Sejarah Inkarsunnah di Era Pertengahan Klasik Imam Syafi’i

Sejarah Inkarsunnah Islam
Gambar (Istimewa)

Imam Syafi’I adalah salah satu ahli hadis yang sangat mashur di abad kedua Hijriyah. Nama aslinya adalah Muhammad bin Idris bin Al-Abbas bin Utsman bin Syafi’i bin As-Saib bin Ubaid bin Abdu Yazid bin Hasyim bin Al Muthalib bin Abdul Manaf bin Qusayy bin Kilab. (Djazuli, 2005: 129)

Dari nasabnya saja dapat diketahui bahwa ia satu kakek dengan Rasulullah yakni Qussay dan Kilab.  Ia lahir pada tahun 150 H di Gaza Palestina dan wafat pada tahun 204 H di Mesir. (Suryadilaga, 2003: 86)

Semasa hidupnya, ia tak henti untuk selalu belajar hingga ia pun mendapat gelar Hasbirul Hadis (pembela hadis). Karyanya yang begitu terkenal antara lain qaul qadim, al-Umm, al-Buwaiti, al-Imla’, dan Mukhtashar Muzani. Banyak dari kalangan ulama maupun cendekiawan Islam yang merujuk kepada kitab karya Imam Syafi’I. Hal ini dikarenakan mereka sudah tidak meragukan lagi kecerdasan dari Imam Syafi’I.

Di akhir abad kedua atau di awal abad ketiga Hijriyah, menjadi tantangan sendiri bagi Imam Syafi dengan munculnya golongan paham inkarsunnah. Paham inkarsunnah sendiri merupakan orang-orang yang menolak atau mengingkari Sunnah (Hadis) sebagai hujjah atau sumber hukum Islam kedua setelah Al-Qur’an.

Kelompok ini mengklaim bahwa Al-Qur’an adalah satu-satunya sumber hukum Islam yang sah dan tidak ada duanya. Orang-orang inkarsunnah menurut imam Syafi’I  sendiri terbagi menjadi tiga kelompok dan masing-masing berbeda sikap.

Kelompok pertama, yakni di mana mereka menolak seluruh hadis-hadis Rasulullah dengan alasan sebagai berikut :

  • Al-Qur’an yang diturunkan oleh Allah menggunakan Bahasa Arab. Penggunaan Bahasa Arab yang baik maka, Al-Qur’an dapat dipahami dengan baik tanpa memerlukan penjelasan lain dari hadis-hadis Rasulullah.
  • Al-Qur’an adalah penjelas dari segala sesuatu sebagai mana dikutip dalam (QS An-Nahl: 89).

وَيَوْمَ نَبْعَثُ فِي كُلِّ أُمَّةٍ شَهِيدًا عَلَيْهِمْ مِنْ أَنْفُسِهِمْ ۖ وَجِئْنَا بِكَ شَهِيدًا عَلَىٰ هَٰؤُلَاءِ ۚ وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ

“(Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.”

Hal ini menjelaskan bahwasanya penjelasan Al-Qur’an telah mencangkup segalanya yang diperlukan umat Islam.

  • Hadis-hadis Rasulullah harus melalui proses periwayatan yang tidak menjamin bersih dari kekeliruan, kesalahan bahkan yang lebih parah adalah kedustaan. Oleh karena itu, nilai kebenaran dari suatu hadis bersifat zanni (tidak meyakinkan). Karena satusnya yang zanni tersebut, hadis tidak dapat dijadikan penjelas (mubayyin) dalam Al-Qur’an karena Al-Qur’an diyakini kebenarannya (qat’i). (Ensiklopedia Islam 2, 2002)
Baca Juga  Biografi dan Pemikiran Karel Steenbrink

Dari ketiga argumentasi tersebut, dapat dilihat kelompok ini menolak mentah-mentah hadis-hadis Rasulullah sebagai hujjah sumber hukum kedua. Prinsip mereka bahwasanya Sunnah tidak perlu ditaati ataupun diamalkan. Al-Qur’an adalah satu-satunya ajaran Islam bagi mereka untuk dijadikan hujjah.

Imam Syafi’I kemudian menjawab argumen-argumen kelompok inkarsunnah tersebut di antaranya :

  • Banyak sekali ayat Al-Qur’an yang mengatakan bahwa umat Islam harus menjauhi larangan Allah dan Rasul-Nya serta mematuhi segala perintah Allah dan Rasul-Nya. Sedangkan perintah dan larangan tersebut bisa diketahui setelah Rasulullah wafat melalui hadis-hadis. Maka dari itu, otoritas hadis-hadis sangat dibutuhkan sebagai hujjah sumber hukum kedua.
  • Jika menguasai Bahasa Arab sebagaimana Bahasa Al-Qur’an, maka orang akan tahu bahwa dalam Al-Qur’an diperintahkan untuk mengikuti Sunnah Rasulullah yang sudah diriwayatkan oleh para as-asidaqun ­(periwayat-periwayat terpecaya). Hal ini jelas terkandung dalam Al-Qur’an surah Jumuah ayat 2 dan surah Al-Ahzab ayat 34.
  • Al-Qur’an memberikan perintah dan larangan yang bersifat umum tanpa memberikan perinciannya. Hal itu akan berdampak kepada hamba Allah yang kebingungan melaksanakan perintah dan larangan Allah. Disinilah fungsi dari hadis-hadis Rasulullah.

Kelompok yang kedua dari golongan inkarsunnah adalah orang-orang yang menolak hadis-hadis Rasulullah yang tidak disinggung di dalam Al-Qur’an. Otoritas hadis-hadis Rasulullah di luar singgungan Al-Qur’an tidak dapat menentukan hukum baru. Sama dengan kelompok yang pertama, mereka berargumen bahwasanya Al-Qur’an sudah jelas menjelaskan segala sesuatu yang berkaitan dengan ajaran-ajaran Islam.

