Eksperimen Senjata Biologis Jepang Masa Perang Dunia II oleh Unit 731

senjata biologis unit 731 jepang

Sikap militeristis dan ekspansif yang dimiliki oleh Jepang merupakan dampak dari perlakuan biadab negara-negara barat yang pernah menjadi sekutunya. Jepang saat itu menjadi anti barat dan mereka ingin menunjukkan kepada dunia bahwa Ia telah bangkit menjadi negara yang kuat dan mampu melakukan invasi dan praktik penjajahan di negara lain yang berpangkal pada kebudayaan asli Jepang dan pola pemikiran bangsa Jepang. Bangsa Jepang tidak menginginkan bahwa dirinya disebut sebagai bangsa Asia yang menjiplak kemegahan yang berhasil diraih oleh bangsa barat (Anisa Septianingrum, 2017:100).

Ketika Jepang memulai perang dengan China yang kedua kalinya, Jepang menduduki daerah Manchuria, di daerah itulah yang nantinya dijadikan sebuah basis bagi Jepang yang disebut dengan Manchukuo. Untuk memenangkan peperangan, Jepang mencoba menerapkan strategi baru yaitu dengan menciptakan semacam senjata biologis yang digunakan untuk melawan pasukan musuh. Dalam uji coba senjata biologis tersebut, Jepang melibatkan tawanan perang sebagai objek percobaan. Banyak praktik uji coba yang kejam oleh militer dan ilmuwan Jepang terhadap tawanan, seperti dibedah tanpa proses pembiusan hingga dijadikan diinfeksi dengan berbagai penyakit berbahaya yaitu anthrax dan kolera.

Penulis memilih topik tersebut karena penulis merasa tertarik. Hal-hal semacam ini jarang dipublikasikan kepada masyarakat umum seakan tidak pernah terjadi. Padahal peristiwa tersebut pernah terjadi dimasa lampau dan bisa ditelusuri kembali jejaknya. Dengan ditulisnya makalah ini, penulis berharap agar para pembaca bisa mengambil suatu pelajaran berharga yang ada dibalik suatu peristiwa terlepas dari baik buruknya peristiwa tersebut. Perang Dunia II memberikan pelajaran besar kepada Jepang bahwa ilmu pengetahuan adalah senjata yang sangat ampuh apabila ingin menjadi negara yang maju, dan ambisi untuk menguasai dunia tidak akan bisa tercapai apabila hanya mengandalkan kekuatan militer saja tetapi juga harus menggunakan ilmu pengetahuan. Hal itulah yang membuat Jepang dapat bangkit kembali pasca PD II bahkan dijuluki sebagai “Macan Asia”.

Unit 731

Unit 731 secara resmi dikenal sebagai Kwantung Army Epidemic Prevention and Water Supply Unit adalah suatu unit rahasia untuk perkembangan senjata biologis yang dimiliki oleh Jepang pada tahun 1937-1945 di Harbin, Cina yang melakukan berbagai eksperimen terhadap sekitar 3.000-250.000 tawanan perang. Organisasi yang dibentuk oleh Jepang ini merupakan suatu kompleks laboratorium besar yang terdiri dari 150 gedung dan 5 fasilitas satelit dengan 3.000 ilmuwan dan teknisi bekerja di dalamnya.

Pada tahun 1932, Ishii Shiro mendirikan suatu laboratorium pencegahan epidemi di sekolah medis militer Tokyo dan Unit Togo di desa Bei-inho, sebelah tenggara kota Harbin. Laboratorium ini sempat ditutup pada tahun 1934 karena 12 orang tawanan perang lari dari fasilitas tersebut dan pasukan gerilya China berhasil menyerang pasukan Ishii. Dua tahun kemudian, Unit Togo dibuka kembali dan berganti nama menjadi Departemen Pencegahan Epidemi Tentara Kwangtung (Unit Ishii) dan pada tahun 1940 diubah kembali menjadi Departemen Pencegahan Epidemi dan Purifikasi Air (menjadi Unit 731 pada tahun 1941).

Selain di Manchuria, militer Jepang juga memiliki cabang di Beijing (Unit 1855), Nanking (Unit 1644), Ghuangzou (Unit 8604, dan Singapura (Unit 9420) dengan total 20.0000 staf secara keseluruhan. Masing-masing cabang melakukan eksperimen biologi dan kimia yang telah dikembangkan oleh Unit 731. Salah satu pendukung utama Ishii dari dalam Angkatan Darat adalah Kolonel Chikahiko Koizumi, yang kemudian menjadi Menteri Kesehatan Jepang sejak 1941 hingga 1945. Selama perang Jepang-Tiongkok II dan Perang Dunia II, Unit 731 dan unit riset khusus lainnya dari angkatan darat kekaisaran Jepang melakukan eksperimen terhadap ribuan orang yang sebagian besar merupakan warga Tiongkok, Korea, Rusia, Amerika, dan juga beberapa penjahat dari Jepang sendiri.

