Ratu Mas Sekar (adik Sultan Agung), selir dan putra-putrinya diboyong ke Mataram, termasuk Roro Mendut yang ketika itu masih dalam masa pingitan.

Ada kisah menarik ketika Tumenggung Wiraguna bertemu dengan Roro Mendut, jatuh cinta pandangan pertama tepatnya, ia tak kuasa melihat kecantikan Roro Mendut yang sangat molek bagai bidadari. Ia seketika ingin menikahi Mendut tatkala ia teringat dengan tembang Dhandanggula yang isinya ramalan mengenai kejayaan Mataram apabila wilayah gunung dan wilayah pantai disatukan. Sang Tumenggung menggambarkan dirinya sebagai gunung sedangkan Roro Mendut digambarkan pengejawantahan jiwa pantai utara.

Dhandanggula

Kapan baya harjaning mentawis

Kang weh tentreming para kawula

Kadya ingucap isbate

Yen na laharing gunung

Ambaludag tumekeng gisik

Tuwin garudha ing harga

Lawan dara rukun

Lan sagunging kang sardula

Apan tamtu Kabul ingkang dipunesthi

Kondhang kaonang-onang

Kapan gerangan Mataram sejahtera makmur

Negara yang memberi perdamaian kepada para warga negara

Bila datang kejadian lahar gunung

Meluap sampai di pantai

 Dan garuda di gunung

Bersahabat dengan merpati

Beserta semua harimau

Maka pastilah terkabul yang diinginkan itu

Dan termasyhur dimana-mana (Mataram) tentu

Namun perjalanan perasaan memang tidaklah mudah. Meski Roro Mendut sudah diboyong ke tanah Mataram, nyatanya hasrat Sang Tumenggung masih saja bertepuk sebelah tangan. Lantaran dirinya mengetahui bahwa Roro Mendut telah memiliki kekasih bernama Pronocitro.

Baca Juga  Raden Pabelan: Riwayat Akhir Kisah sang "Fakboy" dari Tanah Jawa

Akibat Roro Mendut tidak mau dinikahi akhirnya Tumenggung Wiraguna memberikan hukuman membayar pajak upeti layaknya orang-orang yang takluk oleh kekuasaan Mataram. Untuk membayar pajak dan menyambung hidupnya akhirnya Roro Mendut pun menjual semua perhiasannya untuk modal berjualan rokok kelobot (kulit jagung).

Ditengah Pasar Rakyat, Roro Mendut membuka warung rokoknya. Sebagai seorang SPG rokok pertama, Roro Mendut menjajakan rokoknya dengan cara yang tak biasa yaitu diakhir penggulungannya selalu direkatkan dengan dijilat terlebih dahulu olehnya, selain itu juga kepada setiap pembeli, Roro Mendut selalu menjadi orang yang menyulutkan api pertamanya. Oleh karenanya rokok yang dijajakan Roro Mendut pun banyak dibeli terutama oleh para pemuda-pemuda dan para prajurit Mataram, meskipun harga yang ditawarkan cukup mahal.         

Atas nama cinta, mendengar sang kekasih diboyong ke Mataram, Pronocitro juga tidak lantas tinggal diam kala kekasihnya dibawa pergi oleh Sang Tumenggung. Pronocitro lantas mengikuti jejak Roro Mendut ke Mataram. Dan selama berada disana, pemuda nekat ini menyamar menjadi seorang pekerja yang bertugas merawat kuda.

Akhirnya suatu waktu Pronocitro berhasil bertemu dengan Roro Mendut,  benih-benih cinta kembali tumbuh setelah sekian lamanya mereka berpisah dan akhirnya dipertemukan kembali. Mereka pun akhirnya kembali menjalin cinta walaupun secara diam-diam karena takut ketahuan oleh Tumenggung Wiraguna. Setiap kali setelah menyelesaikan pekerjaan, mereka berdua bertemu bercumbu mesra bak pasangan kekasih yang dimabuk asmara.

