Sejarah Serangan Umum 1 Maret dan Kontroversi yang Menaunginya

Sejarah Serangan Umum 1 Maret dan Kontroversi yang Menaunginya

“Tidak ada perang yang baik atau perdamaian yang buruk”

Mendengar istilah Serangan Umum 1 Maret mungkin tidak asing bagi teman-teman Sejarah Kita semuanya. Sebuah peristiwa yang mengingatkan kita semua betapa luar biasanya para pahlawan kita dulu dalam mempertahankan kemerdekaan. Sebuah peristiwa yang sekali lagi menunjukkan sekaligus menjadi titik tolak bahwa bangsa Indonesia ini belum habis dan belum menyerah.

Namun, di balik itu semua ternyata peristiwa ini menyimpan kontroversi-kontroversi yang mungkin sampai hari ini masih kerap diperbincangkan. Kontroversi apakah itu? Mari kita sama-sama kupas tuntas sejarah Serangan Umum 1 Maret ini.

Pengertian dan Tujuan Serangan Umum 1 Maret

Menurut Alm. Prof. M.C. Ricklefs dalam bukunya Sejarah Indonesia Modern 1200-2004 (2005) menyatakan bahwa Serangan Umum 1 Maret merupakan serangan yang dilakukan oleh jajaran tinggi militer Divisi III/GM III untuk merebut kembali Yogyakarta sekaligus sebagai pembuktian bahwasanya TNI dan Republik Indonesia ini belum habis dan masih kuat untuk melakukan perlawanan.

Sedangkan tujuan daripada serangan ini sebenarnya ialah untuk meruntuhkan moral pasukan Belanda serta membuktikan kepada dunia Internasional serta PBB bahwa Republik Indonesia masih memiliki kekuatan untuk melakukan perlawanan.

Kronologi dan Jalannya Serangan Umum 1 Maret

Pasca Agresi Militer Belanda II, kondisi ibukota Yogyakarta sangat kacau. Banyak korban jiwa dari kalangan militer dan sipil Indonesia karena Agresi Militer Belanda II. Sri Sultan Hamengkubuwono IX sebagai raja Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat merasa geram terhadap peristiwa Agresi Militer Belanda II.

Pada awal tahun 1949, Hamengkubuwono menghubungi Jenderal Soedirman tentang perlunya pengadaan operasi militer untuk melawan pasukan Belanda yang ada di Yogyakarta. Jenderal Sudirman menyetujui usulan dari Hamengkubuwono IX untuk melakukan operasi militer. Jenderal Sudirman menginstruksikan kepada Hamengkubuwono IX untuk berkoordinasi dengan perwira militer yang ada di Yogyakarta terkait rencana penyerangan Belanda. Setelah menerima instruksi tersebut, Hamengkubuwono IX segera melakukan koordinasi dengan Letkol Soeharto untuk melakukan penyerangan terhadap Belanda pada tanggal 1 Maret 1949.

Baca Juga  Garis Imajiner Yogyakarta: Tugu Golong Gilig

Akhirnya pada tanggal 1 Maret 1949, pagi hari, serangan secara besar-besaran yang serentak dilakukan di seluruh wilayah Divisi III/GM III dimulai, dengan fokus serangan adalah Ibukota Republik, Yogyakarta, serta kota-kota di sekitar Yogyakarta, terutama Magelang, sesuai Instruksi Rahasia yang dikeluarkan oleh Panglima Divisi III/GM III Kolonel Bambang Sugeng kepada Komandan Wehrkreis I, Letkol Bahrun dan Komandan Wehrkreis II, Letkol Sarbini.

Pada saat yang bersamaan, serangan juga dilakukan di wilayah Divisi II/GM II, dengan fokus penyerangan adalah kota Solo, guna mengikat tentara Belanda dalam pertempuran agar tidak dapat mengirimkan bantuan ke Yogyakarta.

Pos komando ditempatkan di Desa Muto. Pada malam hari menjelang serangan umum itu, pasukan telah merayap mendekati kota dan dalam jumlah kecil mulai disusupkan ke dalam kota. Pagi hari sekitar pukul 06.00, sewaktu sirene dibunyikan serangan segera dilancarkan ke segala penjuru kota.

Dalam penyerangan ini Letkol Soeharto langsung memimpin pasukan dari sektor barat sampai ke batas Malioboro. Sektor barat dipimpin Ventje Sumual, sektor selatan dan timur dipimpin Mayor Sardjono, sektor utara oleh Mayor Kusno. Sedangkan untuk sektor kota sendiri ditunjuk Letnan Amir Murtono dan Letnan Masduki sebagai pimpinan. TNI berhasil menduduki kota Yogyakarta selama 6 jam. Tepat pukul 12.00 siang, sebagaimana yang telah ditentukan semula pasukan TNI mengundurkan diri.

Serangan terhadap Kota Solo yang juga dilakukan secara besar-besaran dapat menahan Belanda di Solo sehingga tidak dapat mengirim bantuan dari Solo ke Yogyakarta yang sedang diserang secara besar-besaran juga oleh pasukan Brigade X yang diperkuat oleh satu Batalion dari Brigade XI. Sedangkan serangan terhadap pertahanan Belanda di Magelang dan pengadangan jalur Magelang-Yogyakarta yang dilakukan Brigade IX, hanya dapat memperlambat pergerakan pasukan bantuan Belanda dari Magelang ke Yogyakarta. Tentara bantuan Belanda dari Magelang tetap dapat menerobos hadangan gerilyawan Republik dan sampai di Yogyakarta pukul 11.00.

