Sejarah Sistem Perdagangan Tradisional dan Hukum Commenda

Sejarah Hukum Commenda

Sistem perekonomian tradisional merupakan sistem yang digunakan oleh  masyarakat tradisional yang hanya mengandalkan alam dan tenaga kerja.

Sistem perekonomian ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Teknik produksi yang dipelajari dari turun-temurun serta bersifat sederhana.
  2. Terikat oleh tradisi.
  3. Sedikit menggunakan modal.
  4. Belum mengenal pembagian kerja.
  5. Pertukaran masih menggunakan barter.
  6. Tanah merupakan tumpuan kegiatan produksi dan sumber kemakmuran.

Menurut Van Leur (1967), pada masa kerajaan lama, masa kejayaan Hindhu, Budha, dan Islam, pengaruh raja atau sultan sebagai penguasa sangatlah besar pengaruhnya dalam dunia perdagangan.

Mereka bukan hanya sebagai pengontrol keamanan, atau penarik pajak, namun mereka juga bertindak sebagai pemegang saham.

Pelayaran niaga antara timur dan barat ditempuh secara tidak langsung, menyebabkan berkembangnya Makassar sebagai Emporium menyebabkan p

Para pedangan dari Cina dan teluk Parsi hanya sampai di Malaka atau di Makassar saja.

Di mana perdagangan bisa dilakukan dengan para pedagang yang berdatangan dari kawasan lainnya.

Para pedagang Malaka tidak perlu meneruskan pelayaran sampai ke Maluku atau ke tempat manapun.

Demikian pula untuk para pdagan dari Cina tidak perlu meneruskan perjalananya cukup sampai di Makassar untuk mendapatan komoditi dagang dari Maluku.

Makassar menjadi penting sebagai pelabuhan transito Nusantara dengan  dunia Timur, Cina, dan kawasan Asia Tenggara. (Chaudhuri, 1970)

Di Makassar mungin juga di kawasan Nusantara pada umumnya.

Penguasa lokal berperan penting dalam pengapalan dan perdagangan atau paling tidak mewakili kepentingannya melalui pertolongan para pedagang asing.

Kaum bangsawan dan para pengusaha  berperan sebagai pemilik saham, sedangkan para pelaksana langsung adalah para pedagang atas nama raja ataupun bangsawan dalam bentuk Commenda.

Mereka “berdagang” dalam bentuk Commenda, yakni menyerahkan barang dagangan kepada orang lain untuk diperdagangkan, ataupun hanya memberi uang sebagai modal. (Van Leur, 1960: 228-229)

Baca Juga  Sejarah Sistem Perdagangan Barter

Commenda merupakan sistem perdagangan berupa kontrak peminjaman uang sebagai modal untuk melakukan suatu usaha kegiatan berlayar dengan modal tersebut yang dapat beresiko adanya untung maupun rugi.

Sistem Commenda ini diterapkan pada masa penjajahan Belanda di Indonesia.

Di sini, peran pachter selaku pemilik modal dalam kontrak peminjaman uang sebagai modal menjadi sangat penting dalam bisnis perdaganagn ikan yang lebih luas.

Bagi nelayan selaku peminjam modal, sistem sewa bagaikan institusi keuangan dan pachter merupakan alternative sumber modal usaha.

Sebelum memberi pinjaman modal, pachter melakukan kontrak mengenai peminjaman dan pengembalian modal. Pengembalian modal dilakukan secara berangsur.

Apabila peminjam tidak dapat mengangsur maka pachter akan terus mendapatkan hasil tangkapan ikan dari para nelayan selaku peminjam modal.

Commenda adalah merupakan sistem perdagangan mengenai kekuasaan penguasa pelabuhan yang menyediakan kapal untuk VOC.

Peguasa di sini diartikan sebagai pemberi keputusan apakah kapal dagang tersebut boleh berlabuh di pelabuhan untuk menurunkan barang atau tidak.

Birokrasi pelabuhan selaku penguasa memiliki kewajiban untuk menyediakan kapal bagi birokrasi pusat yaitu VOC. (Masyuri, 1996)