Namun sepandai-pandainya tupai melompat dipohon pasti akan jatuh juga, sepandai-pandai nya mereka berdua menyimpan rahasia hubungan mereka pasti lambat laun akan terbongkar juga. Suatu waktu hubungan Roro Mendut dan Pronocitro terdengar ke telinga Tumenggung Wiraguna. Mendengar hubungan tersebut Tumenggung Wiraguna naik pitam. Akhirnya Sang Tumenggung bersama para pengawalnya berencana untuk menangkap Roro Mendut dan Pronocitro. Sang Tumenggung bersiasat untuk mengikuti dan memata-matai setiap gerak-gerik Roro Mendut dan Pronocitro.

Suatu waktu ketika Roro Mendut dan Pronocitro melakukan pertemuan untuk menjalin cinta, keduanya dipergoki oleh Tumenggung Wiraguna dan pengawalnya yang telah memata-matai mereka berdua sejak mereka melakukan pekerjaan masing-masing. Merasa dipergoki, Roro Mendut dan Pronocitro lari menjauhi Sang Tumenggung dan pengawalnya.

Baca Juga  Raden Pabelan: Riwayat Akhir Kisah sang "Fakboy" dari Tanah Jawa

Sang Tumenggung dan pengawalnya pun tak tinggal diam dengan mengejar mereka. Sampai di muara Sungai Opak, Roro Mendut dan Pronocitro terjebak dan tak bisa lari lagi karena terhalang oleh aliran Sungai Opak. Sampai akhirnya mereka terkejar dan terkepung oleh Sang Tumenggung dan pengawalnya. Namun Pronocitro dengan gagah berani tampil ke depan menghadapi Tumenggung Wiraguna yang juga merupakan Panglima Besar Mataram. Dia sebenarnya tahu kalau kekuatannya tak sebanding dengan Tumenggung Wiraguna, tapi cintanya kepada Roro Mendut telah menuntunnya untuk berani disaat-saat yang begitu mendesak.

Perkelahian tak dapat terhindarkan lagi, sampai akhirnya Pronocitro harus gugur karena tertusuk jantungnya oleh Keris Tumenggung Wiraguna. Pronocitro gugur secara ksatria dan membuktikan ketulusan serta pengorbanan cintanya pada Roro Mendut, meskipun tahu ia tak akan menang melawan Sang Tumenggung, tapi cinta menuntunya untuk berani meskipun akhirnya ia harus kehilangan nyawa.

Melihat kekasihnya sudah tak bernyawa lagi, Roro Mendut hatinya merasa hancur, ia merasa hidupnya saat itu sudah tak bermakna lagi. Akhirnya setelah melihat kekasihnya meregang nyawa didepan matanya sendiri, Roro Mendut memutuskan untuk menyusul kekasihnya dengan merebut keris Tumenggung Wiraguna dan menusukan keris tersebut ke tubuhnya sendiri dan akhirnya Roro Mendut meregang nyawa menyusul kekasihnya. Melihat hal tersebut akhirnya Tumenggung Wiraguna tersadar dan menyesali perbuatannya. Sang Tumenggung tersadar bahwa harta, pangkat, dan jabatan bukanlah jaminan untuk mendapatkan cinta sejati seseorang.

Cinta sejati tidak selamanya bisa dinilai dengan materi, namun justru cinta itu hadir karena perasaan saling memberi menerima dan memiliki. Untuk menebus kesalahannya, Sang Tumenggung akhirnya menguburkan jasad Roro Mendut dan Pronocitro dalam satu liang lahat. Sang Tumenggung berharap dengan dikuburkan dalam satu liang lahat dapat menjadi bukti cinta sejati mereka akan tetap mengabadi dan terkenang oleh banyak orang.

Sampai hari ini bukti cinta sejati Roro Mendut dan Pronocitro masih dapat kita saksikan di daerah Dusun Gandu, Desa Sendangtirto, Kecamatan Berbah, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Makam tersebut kini kondisinya sangat memprihatinkan karena tidak ada yang merawat bahkan banyak digunakan untuk ritual berhubungan badan. Sungguh sangat ironi memang sebuah makam yang menyimpan kisah romansa cinta sejati yang begitu melegenda justru digunakan untuk hal yang tidak patut. Kedepannya saya berharap, pemerintah setempat segera turun tangan dan menetapkannya sebagai situs cagar budaya dan mau merawatnya, agar kita semua khususnya generasi milenial dapat berkunjung dan belajar sejarah darinya, serta agar makam tersebut tidak hancur dan hilang terkubur oleh arus modernisasi.