Sama halnya dengan kelompok yang pertama, Imam Syafi’I membantah argument tersebut. Dikatakannya bahwa tidak semua hadis bersifat zanni. Hadis bisa bersifat zanni jika proses perawiannya  zanni.  Namun adapula dari sekian banyak hadis yang zanni ada yang berifat qat’I jika hadis-hadis tersebut memenuhi persyaratan shahih dan hasan. Imam Syafi’I juga mengatakan bahwa kekeliruan dan kesalahan dalam periwayatan hadis tidak boleh dijadikan argumentasi dalam menolak otiritas hadis sebagai hujjah hukum Islam.

Baca Juga  Islam Van Afrika Selatan dan Memoar Syekh Yusuf Al Makassari (1652-1699)

Kelompok yang ketiga yakni orang-orang yang menolak hadis yang besifat ahad. Mereka hanya menerima hadis mutawawir. Hadis ahad adalah hadis yang diriwayatkan satu, dua atau lebih perawi yang tidak memenuhi syarat masyhur atau mutawawir. Hadis Ahad bemacam-macam tergantung dari proses periwayatannya ada yang shahih, hasan, dhoif, munkar, syadz bahkan maudhu’.

Alasan utama kelompok ini karena menurutnya hadis ahad termasuk hadis yang bernilai zanni. Maka dari itu, kebenaran yang datang kepada Rasulullah tidak dapat diyakini sebagaimana hadis mutawawir. Dalil qat’I hanya dimiliki ayat Al-Qur’an dan hadis-hadis mutawawir. Argument ini diperkuat dengan didasari ayat Al-Qur’an surah Al-Isra’ ayat 36 dan surah Al-Najm ayat 28.

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ ۚ إِنَّ ٱلسَّمْعَ وَٱلْبَصَرَ وَٱلْفُؤَادَ كُلُّ أُو۟لَٰٓئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔولًا

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (Q.S. Al-Isra’ : 36)


وَمَا لَهُم بِهِۦ مِنْ عِلْمٍ ۖ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا ٱلظَّنَّ ۖ وَإِنَّ ٱلظَّنَّ لَا يُغْنِى مِنَ ٱلْحَقِّ شَيْـًٔا

“Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuanpun tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan sedang sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran.”(Q.S.An-Najm:28)

Imam Syafi’I sebagaimana ulama lainnya memang mengakui bahwasanya hadis Ahad sifatnya zanni. Periwayatannya bisa saja mengalami kesalahan ataupun kekeliruan. Namun, jika hadis Ahad bisa memenuhi syarat shahih atau hasan maka hadis tersebut bisa dijadikan sebagai hujjah hukum Islam.

Mengapa hadis ahad yang shahih masih bersifat zanni? Karena tidak semua sahabat Rasulullah yang menghafal dan menerima pesan-pesan Nabi. Mereka adalah manusia yang mempunyai aktivitas hariannya masing-masing. Jika yang harusnya menjadi hujjah adalah hadis mutawawir, maka Rasulullah akan senantiasa mengumpulkan semua sahabatnya jika ingin memberikan pesan kepada umatnya.

Baca Juga  Sejarah Adalah Kunci Inspirasi Masa Lalu untuk Aspirasi Masa Depan

Argumentasi-argumentasi paham inkarsunnah yang dipatahkan oleh Imam Syafi’I telah berhasil membendung gerakan inkarsunnah dalam kurun waktu yang cukup panjang. Gerakan inkarsunnah pada masa Imam Syafi’I dalam catatan sejarah sangat sulit diidentifikasi. Hal ini karena Imam Syafi’I tidak menjelaskan siapa lawan diskusinya tersebut.

Seorang ahli fiqih Mesir bernama Khudari Bek mempunyai asumsi bahwasanya orang-orang inkarsunnah di zaman Imam Syafi’I adalah kalangan Muktazilah. Asumsi Khudari ini berdasarkan isyarat Imam Syafi’I yang menunjukkan bahwa mereka adalah orang Basra. Basrah adalah kota berkembangnya tokoh-tokoh Muktazilah.

Dalam catatan sejarah, kaum Muktzilah adalah kaum yang banyak sekali mengkritik ahluhadis. Berbeda pendapat dengan Khudari Bek, Muhammad Abu Zahrah yang juga seorang pakar fiqih dan ilmu kalam beramsumsi bahwa inkarsunnah bukan dari kaum Muktazilah melainkan orang-orang yang yang ingin menghacurkan Islam dari dalam. Karena menurut Zahrah, Muktazilah sendiri mengakui dan menerima hadis-hadis Rasulullah. 

Pada masa klasik sangat sukar untuk mengindentifikasi golongan inkarsunnah. Meskipun gologan ini sudah pupus di masa klasik, paham ini kembali muncul di abad modern yakni abad ke-19 dan abad ke 20 M. Tokoh-tokoh inkarsunnah tersebut yakni Taufiq Sidqi (Mesir), Gulam Ahmad Pahlevi (India), Rasyad Kahlifa (Mesir) dan Kassim Ahmad (Malaysia).

Selain tokoh-tokoh internasioanal, ada juga tokoh inkarsunnah dari Indonesia seperti Abdul Rahman, Moh, Irham, Sutarto, dan Lukman Sa’ad.  Kelompok ini sempat meresahkan masyarakat dan menimbulkan banyak reaski dari warga Indonesia hingga keluarlah surat keputusan dari Jaksa Agung No. Kep-169/J. A./1983 pada tanggal 30 September 1983 yang berisi tentang larangan aliran inkarsunnah di seluruh wilayah Indonesia.