Sebuah Kisah tentang Tiga Wanita Perkasa dari Bumi Jepara

“Sampai kapanpun, kemajuan perempuan itu ternyata menjadi faktor penting dalam peradaban bangsa”

R.A. Kartini

Bumi Jepara ternyata tak hanya terkenal akan seni ukirnya semata, namun juga terkenal akan keperkasaan tokoh wanitanya pada masa lampau yang terukir indah dalam tinta emas sejarah Nusantara. Ini menjadi bukti bagaimana wanita pada masa itu telah memiliki peranan yang penting dalam membangun peradaban sekaligus membantah dan menepis anggapan bahwa wanita itu tugasnya hanya di sumur (mencuci dan bersih-bersih), dapur (memasak), dan kasur (melayani suami dan melahirkan anak) semata. Tercatat ada tiga tokoh wanita dari bumi Jepara yang memegang peranan penting dalam memajukan peradaban pada masanya. Mereka adalah Ratu Shima “Sang Pembeda dengan Keadilannya”, Ratu Kalinyamat “Sang Srikandi dengan Patriotismenya”, dan R.A. Kartini “Sang Pencerah dengan Pelita Ilmu dan Pembuka Tabir Harkat Kaum Wanita”. Ketiganya bagai diutus oleh Yang Maha Kuasa untuk menjadi peletak dasar dan lambang emansipasi di masanya masing-masing.

Ratu Shima  “Sang pembeda dengan Keadilannya”

Pada tahun 611 M, diwilayah yang sekarang disebut dengan Banyuasin, Sumatra Selatan lahirlah seorang anak wanita yang kelak akan menjadi penguasa yang memiliki pengaruh yang besar. Anak wanita ini bernama Shima, ia merupakan anak dari seorang pemuka agama Hindu Syiwa. Pada tahun 628 M, saat usianya masih 17 tahun, ia diperistri oleh Pangeran Kertikeyasingha yang merupakan putra mahkota Kerajaan Kalingga (juga keponakan dari penguasa Kerajaan Melayu Sribuja karena ibunya merupakan adik dari penguasa Kerajaan Melayu Sribuja). Setelah menikah, Shima akhirnya diboyong suaminya ke Kalingga yang pada masa itu pusatnya berada di kawasan pantai utara Jepara. Beberapa sumber sejarah juga ada yang meriwayatkan bahwa Shima sempat tinggal di daerah dataran tinggi yang disebut dengan Adi Hyang atau dikenal sebagai Dieng sekarang.

Pada tahun 648 M, ayah Pangeran Kartikeyasingha yang merupakan raja Kalingga wafat. Kemudian Pangeran Kartikeyasingha pun naik tahta menggantikan ayahnya sebagai Raja Kalingga. Mulai saat itulah peran permaisuri Shima dalam politik mulai kelihatan. Buah pernikahan Shima dengan Kartikeyasingha melahirkan dua orang anak, yaitu Parwati dan Narayana (Iswara). Lalu untuk mempererat persahabatan dengan Kerajaan Galuh Purba, Putri Parwati kemudian dijodohkan dengan Pangeran Amara (Mandiminyak), anak dari Raja Galuh Wretikandayun.

Setelah 26 tahun memerintah Kalingga, tepatnya pada tahun 674 M Raja Kartikeyasingha wafat. Karena penerusnya, yakni Pangeran Narayana (Iswara) masih kecil, maka dari itu Ratu Shima akhirnya yang diputuskan naik tahta menggantikan suaminya dengan gelar Sri Maharani Mahissasuramardini Satyaputikeswara. Meskipun diperintah oleh seorang wanita, Kalingga benar-benar mencapai puncak kejayaannya.

