Sebelum 8 Maret 1942 di Kalijati

Jepang menjadi raksasa baru di Asia setelah kegemilangan mereka mengalahkan raksasa Eropa, Kekaisaran Rusia dalam perang berdurasi dua tahun itu. Dengan pesatnya, perkembangan Jepang dari banyak aspek salah satunya industri menandai keberhasilan Restorasi Meiji. Dalam kancah Perang Dunia yang selaras dengan hasrat Jepang untuk menganeksasi Cina, Jepang dijuluki The Big Five dengan melumat pangkalan Jerman di Tsingtao dan beberapa daerah Pasifik lainnya. Hubungan Jepang dan Belanda yang “mesra” sejak era VOC turut mempengaruhi Hindia Belanda. Di masa malaise (depresi besar), Jepang mampu menjadi penyelamat rakyat dengan penetrasi ekonominya yang menjadi pesaing berat orang Cina peranakan di Hindia Belanda dengan membuka toko-toko dengan harga yang terjangkau saat harga barang melambung tinggi.

Setelah insiden 1854, Jepang mencoba memplagiasi cara barat dengan melakukan modernisasi perekonomian, perindustrian, dan perdagangannya. Cendekiawan Meiji menyarankan dua hal yakni migrasi ke utara (Hokushin) dan selatan (Nanshin). Jepang yang sudah sempit akibat ledakan penduduk dan negara yang mulai maju harus mencari daerah pemasaran baru. Nanshin dipilih berdasar pengalaman kolonialisme barat yang menunjukkan daerah itu kaya akan sumber alam yang kaya dan penduduk yang padat sehingga sangat potensial sekali. Alasan migrasi orang Jepang juga diperkuat dengan mitos daerah selatan yang tetap terpelihara hingga ekspedisi di masa shinsen sampai konsep nanshin-ron di Zaman Edo.

Dibarengi dengan semangat “Kemakmuran Asia Timur Raya” yang meletus di kemudian hari, Angkatan Perang dan Industri Angkatan Perang Kekaisaran Jepang pun bersiap menghadapi segala sesuatunya. Dalam urusan teknologi kemiliteran, Jepang mampu mengimbangi pesatnya sekutu mereka dengan beberapa kemajuan. Angkatan Laut Jepang (Kaigun) berhasil menyamai raksasa laut Inggris dengan mencipta beberapa model yang serupa dari berbagai jenis kapal. Angkatan Darat Jepang (Rikugun) sebagai pemimpin pun tak kalah, mereka berhasil menciptakan berbagai persenjataan dari senapan hingga tank ringan. AD dan AL kekaisaran berhasrat menguasai dunia dengan semangat Hakko Ichiu membuktikan moral dan pengabdian yang tinggi bagi kaisar dan negara.

Baca Juga  Sejarah Kaum Mu’tazilah, Pelopor Rasionalisme Islam
Kejatuhan Palembang dan Kilang Minyak Plaju oleh Angakatn Darat Nippon, 14-15 Februari 1942 (Sumber Foto: Forum Axis History)

Jepang pun masuk dalam grup fasis bersama Jerman dan Italia di masa Konoe (1940) yang sama-sama mengingini kejayaan masa lampau terulang kembali. Amerika Serikat akhirnya benar-benar mengembargo minyak Nippon. Setelah kekonyolan Jepang yang gagal di Nomonhan, Mongolia atas Soviet dan bertele-telenya perang dengan Cina yang melelahkan di Wuhan terus Chongqing membuat Angkatan Perang Jepang membidik Nanshin. Jepang mampu menganeksasi Indocina 1940, tanpa masalah berarti. Setelah hancurnya Pearl Harbor 1941, Jepang mengarahkan Kaigun yang telah siap di Formosa (Taiwan) ke arah selatan lewat Filipina. Sementara itu, dari Indocina Angkatan Darat dengan cepat melumat Inggris di Malaya dan mengembangkan sayap mereka ke India lewat bantuan Thailand dan Pemerintahan Anti-Inggris India.

Minyak merupakan komoditi yang paling diinginkan Jepang. Secara kebetulan, Kaigun menyerang posisi KNIL di Tarakan dan Manado 11 Januari 1942 satu bulan setelah penyerangan Pearl Harbor. Sementara itu, di Singapura Februari 1942 lewat usaha Yamashita yang bergelar “Harimau Malaya”. Belanda memulai tahap evakuasi di Cilacap bilamana mereka akan dikalahkan. Setelah pertempuran Laut Jawa yang “menyantap” Karel Doorman dalam de Ruyter, Angkatan Darat ke-16 mampu mendarat di Jawa dan dengan cepat seperti petir membuat KNIL dan Pasukan ABDA bertekuk lutut di Kalijati, Subang yang terkenal sebagai pangkalan udara KNIL (Luchtvaart). Di lain sisi, pribumi dalam Volksraad sebelumnya juga menampilkan berbagai reaksi pro-kontra pada agresor Jepang terkait rencana wajib militer dan pengadaan peralatan militer sebanyak 200 dolar pada AS di kurun waktu 1942. Misi Menperindag Kobayashi gagal 1940, menjadi semangat bagi Nippon membantai mantan kawannya dalam kurun watu dua bulan saja!.

.

Penulis: Muhammad Ath Thaariq

Baca Juga  Akhir Kisah Cinta Sang Paduka: Sunan Amangkurat I, Rara Oyi, dan Pangeran Anom

Editor: Fastabiqul Hakim