Menelisik Eksistensi dan Sejarah Perkembangan Islam di Negeri Kanguru

sejarah islam di australia

Agama Islam menurut survei dari Pew Research Reports (2020) merupakan agama dengan jumlah pemeluk terbanyak kedua di dunia dengan jumlah pemeluk sekitar 1,9 Milyar pemeluk. Jadi tidak mengherankan apabila perkembangan dan eksistensinya selalu menarik untuk diperbincangkan, termasuk di Australia. Meskipun Islam di Australia sendiri hanya minoritas ditambah banyak juga teror-teror yang mengatasnamakan Islam yang memicu menggemanya persepsi Islamophobia dewasa ini di Australia, akan tetapi di sini tetap saja Islam di Australia tetap menarik untuk diperbincangkan bahkan memicu rasa penasaran. Menyoal mengenai Islam di Australia, bagaimana sejarah masuknya Islam di Australia? Bagaimana sejarah perkembangan serta eksistensi Islam di Australia? Tanpa berlama-lama mari kita simak sama-sama.

Masuknya Islam di Australia

Menyoal mengenai sejarah masuknya Islam di Australia sendiri, sebenarnya banyak pendapat yang berbeda-beda mengenai hal ini, seperti ada yang berpendapat bahwa Islam masuk pertama kali di Australia itu pada abad ke-9 Masehi (Tangngareng, 2010), ada juga yang berpendapat Islam masuk ke Australia pada abad ke-15 Masehi dibawa oleh para nelayan Muslim Bugis yang berkelana dengan perahu untuk mengumpulkan teripang (semacam siput laut) yang tak jarang juga menjualnya kepada orang Aborigin di Australia Utara, namun masih abu-abu apakah kedatangan nelayan Bugis ini membawa dampak terhadap religiositas orang Aborigin di Australia (khususnya Australia Utara) atau tidak sebab sampai hari ini belum ditemukan bukti yang benar-benar valid mengenai hal ini. (Kittani, 2005)

Pendapat terakhir sekaligus yang paling gamblang menjelaskan mengenai masuknya Islam di Australia ialah Islam masuk ke Australia pada 1860 oleh Dost Muhammad yang merupakan pedagang unta dari Pakistan. Mengenai dipilihnya Australia sebagai tempat untuk memperdagangkan unta di sini tentu saja mengingat unta ini sangat dibutuhkan mengingat kemampuannya yang mampu bertahan hidup di daerah gurun yang mana sangat cocok mengingat sebagian wilayah Australia terdiri dari gurun. (Tangngareng, 2010)

Baca Juga  Sejarah Serangan Umum 1 Maret dan Kontroversi yang Menaunginya

Perkembangan dan Eksistensi Islam di Australia

Pasca kedatangan pedagang unta dari Pakistan pada tahun 1860, pada periode selanjutnya berlanjut para imigran Muslim yang datang ke Australia dari berbagai Negara di antaranya imigran Muslim dari Afghanistan yang mana terdiri dari 2 gelombang yakni gelombang pertama dengan mengendarai unta dan gelombang kedua datang pada 1979 pasca invasi Uni Soviet ke Afghanistan. Pada gelombang kedua ini para orang Muslim Afghanistan dibawa oleh Inggris ke Australia dengan unta mereka dengan tujuan untuk dijadikan budak untuk membantu membangun perekonomian Australia. Demi mencegah komunitas Muslim ini eksis atau bahkan mengancam hegemoni orang kulit putih maka Inggris pun memberi kebijakan bahwa orang Afghanistan yang datang ke Australia tidak boleh membawa perempuan. Namun rupanya di sini mereka tak kehilangan akal, banyak orang Afghanistan yang kemudian menikahi perempuan kulit putih yang mana tentu sebelumnya telah diajak untuk berpindah keyakinan menjadi Muslim dan juga ada yang lain yang menikahi perempuan Aborigin. Sampai hari ini pun orang-orang keturunan Afghanistan masih dapat kita jumpai di Australia (khususnya di daerah Alice Spring), namun kebanyakan dari mereka tidak lagi berkeyakinan Islam dan sudah meninggalkan budaya Islam. (Saeed, 2003)

Selain imigran dari Afghanistan ada juga imigran lain yang berasal dari Lebanon yang mana terdiri dari 3 gelombang yakni gelombang pertama tahun 1880-an, gelombang kedua tahun 1947, dan ketiga tahun 1976 ketika terjadi perang sipil di Lebanon. Tak main-main para keturunan imigran dari Lebanon ini pada awal abad ke 20 ternyata banyak yang berkontribusi terhadap kehidupan publik di Australia (khususnya di Victoria) mengingat banyak orang keturunan Lebanon ini yang berpendidikan tinggi dan profesional.