Pada era Ratu Shima, pelabuhan milik Kalingga menjadi salah satu pusat perdagangan paling sibuk di Jawa, yang menjadi tempat lalu lintas perdagangan banyak orang dari berbagai bangsa. Bahkan, Kalingga telah menjalin relasi dalam bidang perekonomian dengan Kekaisaran Cina (menurut catatan Dinasti Tang dan catatan I-Tsing). Selain itu dalam bidang pertanian, Kalingga memakai sistem Subak (sistem yang hingga kini juga diterapkan petani-petani di Pulau Bali). Dalam bidang hukum, Ratu Shima juga sangat tegas dan adil. Barangsiapa yang terbukti melakukan perbuatan yang melanggar hukum, maka akan dihukum dengan hukuman yang setimpal tidak peduli dari kalangan apapun tanpa pandang bulu. Ada kisah unik yang tercatat dalam catatan Cina yaitu Raja Ta-Shih (Da-Zi) penasaran mendengar tentang keadilan dan ketegasan Ratu Shima. Raja Ta-Shih dalam kunjungannya ke Kalingga secara diam-diam meletakan sekantong emas di tengah persimpangan jalan dekat alun-alun.

Baca Juga  Tan Malaka: Bapak Bangsa yang Terlupakan

Namun, karena rakyat Kalingga terbiasa jujur dan patuh pada hukum Kerajaan Kalingga, kantong berisi emas itupun tak bergeser sedikitpun dari tempatnya. Tak ada seorang pun yang berani menyentuhnya. Hingga pada suatu hari, Pangeran Narayana (putra Ratu Shima) berjalan melewati lokasi sekantong emas tersebut berada. Sang Pangeran tak sengaja menyentuh kantong tersebut, membuat kantong itu terbuka dan membuat isinya keluar. Sontak situasi menjadi gaduh, karena Sang Pangeran telah menyentuh sesuatu yang bukan miliknya. Disinilah ketegasan dan kebijaksanaan Ratu Shima diuji. Pangeran Narayana adalah anak kandungnya, yang bahkan sudah dinobatkan sebagai putra mahkota. Tapi dharma harus tetap dijalankan, hukum harus ditegakkan tanpa pandang bulu.

Akhirnya Ratu Shima pun memutuskan menjatuhkan hukuman potong tangan kepada Sang Pangeran. Namun para Menteri dan rakyat mencegahnya karena dirasa hukuman tersebut sangat berlebihan. Akhirnya Ratu Shima pun mengganti hukumannya menjadi memotong jari kaki Pangeran Narayana yang menyentuh kantong tersebut (pendapat lain menyebutkan hanya ibu jari kaki Sang Pangeran yang dipotong).

Pada tahun 695 M, Kerajaan Kalingga berduka karena Ratu Shima, Ratu yang sangat dicintai oleh rakyatnya wafat. Walaupun Sang Ratu telah wafat tetapi dedikasi serta dharma baktinya pada Kerajaan Kalingga dan rakyatnya akan selalu diingat dan dikenang sepanjang masa.

Ratu Kalinyamat “Sang Srikandi dengan Patriotismenya”

Seusai Ratu Shima, sekitar 8 abad kemudian muncul lagi anak wanita yang nantinya juga akan memiliki pengaruh yang besar bagi Bumi Jepara. Anak ini lahir dengan nama Retna Kencono. Ia merupakan putri dari Sultan Trenggana (Raja Kesultanan Demak Bintoro). Saat usianya menginjak remaja, ia dinikahkan dengan Pangeran Hadiri/Pangeran Kalinyamat (Pemimpin Kalinyamatan/Jepara). Retna Kencono pun akhirnya diboyong suaminya ke Jepara.

Namun tak lama kebahagiaan pasangan ini terenggut. Bermula pada tahun 1549, yang mana Sunan Prawoto, Raja Demak keempat yang juga merupakan kakak Retna Kencono ditemukan tewas. Diketahui sang Raja meninggal karena dibunuh oleh utusan Arya Penangsang. Arya penangsang merupakan sepupu Sunan Prawoto yang menjadi Adipati Jipang. Saat itu, Retna Kencono menemukan Keris Kyai Betok yang menancap di tubuh jenazah Sunan Prawoto. Keris tersebut tidak lain adalah milik Sunan Kudus. Akhirnya Retna Kencono dan suaminya pun pergi ke Kudus untuk meminta penjelasan mengenai peristiwa tersebut. Namun, apa yang mereka dapatkan disana sungguh mengecewakan alih-alih keadilan atas kematian Sunan Prawoto. Sunan Kudus menerangkan bahwa Sunan Prawoto dimasa mudanya pernah membunuh Pangeran Sekar Seda Ing Lepen yang mana merupakan ayah Arya Penangsang. Sunan Kudus juga berujar bahwa sebenarnya dia sudah mencegah agar Arya Penangsang tidak membalaskan dendam, akan tetapi Sang Sunan tidak mampu mencegah karena dendam di hati Penangsang rupanya sudah tak mampu dibendung lagi.

