Sejarah Kerajaan Funan, Mulai dari Kejayaan hingga Runtuhnya

sejarah kerajaan funan

Kerajaan Funan adalah kerajaan Hindu di Asia Tenggara pertama yang mendapat pengaruh dari India. Kerajaan ini diperintah oleh raja-raja yang mempunyai nama sanskerta. Kata Funan berasal dari ucapan China modern dari dua suku kata B’iun -nam. Diperkirakan kerajaan ini berdiri pada abad pertama tahun 75 masehi. Pusat kerajaan Funan berada di sepanjang sungai Mekong antara  Chaudoc dan Phnom penh. Bangsa Funan berasal dari bangsa Melayu, Wilayah kekuasaanya meliputi Vietnam selatan dan Kamboja.Ibu kota Funan Vyadhapura berarti ‘’kota pemburu’’,Terletak di bukit Ba phnom dan desa Banam di propinsi Prei yang sekarang wilayah Kamboja.

Menurut berita China, Funan berjarak 120 mil dari pantai. Funan mempunyai pelabuhan Oc-Eo berada di delta sungai Mekong di pantai teluk siam. Berperan sebagai pusat perdagangan internasional pertama di abad I. Kerajaan Funan adalah kerajaan berperadaban maju .Funan bukan kerajaan orang gua,melainkan kerajaan hebat yang operasi dagangnya menjajaki hingga kerajaan Roma dan Yunani.Pernyataan ini berdasarkan bukti artefak-artefak kuno Eropa yang terdapat di daerah Vietnam. Negeri ini terpotong-potong oleh terusan-terusan yang tidak terhitung jumlahnya.Funan terletak pada jalan raya lautan antara India dan China.Penduduk asli Funan berbahasa pre-Khmer Austro Asia yang pada zaman Funan berubah menjadi Khmer kuno.

Bukti sejarah tentang kerajaan Funan terdapat pada sumber-sumber China dan artefak peninggalan kerajaan Funan.seperti catatan pada prasasti .Sumber-sumber pertama yang membuktikan keberadaan kerajaan Funan adalah catatan China.Berita China tentang kerajaan Funan dari tulisan K’ang T’ai Bersama Chu-ying seorang utusan China yang  dikirim ke Funan pada abad ke III sebagai utusan dari China.Dari tulisan tersebut disebutkan pendiri kerajaan Funan oleh Kaundinya dalam China bernama Hun-t’ien.

Kaundinya berasal dari daratan India  semenanjung melayu atau  dari pulau-pulau di selatan.Kaundinya berasal dari keturunan Khuniska yang melakukan pelarian ke Funan. Disebabkan kerena adanya penaklukan India utara oleh Samudraghupta, raja kedua dinasti Ghupta. Kaundinya mendapat wahyu melalui mimpi untuk datang ke daratan  funan. Kaundinya mengalahkan penduduk dan menikahi putri dari pemerintah daerah setempat bernama Liu-yeh (Nagisoma) dan mendirikan dinasti selama 1 ½  abad.Raja-raja di negeri ini bergelar sebagai Sailenraj yang berarti ‘’raja-raja gunung’’. Kerajaan Funan berbasis agraris Penduduk di negeri Funan bekerja sebagai petani (bercocok tanam).

Zaman Kejayaan Kerajaan Funan

Funan mempunyai angkatan laut yang kuat sekali, sehingga dengan angkatan lautnya ia membajak diperairan Asia Tenggara. Setiap orang yang berlayar tinggal memilih menyerah, mati, atau menjadi budak belian. Menyerah berarti berlabuh di funan, membayar bea cukai dan memenuhi segala permintaan pera pembesar.

Lambat laun Funan memperluas daerahnya. Untuk itu selurah pantai daratan Asia Tanggara didirikan pangkalan dan benteng yang kuat. Funan menjadi sebuah iperium yang sangat kuat sejak didirikannya pangkalan laut dan benteng, dan sejak pertengahan Abad IV-V Funan menjadi sebuah Kerajaan yang menguasai perairan Asia Tenggara.

Sementara itu, perairan Indonesia yang dikuasai Funan dijadikan jalan lalu lintas rempah-rempah, binatang-binatang, kayu wangi (cendana), dan gading. Karena itu Funan dapat membinasahkan setiap kerajaan maritim yang akan berdiri didaerah peraiarannya. Akibatnya hanya daerah yang jauh dari jangkauan kerajaan Funan yang mampu bertahan sebagai kerajaan merdeka, seperti kerajaan Kutai dan Tarumanegara.

