Sejarah Runtuhnya Negara Yugoslavia

Sejarah Runtuhnya Negara Yugoslavia

Yugoslavia atau lengkapnya yaitu Republik Federasi Rakyat Yugoslavia merupakan negara yang didirikan oleh Joseph Broz Tito pada 14 Januari 1953. Nama “Yugoslavia” sendiri dalam bahasa lokal artinya “tanah orang-orang Slavia “. Hal tersebut karena kelompok etnis utama yang hidup di Yugoslavia memang merupakan kelompok etnis Slavia.

Meskipun demikian, negara yang pernah eksis di benua Eropa sebelah tenggara ini merupakan negara multi-etnis dan multi-agama. Etnis-etnis tersebut terbagi kedalam beberapa negara bagian yang menyusun negara Yugoslavia, yaitu Serbia, Montenegro, Kroasia, Slovenia, Macedonia, dan Bosnia-Herzegovina serta dua daerah otonomi didalam Serbia yaitu Kosovo dan Vojvodina.

Etnis-etnis tersebut sebenarnya memiliki sejumlah perbedaan besar yang disatukan lewat kesamaan sejarah. Etnis Serbia dan Macedonia yang menganut Kristen Ortodok, etnis Kroasia dengan mayoritasnya penganut Katolik, dan etnis Bosniak yang mayoritas beragama Islam. Selain itu juga terdapat etnis Albania yang bukan merupakan kelompok etnis Slavia dengan populasi mereka terkonsentrasi di daerah Kosovo. Keragaman etnis ini pada satu sisi membuat Yugoslavia menjadi negara yang unik & beragam. Namun di sisi lain, hal tersebut membuat Yugoslavia sangat rawan akan timbulnya konflik.

Yugoslavia di bawah kepemimpinan Presiden Joseph Broz Tito tumbuh menjadi negara yang kuat dan makmur. Ia digambarkan sebagai sosok patriot sebagai simbol yang mempersatukan Yugoslavia. Pemerintahan dibentuk dengan sistem partai tunggal yakni Partai Savez Komunista Jugoslavije (Partai Liga Komunis Yugoslavia).

Joseph Broz Tito  menjalankan pemerintahan secara otoriter dengan kontrol yang ketat. Segala sentimen berbau etnis dikekang dan dilakukan propaganda secara besar-besaran dengan slogan “persatuan dan persaudaraan”. Sebagaimana khasnya rezim-rezim otoriter lain di dunia,Polisi rahasia dan militer juga dikerahkan untuk mengatasi pihak-pihak yang tidak sejalan dengan rezim Broz Tito. Dengan upaya-upaya tersebut konflik etnis di Yugoslavia sementara dapat diredam.   

Baca Juga  Gerakan September Tiga Puluh

Pada kancah internasional, Yugoslavia awalnya memiliki kedekatan dengan Uni Soviet sebagai sesama negara komunis. Namun hubungannya dengan Uni Soviet dan negara-negara komunis Eropa Timur lainnya mulai renggang sejak 1948. Selanjutnya, Yugoslavia memilih sikap netral dalam menghadapi perang dingin antara Soviet dan Amerika. Bahkan, Yugoslavia merupakan salah satu negara yang pada 1961 menginisiasi berdirinya Gerakan  Non-Blok bersama Indonesia, Mesir, Ghana, dan India.

Sayangnya sepeninggal Joseph Broz Tito, tidak ada lagi figur yang cukup kuat sebagai pemersatu Yugoslavia. Yugoslavia mengalami kemunduran dengan semakin memburuknya ekonomi serta kesenjangan sosial antar negara bagian. Krisis kian parah karena tidak adanya pemerintahan yang kuat sehingga membuat konflik-konflik etnis kini tak mampu lagi diredam.

Pada 1987 Slobodan Milosevic terpilih menjadi presiden negara bagian Serbia. Kebijakannya yang menginginkan Yugoslavia menganut faham sentralistik dibawah kekuasaan Serbia membuatnya banyak ditentang oleh negara bagian lain. Pada tahun 1990 Serbia memproklamirkan Republik Serbia Raya sebagai pewaris dari bekas Yugoslavia. Sebuah tindakan yang tentu saja memperpanas situasi sehingga banyak wilayah lain yang memisahkan diri yang menjadi awal dari perang sauara Yugoslavia.

Pada 25 Juni 1991 Kroasia memproklamirkan kemerdekaan. Peristiwa ini direspon Serbia dengan mengerahkan tentara Federal untuk menyerang Kroasia. Perang berlangsung sengit karena Serbia mendapat bantuan dari Inggris, sedangkan Kroasia mendapat bantuan dari Jerman.

Pada tanggal 25 Juli 1991 giliran etnis Slovenia dan etnis Macedonia yang memisahkan diri pada Republik Serbia Raya. Namun Kemerdekaan kedua negara ini berlangsung secara damai tanpa adanya perang saudara dari para tetangganya. Hal tersebut karena penduduk Slovenia yang relatif homogen dianggap tidak akan membahayakan penduduk Serbia. Sedangkan Macedonia merupakan daerah termiskin di Yugoslavia yang dinilai tidak akan memberi banyak keuntungan.