Mendengar penuturan Sunan Kudus, Retna Kencono dan suaminya agaknya merasa kecewa. Akhirnya, mereka memutuskan untuk kembali pulang ke Jepara. Namun sayang ditengah jalan, anak buah Arya Penangsang mengeroyok keduanya. Tak disangka, akibat serbuan tersebut Pangeran Hadiri harus gugur, sedangkan Retna Kencono berhasil melarikan diri. Akibat kematian sang suami, Retna Kencono pun sangat terpukul dan bersumpah akan membalaskan dendam kepada Arya Penangsang. Untuk melampiaskan dendamnya dan meminta keadilan kepada Yang Maha Kuasa, Retna Kencono akhirnya memutuskan untuk bertapa telanjang (Tapa Wuda) di Gunung Danaraja (kawasan Desa Sonder sekarang). Ia bersumpah tidak akan menyudahi pertapaannya tersebut sebelum Arya Penangsang berhasil terbunuh (sumber Babad Tanah Jawa). Namun Tapa Wuda (Tapa Telanjang) ini sendiri bukanlah bertapa tanpa menggunakan busana, melainkan bertapa meninggalkan semua atribut kraton dan berpakaian seperti rakyat biasa.

Baca Juga  Soekarno dan Kecintaanya terhadap Karya Seni

Akhirnya keinginan Retna Kencono pun dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa, Arya Penangsang berhasil dibunuh oleh Danang Sutawijaya, putra dari Ki Ageng Pemanahan yang juga putra angkat Jaka Tingkir (Sultan Hadiwijaya). Setelah kematian Arya Penangsang, tepatnya pada tahun 1549, Retna Kencono mengakhiri pertapaannya dan bersedia menjadi Bupati Jepara kembali (karena ia tidak memiliki putra) yang mana posisi tersebut telah lama kosong setelah ditinggalkan. Setelah menjadi Bupati Jepara Retna Kencono pun bergelar Nimas Ratu Kalinyamat.

Dibawah kepemimpinan Ratu Kalinyamat, Jepara berhasil menjadi daerah yang maju dan berkembang pesat, serta menjadi Bandar pelabuhan yang besar di Pantai Utara Jawa. Selain itu, Sang Ratu juga tidak memfokuskan pada bidang pertanian semata, namun juga mengutamakan pada aktivitas pelayaran dan perdagangan dengan daerah seberang utamanya Malaka yang mana pada masa itu menjadi pusat perdagangan Internasional.

Pada tahun 1550, Sultan Johor menulis sepucuk surat kepada Ratu Kalinyamat yang mana isi surat tersebut menyatakan bahwa Portugis telah menguasai dan memonopoli perdagangan di Malaka, oleh karenanya untuk membebaskan Malaka dari cengkeraman Portugis. Ratu Kalinyamat diminta untuk membantu Sultan Johor untuk mengusir Portugis dari Malaka. Ratu Kalinyamat menjawab seruan surat tersebut dengan mengirimkan Armada lautnya yang meliputi 40 kapal perang dan 5.000 prajurit untuk bergabung dengan Pasukan Persekutuan Melayu. Gabungan pasukan tersebut lantas menyerang dari arah utara, namun sayang Portugis berhasil memukul mundur pasukan tersebut dan pasukan Jepara yang tersisa pun kembali ke Jawa.