Adapun raja-raja yang pernah berkuasa di Funan antara lain, Kaundinya, Fan Shih Man, Fan Sun, Kaundinya Jayavarman, dan Rudravarman. Kaundinya adalah pendiri Funan, dinastinya berkuasa selama satu setengah abad.

Fan Shih Man adalah raja penakluk, memiliki banyak vassal, sehingga ia memerintah sebagai raja. Kekuasaannya sangat besar, ia membentuk angkatan laut yang menguasai perairan Asia Tenggara. Karena ia suka berperang akhirnya ia gugur sewaktu memimpin sebuah ekspedisi melawan kerajaan Chin Lin.

Pada masa pemerintahan raja Fan Sun, datang di istana Funan duta-duta dari China dan Marunda. Hubungan antara China dan Funan tetap erat sepanjang pemerintahannya hingga tahun 237 M. Pada tahun 268 dan 287 Funan mengirim utusan ke China.

Baca Juga  Sejarah Ideologi Konsumerisme

Menurut Liang History salah seorang penganti Chandan adalah seorang Brahmana dari India yang bernama Kiao-chen-ju, yang karena secara gaib pergi dan memerintah Funan. Menurut cerita ia di terima baik oleh rakyat yang memilihnya menjadi raja mereka. Kemudian merubah semua aturan-aturan sesuai dengan metode-metode India. Namanya diduga terjemahan cina dari nama “Kaundinya” dengan demikian cerita itu akan menunjukan pengembalian unsure Hindu didalam keluarga yang memerintah atas clan asli Funan, dibawah pemerintahannya pengaruh India cenderung menjadi lemah dengan adanya hubungan dengan kebudayan setempat.

Tidak ada tahun yang ditunjukan bagi pemerinyahan Kaundinya kedua ini, tetapi salah seorang pengantinya yang namanya mungkin berarti Sreshthevarman dilapotkan telah mengirim utusan ke kaisar Wen (425-453). Early Sung History menyebutkan utusan-utusan berikut tahun 434, 435 dan 438 dan dikatakan raja ini menolak membantu Lin-yi menyerang Tongking/ (Tonkin).

Raja Funan yang terbesar adalah Kaundinya Jayavarman. Ia meninggal pada tahun 514 M. Tahun permulaan pemerintahannya tidak diketahui. Yang diangkat sebagai agama resmi adalah agama Siwa, tetapi disampingnya agama Budha tetap hidup dengan damai. Jayavarman sendiri tidak meninggalkan prasasti, tetapi permaisuri serta putranya yang bernama Gunavarman masinh-masing meninggalkan prasasti berbahasa Sanskerta. Kedua-duanya menunjukkan sifat Siwaistis, terdapat bekas telapak kaki pada prasasti tersebut.

Raja Funan yang terakhir Rudravarman. Sesungguhnya ia tidak berhak menduduki tahta kerajaan, karena ia dilahirkan dari seorang selir. Ia berhasil menduduki tahkta kerajaan setelah membunuh calon raja yang sah (mungkin Gunavarman).

Antara tahun 517 dan 539 ia mengirimkan sejumlah utusan ke China. Ia meninggal sekitar tahun 550 M. Bersama dengan meninggalnya Rudravarman, di daerah Mekong Tengah timbul pergolakan yang dipimpin oleh dua orang bersaudara yaitu Bhavavarman dan Citrasena, yang akhirnya berhasil menggulingkan kerajaan Funan.Kerajaan Funan tak mungkin dihancurkan oleh kerajaan maritime yang lain. Yang menghancurkan Funan adalah kerajaan darat atau pedalaman yaitu Chenla (Kamboja yang bersifat agraris).

Peninggalan Sejarah Kerajaan Funan

Kebudayaan Kerajaan Funan

Budaya Funan adalah campuran kepercayaan asli dan ide-ide India. Kerajaan dikatakan telah sangat dipengaruhi oleh budaya India, dan telah mempekerjakan orang India untuk keperluan administrasi negara. Bahasa Sansekerta adalah bahasa di istana, dan orang-orang Funan menganjurkan agama Hindu dan, setelah abad kelima, agama Buddha. Catatan menunjukkan bahwa pajak dibayarkan dalam perak, emas, mutiara, dan kayu wangi.

