Sejarah Perkembangan Filsafat Yunani Klasik, Dari Thales Sampai Kaum Sofis

Tanah Yunani merupakan tempat lahir dan berkembangnya pemikiran-pemikiran ilmiah, salah satunya filsafat. Pada abad ke-6 SM filsafat lahir di Yunani. Kata “filsafat” dan “filsuf” berasal dari bahasa Yunani yaitu philosophia dan philosophos. Kata philosophos berari pencinta kebijaksanaan. Filsafat berawal dari pertanyaan-pertanyaan dan kemudian mendefinisikan kembali pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Perkembangan filsafat di Yunani klasik tidak dapat dipisahkan dari kebudayaannya. Kebudayaan Yunani menjadi faktor lahirnya filsafat, seperti mitologi dan kesusastraan. Mitologi bisa disebut sebagai perintis filsafat, karena mitos-mitos yang ada memberi jawaban dari pertanyaan-pertanyaan manusia, seperti awal kehidupan, asal manusia dan lain-lain.

Berikutnya kesusastraan Yunani mendorong lahirnya filsafat, karya-karya sastra seperti puisi Homeros menjadi semacam pendidikan bagi masyarakat Yunani saat itu. Selain dipengaruhi oleh kebudayaannya, filsafat Yunani juga dipengaruhi sedikit dari budaya luar seperti Mesir Kuno dan Babylonia.

Perkembangan Filsafat di Miletos

Miletos menjadi kota pertama lahirnya filsafat. Kota ini merupakan pelabuhan yang menjadi pusat perdagangan antara dunia barat dengan dunia timur. Miletos memili peradaban yang cukup maju secara kebudayaan dan ekonomi di wilayah Iona. Ada beberapa alasan mengapa kota ini filsafat lahir di sana.

Pertama, Miletos yang sebagai kota pelabuhan membuat masyarakatnya lebih terbuka karena terbiasa melakukan kontak dengan bangsa lain. Kedua, kemakmuran Miletos, dan kekuasaan yang terletak di tangan kaum aristokrat pedagang, dan jaminan keamanan dari kerajaan lain, membuat mereka mempunyai banyak waktu luang untuk memuaskan keingintahuan mereka. Ketiga, masyarakat pesisir pelabuhan yang ramai, kepercayaan yang dianut oleh warga Miletos tidak begitu kuat. Hal ini membuat mudah saja bagi perkembangan mazhab filsafat di sana tanpa adanya gangguan doktin agama.

Masa Pra Socrates

Milatos melahirkan filsuf-filsuf dengan Mazhab Milesian. Mazhab ini banyak membahas tentang asal mula awal semesta. Filsuf pertama yang muncul yaitu Thales (640-550 SM). Ia merupakan pendiri Mazhab Milesian. Menurut Thales, yang menjadi arkhe (prinsip vital yang dapat menjelaskan semesta) adalah air, sebagai hasil permenungannya akan sesuatu yang dapat menyatukan keseluruhan.

Baca Juga  Lingkaran Wina: Gerakan dalam Bidang Filsafat untuk Mencapai Kebenaran Ilmiah

Ia memiliki gagasan yang agak ganjil, yang mengatakan, bahwa bumi mengapung di atas air. Menurutnya, air merupakan materi yang dapat dijumpai dalam beragam bentuk, dan mampu mentransformasikan diri, dan berdiferensiasi menjadi segala macam bentuk yang dapat dijumpai di alam material.

Filsuf kedua yaitu Anaximandros (610-546 SM). Ia merupakan seorang ilmuwan berbakat, dengan keahlian utama pada astronomi, dan kartografi. Ia merupakan orang Yunani pertama yang membuat peta bumi, dan orang Yunani pertama yang mempersiapkan peta bintang.

Menurut Anaximandros, yang menjadi arkhe adalah apa yang disebutnya sebagai, apeiron. Apeiron bersifat abadi, tak terbatas, dan tak dapat dilihat. Ia berpendapat, bahwa segala hal berasal dari apeiron, dan berproses dalam jalinan rumit dalam dua prinsip, yaitu panas/dingin, dan kering/basah. Apeiron berproses dalam ‘dialektika materiil’ tanpa henti, hingga menghasilkan dunia seperti yang tampak saat ini.

Filsuf Mazhab Milesian yang ketiga yaitu Anaximenes. Ia berpendapat udara yang merupakan arkhe. Segala hal berasal dari udara, yang terbentuk melalui proses kompresi, transformasi, dan pengudaraan kembali (rarefraction). Seluruh transformasi ini terjadi akibat panas/dingin, dan kering/basah. Anaximenes berpendapat, bahwa pemanasan/pendinginan bukanlah gejala dari arkhe, tetapi hanya sekadar agen perubahan saja.

Setelah filsuf dengan Mazhab Milesian, kemudian muncul Mazhab Pytagorean. Mazhab ini didirikan oleh Pytagoras. Ia lahir di Pulau Samos, lepas pantai Asia Minor, dekat dengan Miletos, dan Ephesios, sekitar tahun 570 SM. Dikatakan, bahwa ia sebelumnya merupakan murid dari Anaximandros.

Ia merupakan sosok pemikir terbesar semasa Pra-Sokratik. Hal ini mungkin diakibatkan oleh pengaruhnya yang cukup besar pada filsafat Platon, dan Aristoteles. Pytaghoras juga terkenal sebagai ilmuan matematika yang memegang peranan penting dalam komunitas matematika pada zamannya.