Kemudian pada tahun 1573, Sultan Aceh meminta bantuan kepada Ratu Kalinyamat untuk menyerang Malaka yang dikuasai Portugis. Tanpa pikir panjang, akhirnya Sang Ratu menyanggupi permintaan tersebut dengan mengirimkan 300 kapal perang dan 15.000 pasukan. Namun pasukan tersebut tiba di Malaka terlambat dan baru tiba di Malaka pada bulan Oktober 1574 yang dimana waktu itu pasukan Aceh sudah porak-poranda di tangan pasukan Portugis. Dalam posisi terjepit akhirnya pasukan Jepara pun terpaksa harus melawan pasukan Portugis tanpa bantuan dari pasukan Aceh. Dan yang terjadi adalah pasukan Jepara tersebut mengalami kekalahan dan akhirnya yang tersisa ditarik pulang kembali ke Jepara.

Walau serangan tersebut gagal, akan tetapi Ratu Kalinyamat setidaknya membuktikan bahwa dirinya bukanlah seorang pemimpin wanita yang lemah. Bahkan Portugis mencatat dan menjulukinya sebagai “Rainha de Jepara, Senhora Poderosa e Rica, de Kranige Dame” yang artinya Ratu Jepara, seorang wanita yang kaya dan berkuasa, seorang perempuan pemberani.

Pada tahun 1579 Bumi Jepara berduka setelah Ratu Kalinyamat wafat, beliau merupakan seorang pemimpin wanita yang mempunyai visi yang luar biasa dan pemikirannya melampaui zamannya. Kepemimpinannya yang berhasil memajukan Jepara sangat membekas pada hati rakyatnya bahkan hingga kini tetap abadi. Sang Ratu akhirnya dimakamkan di samping makam suaminya Pangeran Hadiri di kompleks Masjid Mantingan, Jepara, Jawa Tengah. Dewasa ini demi mengenang kisah sejarah heroik Sang Ratu banyak masyarakat Indonesia yang mengusulkan Ratu Kalinyamat mendapat gelar Pahlawan Nasional. Hal ini tentu sangat beralasan, mengingat kisah perjuangan heroik beliau dimasa lalu yang berani melawan terhadap penjajahan Portugis di Malaka.

R.A. Kartini “ Sang Pencerah dengan Pelita Ilmu dan Pembuka Tabir Harkat Kaum Wanita”.

Pada akhir abad ke 19, Bumi Jepara kembali melahirkan tokoh wanita luar biasanya. Sang Tokoh ini lahir pada 21 April 1879 dengan nama Raden Ayu Kartini. Ayahnya adalah R.M.  Ario Sosroningrat yang merupakan Bupati Jepara dan ibunya adalah M.A. Ngasirah. Kartini muda hidup dalam budaya ningrat Jawa yang mana pada masa itu wanita sangat pasif dalam menjalani alur kehidupan. Dimana wanita pada masa itu tugasnya hanya di sumur (mencuci dan bersih-bersih), dapur (memasak), dan kasur (melayani suami dan melahirkan anak) semata. Pada zaman itupun perempuan tidak diperkenankan memperoleh pendidikan kecuali keturunan ningrat. Kebetulan karena ayahnya seorang ningrat, Kartini pun dapat mengenyam pendidikan di ELS (Europes Lagere School). Sayangnya, ia hanya dapat bersekolah hingga umur 12 tahun, sebab pada masa itu ada tradisi yang mengharuskan wanita Jawa pada usia tersebut hingga menikah harus tinggal dirumah.

Baca Juga  Raja Ali Haji: dari Melayu untuk Persatuan Indonesia

Selama sekolah di ELS, Kartini juga belajar bahasa Belanda. Oleh karenanya ia mahir berbahasa Belanda. Selama dirumah Kartini pun tetap belajar dan berkirim surat kepada teman-teman korespondensi dari Belanda, salah satunya Rosa Abendanon dan Estelle “Stella” Zeehandelaar. Bahkan beberapa kali tulisan Kartini dimuat dalam majalah De Hollandsche Lelie.   