Bukti arkeologis sebagian besar sesuai dengan catatan Cina. Orang Cina menggambarkan orang Funan sebagai orang yang tinggal di rumah panggung, menanam padi, dan mengirim upeti berupa emas, perak, gading, dan binatang eksotis.

Laporan Kang Tai tidak menarik bagi peradaban Funan, meskipun catatan pengadilan Tiongkok menunjukkan bahwa sekelompok musisi Funan mengunjungi Tiongkok pada 263 Masehi. Kaisar Cina sangat terkesan sehingga ia memerintahkan pendirian institut untuk musik Funanese di dekat Nanking. Orang-orang Funan dilaporkan memiliki koleksi buku dan arsip yang luas di seluruh negara mereka, menunjukkan tingkat prestasi ilmiah yang tinggi.

Dua biksu Buddha dari Funan, bernama Mandrasena dan Sanghapala, mengambil residensi di Cina pada abad ke-5 hingga ke-6, dan menerjemahkan beberapa sūtra Buddha dari Sanskerta (atau prakrit) ke dalam bahasa Cina. Di antara teks-teks ini adalah Mahayana Saptaśatikā Prajñāpāramitā Sūtra, juga disebut Mahāprajñāpāramitā Mañjuśrīparivarta Sūtra. Teks ini diterjemahkan secara terpisah oleh kedua biksu. Bodhisattva Mañjuśrī adalah tokoh terkemuka dalam teks ini.

Ekonomi Kerajaan Funan

Funan memiliki perekonomian yang cukup besar di Asia Tenggara. Ia menjadi makmur melalui perdagangan maritim dan pertanian. Kerajaan itu rupanya mencetak mata uang peraknya sendiri, dengan membawa gambar argus jambul atau burung hamsa.

Funan menjadi terkenal pada saat ketika rute perdagangan dari India ke Cina terdiri dari kaki maritim dari India ke Isthmus of Kra, bagian sempit semenanjung Melayu, portage melintasi tanah genting, dan kemudian sebuah perjalanan pelukan pantai oleh kapal di sepanjang Teluk Siam, melewati Delta Mekong, dan di sepanjang pantai Vietnam ke Cina. Raja-raja funani dari abad ke-2 menaklukkan pemerintahan di tanah genting itu sendiri, dan dengan demikian mungkin telah mengendalikan seluruh rute perdagangan dari Malaysia ke Vietnam tengah.

Baca Juga  3 Tokoh Filsafat Skolastik yang Pemikirannya Berpengaruh

Kerajaan Funan di Óc Eo, yang terletak di dekat Selat Malaka, menyediakan pelabuhan untuk rute perdagangan internasional ini. Bukti arkeologis yang ditemukan di tempat yang mungkin menjadi pusat komersial Funan di Óc Eo mencakup artefak Romawi serta Persia, India, dan Yunani. Sarjana klasik Jerman Albrecht Dihle percaya bahwa pelabuhan utama Funan, adalah Kattigara yang disebut oleh ahli geografi Aleksandria abad ke-2 Ptolemy sebagai emporium tempat para pedagang dari kekaisaran Cina dan Romawi bertemu untuk berdagang.

Dihle juga percaya bahwa lokasi Óc Eo paling sesuai dengan rincian yang diberikan oleh Ptolemy dari perjalanan yang dilakukan oleh pedagang Graeco-Romawi bernama Alexander ke Kattigara, yang terletak di ujung paling timur dari jalur perdagangan maritim dari Kekaisaran Romawi timur. Georges Coedès mengatakan: “Fu-nan menduduki posisi kunci sehubungan dengan rute perdagangan maritim, dan tak pelak lagi merupakan pelabuhan panggilan bagi para navigator yang melewati Selat Malaka dan bagi mereka – mungkin lebih banyak – yang melakukan transit lebih dari salah satu tanah genting Semenanjung Melayu. Fu-nan bahkan mungkin merupakan ujung perjalanan dari Mediterania Timur, jika Kattigara yang disebutkan oleh Ptolemy terletak di pantai barat Indocina di Teluk Siam “.