Unit 731 memiliki 8 divisi yang memiliki fungsi-fungsi tersendiri, setiap divisi diberikan jatah kamp tersendiri, tenaga ahli, tawanan perang sebagai objek uji coba, dan juga sarana penelitian yang lebih mencerminkan sebagai alat penyiksaan. Divisi 1 berfungsi untuk kamp tempat penelitian virus pes, kolera, anthrax, tifus, dan tuberkulosis. Divisi 2 berfungsi sebagai tempat penelitian senjata biologi yang berupa bom atau roket. Divisi 3 berfungsi sebagai tempat memproduksi senjata kuman. Divisi 4 berfungsi sebagai tempat produksi agen senjata kimia. Divisi 5 sebagai tempat pelatihan personel. Divisi 6 dan divisi 7 berfungsi sebagai tempat peralatan unit medis. Divisi 8 berfungsi sebagai tempat keperluan administrasi.

Baca Juga  Siapakah Dalang di Balik Pembunuhan Benazir Bhutto?

Pembentukan Unit 731 ini membuktikan bahwa Jepang pada masa PD II bersedia melakukan segala cara untuk membalaskan dendam kekalahan pada PD I sekalipun harus menyingkirkan sisi kemanusiaan mereka. Senjata biologi dinilai efektif sebagai sarana bagi Jepang dalam mewujudkan keinginannya untuk menguasai Asia Raya karena personil militer Jepang sendiri jumlahnya sedikit dan untuk menguasai wilayah yang luas perlu adanya ketegasan supaya orang-orang di tanah jajahan Jepang tidak berani memberontak.

Peranan Unit 731

Unit 731 dibentuk oleh militer Jepang dengan maksud untuk meneliti dan mengembangkan senjata biologis yang berupa virus, bakteri, dan kuman serta mengembangkan senjata kimia yang bertujuan untuk memuluskan ambisinya memenangkan perang Asia Pasifik. Memang pada saat itu korban terbanyak berada di pihak Manchuria (China) karena di tempat itulah didirikan kantor pusat dari Unit 731. Kamp eksperimen milik militer Jepang itu disebut dengan istilah Auschwitz-nya Asia, karena segala aktivitas eksperimen di fasilitas tersebut lebih mencerminkan sebagai penyiksaan tawanan perang yang sama seperti Kamp Auschwitz milik Nazi Jerman.

Seperti halnya eksperimen di Auschwitz dan kamp konsentrasi Nazi lainnya, dokter dan peneliti Unit 731 mempelajari potensi kelangsungan hidup prajurit di medan perang. Tetapi alih-alih menggunakan tentara Jepang untuk percobaan, mereka menggunakan POW (prisoner of war – tahanan perang) Sekutu, serta warga sipil China dan Rusia.

Salah satu eksperimen yang dipengaruhi oleh perang adalah pemotongan anggota tubuh untuk mempelajari efek kehilangan darah. Sedangkan pemotongan dalam bentuk lain oleh Unit 731 adalah murni eksperimental dan tidak terkait dengan perang. Sebagai contoh, beberapa anggota badan yang diamputasi disambungkan ke sisi lain dari tubuh. Lain waktu, anggota badan dibekukan dan diamputasi sampai-sampai hanya kepala dan badan korban yang tersisa. Objek eksperimen tidak diberikan obat bius maupun obat pereda nyeri. Setelah hasil eksperimen tersebut dicatat datanya, maka objek eksperimen akan segera ditembak atau dikubur hidup-hidup oleh serdadu Jepang yang bertugas di kamp penyiksaan tersebut.

Selama Perang Tiongkok-Jepang kedua. banyak tahanan perang dan penduduk sipil yang ditangkap untuk eksperimen Unit 731. Segera setelah tentara Jepang memasuki ibu kota Tiongkok pada bulan Desember 1937, kota ini menjadi tuan rumah bagi pembunuhan massal dan pemerkosaan.

Setelah turun perintah untuk melenyapkan semua tawanan, tidak ada yang terhindar. Kekejaman termasuk pemukulan, penenggelaman, pemenggalan kepala, pencurian massal, pemerkosaan, penguburan hidup, distribusi obat adiktif, dan banyak kejahatan yang tidak tercatat. Bahkan ada perlombaan antara dua perwira Jepang untuk melihat siapa yang akan membunuh 100 orang dengan pedang terlebih dahulu. Namun, tidak seperti banyak anggota Unit 731 lainnya, kedua perwira ini pada akhirnya diadili dan dieksekusi.