Bagi Pythagoras, semesta dalah keseluruhan, tanpa suatu akhir (telos); di mana kita (atau setidaknya jiwa kita) merupakan bagian darinya. Filsafat baginya, merupakan suatu usaha untuk mempelajari, dan memahami kosmos, di mana pada akhirnya, diharapkan filsafat merupakan jembatan bagi kebersatuan sang filsuf dengan kosmos. Kosmos dalam pemikiran Pythagoras merupakan sebentuk tatanan ‘bawaan’, atau pola kedalaman, yang mana dalam filsafat belakangan dikenal sebagai forma. Ini merupakan ide baru yang mana tidak terpikirkan sebelumnya oleh filsuf-filsuf Milesian yang berfokus hanya pada dunia material. Selain Pytagoras, terdapat juga Heraklitos.

Baca Juga  Mpu Sindok: Raja dari kerajaan Medang, Pendiri Wangsa Isana

Selanjutnya, muncul filsuf Mazhab Elea seperti Parmenides dan Zenon. Parmenides hidup sekitar tahun 515-445 SM. Parmenides menanggap alam pengalaman manusia sebagai sesuatu yang tidak eksis, dan bahwa kepercayaan normal kita akan adanya perubahan, kejamakan, dan bahkan diri kita sendiri, sebenarnya menyesatkan. Kemudian Zenon yang lahir di Eleates. Ia hidup dalam kurun 490-430 SM. Zenon merangkum seluruh pemikirannya pada sebuah bukunya yang terbit sekitar tahun 460 SM. Ia dikenal dengan pendapat-pendapatnya yang tidak lazim dalam argumentasi metafisika, dan semi-matematika.

Lalu terdapat kaum Pluralisme yang menyatakan bahwa realitas terdiri dari banyak unsur. Filsuf-filsuf pluralisme yaitu Empedokles dan Anaxagoras. Empedokles hidup pada perioda 490-430 SM. Ia merupakan seorang Sisilia. Pendekatan filsafatnya tentang unsur-unsur utama yang berbeda sangat berpengaruh di kemudian hari. Ia merupakan seorang yang pertama kali menggunakan teori tentang unsur.

Sedangkan Anaxagoras diperkirakan hidup sekitar tahun 500-428 SM. Gaya berfilsafat Anaxagoras, tidak terlalu menekankan aspek religiositas, dibandingkan filsuf-filsuf Elea, dan kaum pluralis lainnya. Ia memperkenalkan konsep baru yang sepenuhnya tidak material, sebagai arkhe, yaitu akal budi. Bentuk pluralisme yang ekstrem, di mana semua benda di dunia mengandung seluruh unsur benda lain, dalam proporsi tertentu.

Mazhab terakhir di era Pra-Sokrates yaitu Mazhab Atomisme. Atomis seperti Leukippos, dan Demokritos, meskipun mereka juga menuliskan berbagai hal lain, utamanya yang akan dibahas di sini adalah pandangan mereka tentang atom. Demokritos dan gurunya, Leukippos, berpendapat, bahwa atom adalah unsur-unsur yang membentuk realitas.

Di sini, mereka sepakat dengan pluralisme Empedokles, dan Anaxagoras, yang menyatakan, bahwa realitas terdiri dari banyak unsur, bukan satu. Akan tetapi, bertentangan dengan kaum pluralis, Demokritos menganggap bahwa unsur-unsur tersebut tidak dapat terbagi lagi. Karena itulah, unsur-unsur tersebut diberi nama atomos (yang tak terbagi). Atom-atom tersebut merupakan unsur-unsur terkecil yang membentuk realitas.

Baca Juga  Proses Terjadinya Perang Peloponnesos Pada Masa Yunani Kuno
Kaum Sofis

Periode filsafat Pra-Sokratik berakhir dengan kemunculan kaum Sofis. Sofisme yang marak di era demokrasi Yunani Kuno adalah cara berpikir dan berargumentasi yang rumit, canggih, sangat rasional dan pintar, tetapi sebenarnya palsu dan membuat orang bingung serta tidak tahu lagi mana yang benar atau salah. Sofisme identik dengan Relativisme.

Abad ke-5 SM di Athena ditandai oleh ajaran-ajaran kaum Sofis yang mengatakan bahwa ajaran moral dan norma hukum hanyalah konvensi masyarakat belaka. Itu sebabnya, sebuah nilai moral atau peraturan berbeda-beda seturut kesepakatan daerahnya. Ada sepuluh nama yang diasosiasikan dengan Sofisme: Protagoras dari Abdera, Gorgias dari Leontini, Prodikos dari Keos, Thrasymakhos dari Khalsedonia, Hippias dari Elis, Euthydemos dari Khios, Dionysodoros, Antiphon, Penulis Dissoi Logoi dan Anonim yang disebut oleh Iamblikhos.

Kaum Sofis menganut kebenaran versi Demokritos yang menegaskan, bahwa kebenaran yang hakiki tidak mungkin dicapai melalui pengetahuan manusia. Kebenaran menjadi relatif menurut Sofistisisme. Karena kebenaran merupakan sesuatu yang relatif, maka segala bentuk eidos (idea) tetap tentang to on akan dipertanyakan dengan skeptik.

Sumber:

K. Bertens. (1999). Sejarah Filsafat Yunani: dari Thales ke Aristoteles. Yogyakarta: Kanisius

Sandy H. (2016). Pijar Filsafat Yunani Klasik. Bandung: PSIK ITB

Setyo Wibowo. (2016). Pengantar Sejarah Filsafat Yunani: Platon. Makalah Kelas Filsafat

Setyo Wibowo. (2016). Pengantar Sejarah Filsafat Yunani: Sofisme. Makalah Kelas Filsafat