Sejarah Singkat Berdirinya dan Perkembangan Kerajaan Aceh

Sejarah Singkat Berdirinya dan Perkembangan Kerajaan Aceh

Kerajaan Aceh adalah sebuah kerjaaan islam besar yang berada di ujung pulau sumatera atau yang sekarang menjadi wilayah provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Kerajaan inin didirikan oleh Sultan Ali Mughayat Syah pada tahun 1520 .

Wilayah Kerajaan Aceh yang pada masa awal kepemimpinan Sultan Ali Mughayat Syah berada di wilayah berbasis perdagangan dan merupakan daerah yang melepaskan diri dari Samudera Pasai, diantaranya adalah Selat Malaka seperti Pasai, Daya, dan Pidie. Hal ini tentu saja menguntungkan bagai Kerajaan Aceh, dikarenakan letaknya yang strategis dan juga berada dalam pusat jalur perdangangan internasional pada masa itu.

Penguasa pertama dalam Kesultanan Aceh Darussalam adalah Sultan Ali Mughayat Shah. Pada awalnya, wilayah Kesultanan Aceh ini hanya mencakup Banda Aceh dan Aceh Besar yang dipimpin oleh Syamsu Shah, ayah dari Sultan Ali Mughayat Shah.

Ketika orang-orang Portugis mulai datang ke Malaka, status politik Aceh masih merupakan suatu Kesultanan takluk dari Kesultanan yang di Sumatera Utara yaitu Pedir, akan tetapi Aceh kemudian melepaskan diri dari pengaruh kekuasaan Pedir berkat seorang tokoh yang kuat menjadi penguasa Aceh pada saat itu yaitu Sultan Ali Mughayat Shah.

Kedatangan bangsa asing dari barat yaitu Portugis pada tahun 1511 yang mulai menguasai Malaka, menyebabkan para pedagangan muslim yang berasal dari Arab, Persi, dan Sekitarnya memilih untuk menjadikan Aceh sebagai pusat pelabuhan mereka, sehingga kemajuan perdagangan sangat terasa pada masa itu.

Kerajaan Aceh cepat berkembang menjadi besar karena didukung oleh:

1. Letak ibu kota Aceh yang strategis, yaitu di pintu gerbang pelayaran dari India dan Timur Tengah yang akan ke Malaka/Cina atau ke Jawa.

2. Pelabuhan Aceh memiliki persyaratan yang baik sebagai pelabuhan dagang.

Baca Juga  Sistem Tanam Paksa (Cultuurstelsel): Sejarah, Tujuan, Pelaksanaan dan Dampak

3. Daerah Aceh kaya dengan lada sebagai ekspor mata dagangan yang penting. Aceh sudah sejak dahulu mengadakan hubungan dagang internasional.

4. Jatuhnya Malaka ketangan Portugis yang menyebabkan pedagangpedagang Islam banyak singgah ke Aceh, terlebih setelah jalur pelayaran beralih lewat di sepanjang pantai barat Sumatera.

Banyaknya pedagang Islam yang berdatangan ke pelabuhan Aceh seperti Arab, Parsi, dan India yang disusul oleh pedagang-pedagang asing dari Eropa seperti Belanda, Inggris dan Perancis menambah semarak kegiatan perdagangan di pelabuhan Aceh sekaligus mendatangkan kekayaan dan kemakmuran bagi Kerajaan Aceh. (Yunita, 2015: 2)

Posisi Kerajaan Aceh yang berada dekat dengan Selat Malaka, mampu menjadikan kehidupan ekonomi mereka subur dan makmur. Banyak komoditi barang yang menjadi andalan dalam perdagangan Kerajaan Aceh. Diantaranya lada, kopra  dan  pinang. Hal ini lah yang menjadikan Aceh sebagai lirikan baru bagi bangsa Eropa.

Manuver pun dilakukan oleh bangsa barat untuk mendapatkan perhatian Aceh. Sir James Lancaster   yang  sengaja  diutus  oleh  Ratu  Elizabeth I dari  Inggris pada tahun 1602 yang diterima dengan upacara  kehormatan.  Pada  akhir  tahun  1620, Perancis juga mengirim  Jenderal   Augustine  Beaulieu  sebagai  utusan  resminya  ke Aceh.

Bangsa Belanda pun juga memulai untuk melakukan hubungan diplomasi terhadap Aceh, mereka mengirimkan Cournelis De Houtman untuk melakukan negosiasi dengan Aceh. Namun, hal ini tidak berjalan baik karena fitnah dari Portugis, mereka takut bahwa Belanda akan mengeruk semua kekayaan dan menyebabkan pemasukan Portugis berkurang.

Akibatnya, Sultan Aceh pun kemudian mengrimkan pasukan nya yang berisi para wanita tangguh dari Kerajaan Aceh yaitu para Inong Baale yang dipimpin oleh Laksamana Malahayati yang kemudian mampu membunuh pemimpin armada Belanda pada saat itu yaitu Cornelis De Houtman. (Anwar, 2017: 15)

Baca Juga  Kondisi Ekonomi Indonesia pada Masa Demokrasi Terpimpin

Penulis: Annissaa Cahyaning, Aulia Faticha, Faris Ali