Sartono Kartodirjo: Sang Guru Utama

Sartono Kartodirjo

“Hidup berarti rangkaian tugas, dedikasi, integritas, kesetiaan, kejujuran, profesionalisme, dan pertanggungjawaban sebuah panggilan”

-Collin Powell dalam buku My American Journey (1995)-

Quotes di atas saya kira sudah cukup menggambarkan pribadi seorang Aloysius Sartono Kartodirdjo yang menjadi suri teladan karena menghayati hidup dan profesinya sebagai panggilan untuk melakukan askese (mati raga) intelektual. Lahir di Wonogiri, Jawa Tengah pada 15 Februari 1921. Ia dibesarkan di lingkungan keluarga yang sangat memperhatikan pendidikan anak-anaknya. Tatkala belum genap satu tahun umurnya, Tjitrosarojo ayahnya yang bekerja sebagai pegawai jawatan pos di zaman kolonial, mengabulkan permintaan Sartono kecil untuk membawanya ke Candi Prambanan. Inilah untuk pertama kalinya seorang Sartono kecil berkenalan dengan peradaban masa lalu manusia sebelum kelak memenuhi takdirnya sebagai seorang Sejarawan.    

Perjalanan Intelektual

Selama duduk di bangku MULO (SMP sekarang) hingga lulus HIK Xaverius (SPG) di Muntilan, Magelang, Jawa Tengah, Sartono sangat menonjol pada nilai pelajaran sejarahnya. Buku pertama yang dibelinya yakni Vander Landsche Geschiedenis (Sejarah Tanah Air) terbitan JB. Wolters Batavia inilah agaknya membuat seorang Sartono semakin gandrung dalam belajar sejarah (Sumardianta, 2008).

Sartono mengawali kariernya sebagai guru SD di Salatiga, Jawa Tengah pada 1941-1945. Kemudian ia menikah pada 6 Mei 1948 dengan Sri Kadaryati, sesama guru pendidik yang dikenalnya tatkala mengungsi dari Semarang di zaman revolusi. Pada tahun 1950, suami istri ini pindah ke Jakarta. Sambil mengajar di SMA, Sartono juga nyambi untuk melanjutkan pendidikannya di Geschiedenis Richting (Jurusan Sejarah, FIB Universitas Indonesia sekarang). Di sana ia belajar mata kuliah Filsafat pada Beerling, Sejarah Kuno Arkeologi pada Bernet Kempers, Sejarah Indonesia dari GJ. Resink, dan Sosial Ekonomi pada DH. Burger.

Sartono kala itu menjadi satu-satunya mahasiswa jurusan sejarah yang tersisa. Sejawatnya, R.P. Soejono (ahli Praaksara) dan Boechari (epigraf) pindah ke Arkeologi. Dikarenakan Jurusan Sejarah nyaris merana dan kekurangan mahasiswa, Prof. Resink menyarankan Sartono untuk pindah ke Jurusan Ekonomi saja. Namun Sartono justru bergeming dan menolaknya, ia tetap pada pendiriannya untuk menjadi mahasiswa Jurusan Sejarah apa pun yang terjadi. Perjuangannya pun membuahkan hasil pada tahun 1956, akhirnya Sartono lulus sebagai sarjana sejarah pertama UI dengan skripsi berbahasa Belanda yang mengangkat tentang perbandingan masyarakat Eropa pertengahan dan modern yang mana skripsinya ini kemudian dibukukan penerbit Gramedia Utama pada tahun 1986.

Baca Juga  Krisis Fashoda: Puncak Sengketa antara Inggris dan Prancis di Afrika (1898)

Pasca lulus dari UI, Sartono pun mendapat pekerjaan di MIPI (LIPI sekarang) dan juga mendapat kesempatan untuk mengajar di UGM. Kemudian pada tahun 1962, Sartono mendapatkan beasiswa S2 dari The Rockefeller Foundation untuk studi di Jurusan South Asian Studies, Yale University, Amerika Serikat di bawah bimbingan Prof. H.J. Benda hingga mendapat gelar M.A pada tahun 1964. Karena kagum atas keintelektualan Sartono, Prof H.J. Benda pun merekomendasikan Sartono untuk melanjutkan studi doktoralnya ke Universitet Amsterdam untuk dipromotori oleh Prof. W.F. Wertheim. Hingga pada 1 November 1966, Sartono berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul The Peasant Revolt of Banten in 1888, Its Condition, Course and Sequel, A Case Study of Social Movement in Indonesia dan lulus dengan predikat cumlaude.

Keberhasilannya ini tentu diraih dengan kerja keras. Sejak penyusunan kerangka teoritis konseptual sampai pembuatan indeks disertasi dilambari spirit ketekunan, ketelitian, ketegaran, ketabahan, akurasi dan presisi tinggi scholar Jawa gemblengan Amerika Belanda. Mesu Budi (disiplin dan pengendalian diri) yang merupakan pesan etis dari Serat Wedhatama karya KGPAA Mangkunegara IV tampaknya benar-benar berakar dalam diri seorang Sartono. Perhatian Sartono terhadap gerakan kaum petani merupakan pertemuan banyak hasrat. Sebelum ke Amerika Serikat, Sartono sebenarnya sudah terpikat terhadap gerakan Mesianisme atau gerakan Ratu Adil. Ia begitu terpincut tatkala kuliah ekonomi pada D.H. Burger.