Selain perdagangan, Funan juga mendapat manfaat dari sistem pertanian canggih yang mencakup penggunaan sistem penyimpanan air dan irigasi yang rumit. Populasi Funanese terkonsentrasi terutama di sepanjang sungai Delta Mekong; daerah itu merupakan wilayah alami untuk pengembangan ekonomi yang didasarkan pada perikanan dan budidaya padi.

Peninggalan Kerajaan Funan

Jika dihitung dari prasasti yang direkam oleh Majumdar (1953), zaman kerajaan Funan-Chenla terdapat peninggalan kira-kira 200 buah prasasti (batu bersurat) yang 80 dari dalam bahasa Non-Khmer purba, dikatakan terdapat hubungan dengan bahasa Melayu Purba paling tua sekitar 531 Syaka/Saka/Shaka (=609M).

Prasasti zaman Funan sebenarnya (sebelum abad ke-6M) diceritakan oleh Muhammad Alinor (pengkaji gigih kemasyhuran Funan di UKM) hanya sebanyak 11 buah juga dalam bahasa Sanskrit dan Non-Khmer. Di antara prasasti Funan-Chenla itu ada simbol sifat yang paling tua (awal abad ke-7M), sekaligus kita boleh menyimpulkan sistem angka perpuluhan yang tertua di dunia dalam wujud prasasti zaman kemasyhuran Funan-Chenla ini kalaupun bukan zaman kerajaan Funan sebenar-benarnya.

Walau bagaimanapun,yang jelas bahasa pada prasasti Funan ialah Sanskrit dan Non-Khmer saja,dikemukakan oleh Sharan (1974) Funan mempunyai bahasanya sendiri (rumpun Melayu) yang menggunakan aksaranya sendiri (dipercaya diperkenalkan dari Saka atau Syaka, seorang Brahmin India di Funan) yang berasaskan aksara Sanskrit tersebut.

Runtuhnya Kerajaan Funan

Kerajaan Funan mengalami kemunduran pada akhir abad IV. Secara umum runtuhnya kerajaan Funan disebabnya beralihnya rute perdagangan Internasional dari jalur sutra ke jalur laut. Jalur sutra yang dahulunya melewati Asia tengah dengan pelabuhan-pelabuhan Funan menjadi tempat transit bagi perdagangan, kini mulai ditinggalkan. Dinasti Chin yang menguasai Cina telah kehilangan jalan perdagangannya melalui Asia Tengah.

Kekacauan di Asia Tengah telah menyebabkan Jalan Sutera yang biasa digunakan untuk membawa masuk barang-barang mewah dari barat tidak dapat digunakan lagi. Satu-satunya jalan yang terbuka saat itu adalah melalui jalan laut. Oleh karena itu Pemerintah Chin mulai berkonsentrasi terhadap perdagangan laut.

Dengan konstruksi kapal-kapal layar yang lebih baik, pihak China kemudian berhasil menemukan jalan laut yang baru melintasi Laut China Selatan terus ke Borneo (Kalimantan), Laut Jawa dan Selat Sunda.Jalan ini tidak lagi menyusuri pantai Vietnam dan Teluk Siam serta melintasi jalan darat di Segenting Kra yang rumit itu. Penemuan jalan baru ini telah mempertembungkan terus pedagang Cina bukan hanya dengan pedagang lokal Asia Tenggara tetapi juga pedagang-pedagang India yang memang telah lama berdagang dengan pelabuhan-pelabuhan Asia Tenggara di daerah itu seperti di Ho-lo-tan di Jawa dan Ko-ying di Selat Sunda.

Baca Juga  Neraka Itu Bernama Dien Bien Phu

Dengan adanya hubungan baru ini, pedagang-pedagang Asia Tenggara telah mengambil kesempatan mengadakan perdagangan langsung dengan Cina. Sebelum ini semua perdagangan dengan Cina dilakukan melalui pedagang dan pelabuhan-pelabuhan Funan. Dengan adanya perdagangan terus ini telah melumpuhkan sama sekali layanan transportasi darat menyeberangi Segenting Kra.

Kapal-kapal dari India dan Sri Lanka kini berlayar terus melalui Selat Malaka ke pelabuhan-pelabuhan di tepi barat Laut Jawa di mana mereka dapat berhubungan langsung dengan pedagang lokal dan Cina. Dalam waktu yang sama hasil-hasil dibumbui kepulauan ini juga mulai mendapat tempat dalam perdagangan internasional. Dengan tidak menggunakan jalan lintas Segenting Kra, Funan telah ditinggalkan. Perubahan jalan ke Selat Malaka dan tidak singgah di pelabuhan-pelabuhan Funan menyebabkan pemerintah Funan kerugian hasil pengumpulan pajak.