Salah satu eksperimen brutal yang sering dilakukan Unit 731 adalah pembedahan. Dilakukan pada korban yang masih hidup tanpa anestesi, karena khawatir anestesi akan mempengaruhi waktu dan hasil pembusukan setelah kematian. Tujuan tindakan brutal ini adalah untuk praktik pembedahan. Bahkan, berbagai pembedahan berbeda dilakukan pada satu korban. Begitu korban tidak lagi berguna, dia dibunuh, dan dipotong sebelum dibakar atau ditempatkan di lubang pemakaman besar.

Di lain waktu, pembedahan dilakukan untuk melihat efek internal penyakit. Pengangkatan organ juga menjadi bagian dari eksperimen brutal ini, seperti pengangkatan lambung dan pemasangan esofagus ke usus.

Pada awalnya, banyak percobaan penyakit yang dilakukan Unit 731 merupakan tindakan preventif (pencegahan). Jepang menyadari bahwa 89 persen kematian di medan pertempuran dari Perang Tiongkok-Jepang pertama berasal dari penyakit. Tetapi percobaan-percobaan yang awalnya hanya menggunakan obat-obatan pencegahan dan vaksin berevolusi menjadi eksperimen yang ofensif selama perang berlangsung.

Unit 731 dibagi menjadi delapan divisi. Divisi pertama berfokus pada percobaan dengan penyakit bakteriologi, termasuk penyakit pes, kolera, anthrax, tifoid, dan tuberkulosis. Bakteri ini disuntikkan ke korban secara teratur, dan infeksi yang dihasilkan dipelajari. Hasilnya menjadi semakin mematikan karena banyak orang tinggal di sel-sel tahanan.

Jepang juga mempelajari efek menyuntikkan manusia dengan darah binatang, menyuntikkan udara di aliran darah yang menyebabkan emboli, hingga menyuntikkan air laut. Suntikan air laut ini mirip dengan percobaan menelan air laut di Auschwitz.

Bayi juga tidak dibebaskan dari kekejaman unit 731 karena mereka mempelajari transmisi (penularan) penyakit dari ibu ke janin. Ini termasuk penyakit seperti sifilis. Para peneliti mempelajari bagaimana sifilis akan mempengaruhi kesehatan bayi yang dilahirkan dan bagaimana bahayanya pada sistem reproduksi ibu. Tidak ada yang tahu jumlah bayi yang lahir di “penangkaran” unit 731, tapi yang diketahui bahwa tidak ada yang selamat ketika unit 731 dibubarkan pada 1945.

Baca Juga  Raja Ali Haji: dari Melayu untuk Persatuan Indonesia

Sementara penyakit seperti tuberkulosis dan cacar bisa disuntikkan, penyakit sifilis dan kencing nanah memerlukan metode penularan yang berbeda. Penularan dilakukan melalui hubungan seksual, dengan salah satu pasangan terinfeksi. Pasangan itu dipaksa melakukan hubungan seksual di bawah ancaman ditembak. Tubuh yang terinfeksi kemudian diseleksi untuk melihat hasilnya.

Salah satu rangkaian eksperimen mengerikan oleh Unit 731 adalah eksperimen pada suhu ekstrem. Sementara suhu panas yang ekstrem juga digunakan pada subjek uji, suhu dingin ekstrem lebih sering digunakan karena cocok untuk iklim fasilitas tertentu di Jepang. Radang dingin adalah kondisi jaringan tubuh membeku dan rusak oleh paparan suhu rendah.

Setelah subjek dibawa keluar di cuaca dingin, air sebentar-sebentar dituangkan ke tangan mereka sampai radang dingin masuk ke area yang terkena. Di waktu lain, anggota badan dibekukan dan kemudian dicairkan untuk mempelajari gangren. Orang mungkin bertanya-tanya bagaimana para peneliti bisa mengatakan bahwa lengan subjek telah membeku. Menurut kesaksian seorang petugas, radang dingin terjadi jika “lengan yang membeku dipukul dengan tongkat pendek, mengeluarkan suara yang menyerupai suara papan ketika dipukul”. Kejam, namun eksperimen ini memang menghasilkan temuan ilmiah. Unit 731 menemukan bahwa radang dingin lebih efektif diobati dengan merendam area yang terkena dalam air yang lebih hangat dari 37,8°C, tetapi lebih dingin dari 50°.

Meskipun Unit 731 melakukan banyak pengujian di lapangan, fasilitas seluas 6 kilometer persegi ini menjadi tuan rumah bagi banyak bangunan untuk eksperimen tertentu. Banyak dari bangunan ini digunakan untuk membudidayakan kutu dan patogen, tetapi beberapa khusus dibuat untuk pengujian.