Sejak Seminar Nasional Sejarah Indonesia I pada 1957, ia begitu tertarik untuk menuliskan sejarah nasional yang mengedepankan peranan dan derajat integrasi bangsa Indonesia. Tidak ada jalan yang lain kecuali menampilkan strata bawah atau wong cilik bangsa Indonesia dan pemberontakan petani mempertemukan minatnya. Sartono menilai petani ini sebenarnya punya peran yang besar akan tetapi selalu dipandang sebelah mata. Di Cina, Vietnam, dan Meksiko contohnya gerakan petani justru menjadi lokomotif revolusi. Petani ini sebenarnya bukan non faktor dalam sejarah melainkan petani juga bisa menjadi aktor di panggung sejarah. Kaum petani merupakan segmen manusia luar biasa berkat kemampuan mereka melampaui kekejaman hidup yang senantiasa berpihak pada mereka.

Baca Juga  Pedang Terhunus Jepang di Timor

Dua tahun (1964-1966) di negeri Belanda merupakan episode penting dalam hidup Sartono sekaligus gemblengan api pencucian (purgatori) di kawah Candradimuka. Pulang ke Tanah Air sebagai manusia baru (hominus novi) yang siap untuk berkontribusi dalam bidang kesejarahan secara profesional dan berbakti kepada Negara Indonesia.

Sartono adalah sejarawan pertama Indonesia yang menerapkan konsep dan metodologi ilmu sejarah yang dikembangkan kelompok atau mazhab Annales. Ia menjadikan jurusan Sejarah UGM sebagai basis untuk menyebarkan konsep dan metodologi baru ilmu sejarah tersebut. Oleh karenanya sangat pantas apabila Sartono disebut sebagai pembaharu historiografi Indonesia. Bobot akademisnya mendapat pengakuan nasional sehingga ia dikukuhkan sebagai Guru Besar Ilmu Sejarah Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada pada tahun 1967.

Selain itu Sartono juga banyak menulis karya-karya kesejarahan yang luar biasa. Tercatat ada sekitar 318 karya yang pernah beliau telurkan di antaranya adalah Protest Movement in Rural Java: A Study of Agrarian Unrest in the Nineteenth and Early Twentieth Centuries (1973), Pemikiran dan Perkembangan Historiografi Indonesia Suatu Alternatif (1982), Ratu Adil (1984), Pengantar Sejarah Indonesia Baru 1500-1900: Dari Emporium sampai Imperium Jilid I (1987), Pengantar Sejarah Indonesia Baru: Sejarah Pergerakan Nasional Jilid II (1989), Indonesian Historiography (2001), dan masih banyak lagi karya lainnya.      

Pada tahun 1999 Pemerintah RI memberikan Sartono tanda jasa tertinggi yakni gelar bintang Mahaputra. Kemudian pada tanggal 14 November 2006, sewaktu diadakan Seminar Nasional Sejarah Indonesia VIII dan Kongres MSI VI di Jakarta, tak lupa juga Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) menganugerahkan Sartono gelar Guru Utama (Grand Maestro). Sungguh gelar yang sangat pantas didapatkan oleh beliau mengingat dedikasi dan jasa beliau terhadap kesejarahan di Indonesia begitu besar.             

Baca Juga  Garis Imajiner Yogyakarta: Tugu Golong Gilig

Kepergian Sang Guru Utama

Pada hari Jumat, 7 Desember 2007 pukul 00.45, Sang Guru Utama menghembuskan nafas terakhirnya. Sepanjang usianya yang hampir 87 tahun, Prof. Sartono tidak saja memberikan kita contoh ke publik sebagai Guru Utama Sejarawan Indonesia, tetapi juga memberikan teladan dan inspirasi untuk hidup asketis. Sang Guru Utama memang sudah berpulang, kendati demikian, sepanjang hidupnya ia selalu mengingatkan bahwa peradaban hanya dapat dijaga selama pengembangannya dilambari vitalitas dan moralitas tinggi. Bila moralitas kendur, peradaban pun akan runtuh yang mana biasanya ditandai dengan keserakahan dan perilaku tidak visioner telah mendatangkan keresahan, kekalutan dan bencana di sekujur negeri. Manusia sejatinya tidak akan pernah puas dengan apa yang dicapainya, mereka akan terus mengejar dan mengejar hingga akhirnya terjerumus dalam siklus materialisme abadi. Di sinilah letak relevansi gaya hidup asketik seorang Sartono Kartodirdjo berperan untuk mencegah hal tersebut. Selamat jalan Sang Guru Utama, Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo, M.A. terima kasih atas dedikasi dan jasamu dalam kesejarahan Indonesia, semoga masa depan kesejarahan Indonesia semakin cerah dan bisa berperan bagi kemajuan bangsa dan negara Indonesia. 

.

Penulis: Almas Hammam Firdaus

Editor: Fastabiqul Hakim