Berkat rasa ingin tahu yang besar dan kemahiran berbahasa Belanda, Kartini selalu membaca surat-surat kabar, buku dan majalah-majalah Eropa dari situlah terlintas ide untuk memajukan perempuan Jawa dari segala keterbelakangan karena menurutnya seorang wanita pantasuntuk memperoleh persamaan, kebebasan otonomi serta kesetaraan hukum. Daya nalar Kartini makin matang ketika usianya menginjak 20 tahun, ketika Kartini membaca buku-buku karya Louis Coperus (De Stille Kraacht), Van Eeden, Augusta de Witt, Multatuli (Max Havelaar dan surat-surat cinta), serta roman-roman beraliran Feminisme. Berkat membaca buku-buku tersebut timbulah ketertarikan Kartini dengan pola pikir perempuan Eropa dan mulai memikirkan tentang ide emansipasi terhadap wanita Jawa. Sempat terbesit keinginan Kartini untuk melanjutkan pendidikan ke Jakarta atau ke Belanda, namun keinginan tersebut dilarang oleh orangtuanya.  

Pada 12 November 1903, saat usianya menginjak 24 tahun Kartini dipersunting oleh Bupati Rembang R.M. Ario Singgih Djojo Adhiningrat dan diboyong ke Kadipaten Rembang. Namanya pun berganti menjadi Raden Ajeng Kartini. Meski sudah menikah, Kartini tetap bersemangat untuk merealisasikan keinginannya yaitu memajukan kaum wanita dengan pendidikan dan mengangkat harkat martabat kaum wanita. Kartini pun memutuskan untuk menjadi guru dan mendirikan sekolah. Keinginan tersebut disambut baik oleh suaminya, Kartini memperoleh kebebasan dan didukung untuk mendirikan sekolah wanita disebelah pintu timur gerbang kompleks kantor Kadipaten Rembang.

Setahun setelah menikah Kartini dikaruniai anak laki-laki pada 13 September 1904 yang diberi nama Soesalit Djojoadhiningrat. Namun 3 hari kemudian, tepatnya pada 17 September 1904 Kartini wafat secara mendadak. Padahal 30 menit sebelum wafat, Kartini dalam keadaan yang sehat dan bugar. Ia hanya mengeluh sakit perut dan kemudian oleh suaminya dipanggilkan dokter berkebangsaan Belanda untuk memeriksanya. Namun bukannya membaik, Kartini malah kejang dan akhirnya wafat pada usia yang masih muda yakni 25 tahun di pangkuan sang suami tercinta. Hal tersebut tentu sempat menimbulkan banyak pertanyaan dan desas-desus akan kematian Kartini. Sejarah mencatat Kartini wafat karena Preeklampsia (komplikasi pada kehamilan yang ditandai dengan tekanan darah tinggi dan tanda-tanda kerusakan organ), namun sejumlah kalangan pun banyak menduga bahwa Kartini wafat karena diracun.

Akhirnya jenazah R.A. Kartini pun dimakamkan di daerah Bulu, Kabupaten Rempang, Jawa Tengah. Setelah kematian Kartini, surat-surat yang dikirim Kartini kepada teman-temannya dikumpulkan oleh Jacques Henrij Abendanon. Kumpulan surat tersebut akhirnya dibukukan dengan judul “Door Duisternis Tot Licht” atau dikenal dengan Habis Gelap Terbitlah Terang. Perjuangan Kartini membuahkan hasil, berkat surat-surat yang telah dibukukan tersebut telah mengubah pandangan banyak orang Jawa dan Belanda terhadap perempuan. Yayasan Kartini pun dibentuk pada tahun 1916 atas prakarsa van Deventer (seorang tokoh Belanda yang juga pencetus politik etis). Yayasan tersebut kemudian mendirikan sekolah Kartini yang ditujukan untuk kaum wanita di Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Madiun, Malang, dan Cirebon.

Pada tanggal 2 Mei 1964, Presiden Soekarno menetapkan R.A. Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional. Beliau juga menetapkan 21 April sebagai hari Kartini sebagai penghargaan atas sumbangsihnya dalam mengangkat harkat dan martabat kaum wanita. Selain itu nama Kartini juga diabadikan sebagai nama jalan di Indonesia dan Belanda. Tercatat ada empat jalan di Belanda yang memakai nama Kartini yaitu Kartinistraat di Utrecht, R.A. Kartinistraat di Venlo, Jalan Raden Ajeng Kartini di Amsterdam, dan Jalan Kartini di Haarlem.