Baca Juga  Aksi Spionase Australia terhadap Indonesia pada Tahun 2009

Keadaan semakin tidak terkendali setelah pada Januari 1992 Bosnia-Herzegovina memproklamirkan kemerdekaan mereka dari Serbia Raya. Dengan lepasnya Bosnia-Herzegovina, maka bekas wilayah Yugoslavia kini hanya tinggal Serbia dan Montenegro. Bosnia-Herzegovina merupakan wilayah yang unik dengan terdiri dari tiga etnis yaitu etnis Bosnia yang beragama Islam sebanyak 43,7%, etnis Kroasia yang beragama Kristen Ortodoks Timur sebanyak 31,4%, etnis Kroasia yang beragama Katholik Roma sebanyak 17,3 % dan sisanya berasal dari etnis lain. Kemerdekaan ini ditentang oleh Serbia yang didukung oleh Republik Serbia Raya, yang selanjutnya mengerahkan pasukannya untuk menggempur Bosnia. Perang saudara semakin tidak menentu manakala terjadi perang segitiga antara Serbia-Kroasia dan Bosnia.

Peperangan semakin kacau setelah penduduk etnis Serbia yang tinggal di Bosnia menolak kemerdekaan Bosnia-Herzegovina. Mereka kemudian membentuk negara terpisah dengan bantuan Tentara Federal Serbia Raya yaitu bernama Republik Srpska. Perang di Bosnia-Herzegovina berlangsung antara 1992 hingga 1995 dan terjadi secara sengit dan penuh kekejaman bahkan hingga pada pelanggaran HAM berat. Pada perang ini, tercatat adanya genosida yang dilakukan oleh tentara Republika Srpska yang didukung Serbia Raya terhadap lebih dari 38.000 penduduk sipil muslim bosnia. Genosida ini merupakan salah satu krisis kemanusiaan terburuk yang terjadi pasca perang dunia kedua.

Pada 1994  Bosnia dan Kroasia memutuskan untuk bekerja sama sehingga membuat pasukan Serbia Raya mengalami kesulitan. Serbia Raya juga harus menerima embargo internasional & serangan pasukan koalisi NATO akibat kebrutalan mereka terhadap warga sipil.

Pada 1 November 1995 diadakan perundingan perdamaian di Dayton, AS yang mengakhiri perang di Bosnia-Herzegovina. Perundingan ini dilanjutkan dengan Konferensi Internasional di Paris pada tanggal 14 Desember 1995 yang menghasilkan kesepakatan perdamaian dengan ditandatangani oleh Presiden Bosnia-Herzegovina Elijah Izetbegovic, Presiden Kroasia Franjo Tujman dan Presiden Serbia Montenegro Slobodan Milosevic.

Baca Juga  Riwayat dan Kemelut Dakwah Islam di Korea

Konflik di bekas Yugoslavia ternyata tidak berhenti sampai disitu. Pada 1999 terjadi pemberontakan oleh kelompok separatis Ushtria Clirimtare e Kosoves ( Tentara Pembebasan Kosovo) yang seluruh anggotanya berasal dari etnis Albania. Krisis kemanusiaan kembali terjadi karena serbuan pasukan Serbia Raya di Kosovo menyebabkan lonjakan kaum pengungsi dari Albania ke wilayah negara-negara tetangga. Serangan Serbia Raya baru terhenti setelah NATO melakukan serangan udara yang memaksa Serbia Raya menarik mundur pasukannya dan membiarkan Kosovo dikelola oleh PBB. Pada 2003 Serbia Raya secara resmi mengubah namanya menjadi “Serbia & Montenegro” untuk memberikan otonomi kepada masing-masing negara bagian. Dengan demikian berakhirlah riwayat Yugoslavia.

Dari kasus Yugoslavia kita dapat belajar mengenai pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Kondisi Yugoslavia sesungguhnya sedikit banyak memiliki kemiripan dengan Indonesia yang sama-sama merupakan negara dengan multi-etnis. Bahkan keragaman etnis, budaya dan agama di Indonesia jauh lebih banyak dari Yugoslavia sehingga potensi konflik pun juga jauh lebih besar. Sayangnya persatuan yang dibangun Yugoslavia adalah persatuan yang semu yang terlalu bergantung pada satu sosok Presiden Broz Tito sebagai figur pemersatu.

Persatuan yang hanya dibangun atas dasar yang demikian tentunya sangatlah rapuh. Terlebih apabila dalam masyarakat terdapat etnosentrisme yang kuat serta kurangnya kesadaran masing-masing warga negara untuk bersatu.

Marilah kisah negeri Yugoslavia ini menjadi renungan dan pelajaran bagi kita semua. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu mengambil pelajaran dari masa lampau.

Historia Magistra Vitae