Baca Juga  Voltaire: Penuh Karya dan Kontroversi

Tercatat akibat serangan ini dari pihak Belanda, tercatat 6 orang tewas, dan di antaranya adalah 3 orang anggota polisi; selain itu 14 orang mendapat luka-luka. Segera setelah pasukan Belanda melumpuhkan serangan terebut, keadaan di dalam kota menjadi tenteram kembali.

Kesibukan lalu-lintas dan pasar kembali seperti biasa, malam harinya dan hari-hari berikutnya keadaan tetap tenteram. Pada hari Selasa siang pukul 12.00 Jenderal Meier (Komandan teritorial merangkap komandan pasukan di Jawa Tengah), Dr. Angent (Teritoriaal Bestuurs-Adviseur), Kolonel van Langen (komandan pasukan di Yogya) dan Residen Stock (Bestuurs-Adviseur untuk Yogya) telah mengunjungi kraton guna membicarakan keadaan dengan Sri Sultan.

Dalam serangan terhadap Yogya, pihak Indonesia mencatat korban sebagai berikut: 300 prajurit tewas, 53 anggota polisi tewas, rakyat yang tewas tidak dapat dihitung dengan pasti. Menurut majalah Belanda De Wappen Broeder terbitan Maret 1949, korban di pihak Belanda selama bulan Maret 1949 tercatat 200 orang tewas dan luka-luka.

Kontroversi Serangan Umum 1 Maret

Ternyata di balik peristiwa Serangan Umum 1 Maret ini tersimpan kontroversi yang mana sampai hari ini mungkin masih banyak diperbincangkan oleh khalayak ramai yakni mengenai penggagas daripada Serangan Umum 1 Maret itu sendiri yakni antara Soeharto atau Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Untuk mengetahui hal tersebut mari kita kupas sama-sama.

Jadi selama Orde Baru, film dan buku-buku yang beredar terus mengkultuskan peran Soeharto sebagai penggagas sekaligus pelaku utama serangan umum 1 Maret sedangkan pelaku lainnya seolah dipinggirkan.

Seperti tertulis dalam buku ‘Cuplikan Sejarah Perjuangan TNI AD’ yang diterbitkan Dinas Sejarah Militer TNI AD (1972), yang mana dalam buku tersebut dituliskan bahwasanya Soeharto-lah yang menjadi inisiator Serangan Umum 1 Maret. Saat itu Komandan Brigade X/Wehrkreise III Letnan Kolonel Soeharto merasa perlu melakukan sebuah serangan di siang hari yang menunjukkan TNI masih ada.

Baca Juga  Kebijakan Ekonomi Indonesia pada Masa Demokrasi Liberal

Menanggapi hal tersebut, sejarawan Asvi Warman Adam pun mengkritik dominasi peran Soeharto tersebut. Berdasarkan fakta-fakta historis yang ada menunjukkan bahwasanya Soeharto yang hanya berpangkat Letnan Kolonel jelas tidak mungkin menginisiasi serangan tersebut.

Asvi yakin Soeharto hanya pelaksana di lapangan. Inisiator sesungguhnya ialah Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Hal tersebut semakin diperkuat dalam buku Takhta Untuk Rakyat (1982).

Saat itu Sultan merasa waswas semangat juang TNI dan rakyat terus menurun. Di sisi lain, Sultan tahu masalah Indonesia dan Belanda akan dibicarakan di forum Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB). Sultan menginginkan ada serangan umum siang hari, yang walau tidak bisa mengusir Belanda dari Yogyakarta tapi bisa menunjukkan TNI masih ada. Hal itu akan memperkuat posisi Indonesia dalam forum tersebut. Sultan pun mengirim kurir pada Panglima TNI Jenderal Soedirman.

Sultan juga minta dipertemukan dengan pemimpin pasukan Gerilya di Yogya. Kebetulan Soeharto adalah Komandan Wehrkreise III yang membawahi Kota Yogyakarta dan sekitarnya. Soeharto menyanggupi permintaan Sultan. Sebelumnya beberapa kali memang pasukan TNI telah mengganggu pos-pos Belanda pada malam hari. Namun untuk sebuah serangan secara terkoordinasi pada siang hari, belum pernah dilakukan TNI.

Namun dibalik segala kontroversinya Serangan Umum 1 Maret ini tetap saja memiliki arti penting dalam perjuangan bangsa Indonesia  yakni menunjukkan kepada dunia internasional keberadaan pemerintah dan TNI masih kuat dan solid, dukungan terhadap perundingan/diplomasi yang berlangsung di PBB, meningkatkan moral bangsa Indonesia, meruntuhkan mental pasukan Belanda, dan mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia.

Demikian pembahasan mengenai sejarah Serangan Umum 1 beserta kontroversi yang menaunginya, mudah-mudahan bermanfaat dan menambah literasi panjenengan sedoyo dan tetap nantikan tulisan-tulisan saya selanjutnya. Matur Suwun dan tetap salam Jasmerah

Editor: Fastabiqul Hakim