Baca Juga  Tentara Asing Jepang dalam Perang Dunia II dari Asia Timur

Islam dapat berkembang di Australia tidak semata-mata hanya karena beberapa individu saja di sini namun tentu tak bisa dilepaskan dari komunitas-komunitas Muslim di Australia mengingat jika ditarik dari garis historis kedatangan orang atau imigran Muslim ke Australia, banyak dari mereka yang menetap di Australia dan membentuk komunitas-komunitas Muslim di sana. Nah, peran komunitas-komunitas Muslim ini bagi perkembangan Islam di Australia di antaranya pertama membentuk organisasi Islam di Australia yang berskala nasional yang mana ini berawal pada peristiwa tahun 1961 tatkala Imam Ahmad Shaka (pemimpin komunitas Muslim Adelaide) melakukan protes terhadap Pemerintah Federal Australia. Protes tersebut mengenai penyelenggaraan pernikahan Muslim yang mana berakhir dengan penolakan.

Penolakan itu membuat 10 komunitas Muslim di beberapa Negara bagian di Australia mengadakan rapat yang akhirnya tercapai kesepakatan mengenai pembentukan Federasi Perkumpulan Islam Australia (AFIS) pada 1975 yang kemudian pada 1976 namanya berubah menjadi Federasi Dewan Islam Australia (AFIC). Salah satu tugasnya di antaranya menyelenggarakan pernikahan bagi orang Muslim sesuai syariat Islam di Australia yang sempat menjadi polemik di awal. Selain AFIC ada juga organisasi lainnya yakni Federasi Mahasiswa dan Pemuda Muslim Australia (FAMSY) dan Pusat Wanita Islam (MWA). (Ambiah, 2019) Peran kedua yakni pembangunan masjid yang mana dari yang tertua yakni Masjid Adelaide yang berdiri sejak 1888 kemudian berkembang sekarang hampir di setiap kota di Negara bagian memiliki masjid. Ketiga, pembangunan lembaga pendidikan berbasis Islam yang mana bertujuan untuk mendidik anak-anak Muslim supaya tidak hanya cerdas dalam pengetahuan modern namun juga cerdas dalam pengetahuan agama (Islam).

Meskipun telah banyak upaya yang dilakukan umat Muslim di Australia untuk mengembangkan eksistensi Islam di Australia, namun sekali lagi minoritas tetaplah minoritas, mereka akan tetap terkekang oleh mayoritas. Tetap saja berbagai tantangan dan problematik harus siap mereka terima atas konsekuensi sebagai kaum minoritas di Australia. Di antaranya misalnya wanita Muslimah yang berjilbab di Australia akan sulit menerima pekerjaan di sana mengingat tidak sesuai SOP serta perspektif buruk terhadap wanita yang berjilbab apalagi yang bercadar. Kemudian tragedi Bom Bali tahun 2002 yang menimbulkan reaksi keras dari pemerintah Australia yang menganggap bahwa orang Muslim adalah teroris yang mana setelahnya menyebabkan munculnya persepsi Islamophobia di Australia yang mana agaknya masih menyeruak hingga dewasa ini. Namun yang perlu digaris bawahi di sini, meskipun menjadi minoritas di Australia, tak lantas membuat orang Muslim di Australia kehilangan nasionalisme mereka. Meski banyak ancaman dan tantangan yang menerpa, mereka tetap memiliki kecintaan dan loyalitas terhadap bangsanya.

Baca Juga  Pengaruh Terusan Suez terhadap Perdagangan Dunia Masa Kolonial (1869-1956)

.

Penulis: Almas Hammam Firdaus

Editor: Fastabiqul Hakim