Selain itu, perubahanan jalan perdagangan ini telah memerosotkan hubungan diplomatik antara Tiongkok dengan Funan. Justru itu, ketika Funan meminta bantuan Cina untuk melawan Lin-yi pada 484 Masehi, permintaan itu tidak dilayani bahkan pada tahun 491 Masehi, Fan Tang yaitu pemerintah Lin-yi  telah dianugerahi gelar “Jenderal Penenteram Selatan, Pemerintah Tertinggi Urusan Militer Pesisir dan Raja Lin-yi “. Di sini telah jelas bahwa semenjak setelah pemerintahan Jayawarman, Funan sudah tidak penting lagi bagi China. Lin-yi yang baru dikembangkan oleh pengungsi dari Funan telah mengambil alih perannya pada akhir abad ke-5 Masehi. Kelemahan Funan ini semakin jelas terlihat ketika kegiatan bajak laut semakin merajalela di laut yang sebelumnya dibawah penguasaan Funan.

GD Hall, seoarang Sarjana Sejarah Asia Tenggara menyatakan bahwa, kegiatan bajak laut ini terjadi apakah efek daripada percobaan Funan untuk mempertahankan kekuasaan ke atas jalan kelautan itu dengan cara memaksa kapal-kapal singgah di pelabuhannya atau karena kelemahan Funan telah menyebabkan penduduk Melayu yang tinggal di pesisir menjadi bajak laut.

Kemiskinan kerajaan Funan untuk menjaga pelaut-pelaut Melayu telah menyebabkan mereka mencari pekerjaan yang lebih menguntungkan yaitu melanun.Sejarah Ban T’ang (618 – 906 Masehi) merupakan catatan resmi Cina yang terakhir menyebutkan tentang Funan. Ia menyatakan sebuah negeri bernama Chen-la (Kamboja) secara mendadak telah menawan Funan.

Pemerintah Funan pada waktu itu terpaksa melarikan diri ke selatan ke sebuah tempat bernama Na fou-na. Perwakilan terakhir Funan yang sampai ke Istana Cina adalah di sekitar paruh pertama abad ke-7 Masehi, yaitu pada zaman kerajaan T’ang. Setelah itu tidak ada lagi berita tentang Funan. Namun I-Tsing dalam pelayarannya ke India pada tahun 671-695 Masehi, menyatakan sedikit tentang Funan yaitu “setelah meninggalkan Campa dan mengarah ke barat daya akan tiba di negara Pan-Pan. Menurut kesimpulan coedes,peristiwa yang mucul berhubungan dengan dongeng Kauindinya mestinya tidak lebih kemudian Abad I Masehi.

Pada awalnya negara ini dikenal sebagai Funan. Ada kemungkinan besar pemerintah Funan ini hilang terus dari sejarah efek dari banjir besar yang melanda ibu kota dan kota-kota utamanya sekitar separuh pertama abad ke-6 Masehi.

Kejadian ini telah menyebabkan penduduknya terpaksa pindah ke tempat-tempat yang lebih tinggi di tengah Kamboja. Dan sekitar 550 Masehi, Raja Bharawarman dari pemerintah Chenla telah membuat wilayah Funan ini sebagai bagian dari wilayah kekuasaannya dan membentuk pemerintahan Khmer. Pemerintahannya antara kira-kira tahun 225-250. Beliau menerima kunjungan dari seorang pribumi india yang mengaguminya karena kekayaan negeri nya sehingga ia mengirimkan utusan yang sudah berangkat dari pelabuhan Takola di Semenanjung Melayu melalui lautan memasuki sungai Gangga sampai istana oleh Sylvain Levy disamakan dengan Murunda. Utusan ini tercatat tahun 240-245.

Sumber:

Coedes, George. 1966. The Making of South East Asia. Berkeley: University of California Press

D.G.E.Hall.1988. Sejarah Asia Tenggara. Surabaya:Usaha Nasional

Pelliot, Paul (1903). “Le Fou-nan”. Bulletin de I’École française d’Éxtrême-Orient.