Centrifuge dibangun untuk memeriksa berapa banyak kekuatan yang diperlukan untuk menyebabkan kematian. Ruang bertekanan tinggi akan  mendorong mata korban keluar dari kepala mereka. Aborsi paksa dan sterilisasi dilakukan, dan subyek dipapar dengan radiasi X-Ray yang mematikan.

Dalam sebuah eksperimen untuk mengamati ikatan antara ibu dan anak, seorang ibu Rusia dan anaknya diawasi di sebuah ruang kaca sementara gas beracun dipompa masuk. Sang ibu lalu menutupi anaknya dari gas sebagai upaya untuk menyelamatkannya, tetapi keduanya akhirnya menyerah.

Di Unit 731, subyek manusia juga digunakan dalam pengujian senjata di banyak fasilitas. Korban biasanya dibawa ke lapangan percobaan dan diikat ke tiang kayu untuk diuji. Korban ini kemudian dijatuhi bom atau granat, digunakan untuk latihan sasaran, atau dibakar dengan flamethrower (penyembur api). Ini sangat mirip dengan protokol Angkatan Darat Kekaisaran Jepang untuk menggunakan tentara China yang ditangkap untuk latihan bayonet.

Perang Dunia I membawa kemajuan teknologi dalam peperangan, terutama senjata biologis. Terinspirasi oleh keberhasilan yang dihasilkan oleh “bioweapon” ini (terutama gas klorin yang digunakan selama Pertempuran Ypres Kedua), Jenderal Shiro Ishii, komandan Unit 731, bereksperimen secara ekstensif di bidang ini.

Selain menjatuhkan bom yang penuh dengan penyakit seperti anthrax, kolera, tifus, dan penyakit pes pada tahanan, Ishii merancang bom khusus yang terbuat dari porselen yang memungkinkan kutu yang terinfeksi menyebar dan menginfeksi area yang lebih luas. Sekali lagi, subjek sering diikat ke pasak dan dibom. Para ilmuwan menggunakan pakaian pelindung memeriksa mayat setelahnya.

Di lain waktu — seperti pada tanggal 4 dan 29 Oktober 1940 — pesawat Jepang terbang rendah menyemprotkan bakteri wabah di provinsi Chechiang di Tiongkok, menewaskan ratusan orang. Perkiraan jumlah total orang Cina yang terbunuh dengan cara ini antara 200.000–580.000 orang.

Kelanjutan Unit 731 Setelah PD II

Akhir perjalanan dari Unit 731 adalah pada bulan Agustus tahun 1945, seluruh peralatan dalam fasilitas tersebut dihancurkan dan seluruh staf yang bekerja di fasilitas tersebut resmi diberhentikan oleh Jendral Ishii Shiro dan dipulangkan ke Jepang. Mayoritas dari mereka kembali kepada kehidupan normalnya yakni seorang dokter yang bekerja di rumah sakit. Para staf dan petinggi dari Unit 731 sendiri tidak dituntut oleh Amerika Serikat atas kejahatan perang yang dilakukannya tersebut karena di antara Jepang dan Amerika Serikat mengadakan sebuah perjanjian damai yakni Perjanjian San Fransisco.  Perjanjian San Francisco (Treaty of San Francisco) antara Sekutu dan Jepang secara resmi ditandatangani oleh 49 negara pada 8 September 1951 di San Francisco, California. Perjanjian ini berlaku efektif mulai 28 April 1952.

Baca Juga  Solusi Airlangga untuk Menghindari Perang Saudara

Perjanjian San Francisco secara resmi mengakhiri Perang Dunia II, dan mengakhiri secara resmi kedudukan Jepang sebagai kekuatan imperialis, dan mengalokasikan kompensasi untuk warga sipil Sekutu dan mantan tawanan perang yang menderita kejahatan perang Jepang. Perjanjian ini sebagian besar didasarkan pada Piagam Perserikatan Bangsa-bangsa dan Pernyataan Umum tentang Hak-hak Asasi Manusia. Dengan adanya perjanjian tersebut, Jepang harus membayar kompensasi kepada warga sipil Sekutu dan tawanan perang. Kompensasi tersebut adalah berupa pengambilalihan aset Jepang di luar negeri. Aset Jepang di luar negeri mengacu kepada semua aset yang dimiliki pemerintah, perusahaan, organisasi, dan warganegara sipil Jepang di negara-negara yang diduduki atau dijadikan koloni. Sesuai Pasal 14, Sekutu menyita seluruh aset Jepang di luar negeri, kecuali aset Jepang di Cina yang diatur dalam Pasal 21. Cina memiliki kembali semua aset Jepang di Manchuria dan Mongolia Dalam, termasuk tambang-tambang dan infrastruktur kereta api. Selanjutnya, Pasal 4 menyatakan bahwa “disposisi properti Jepang dan warganegaranya…dan klaim-klaim mereka…terhadap penguasa yang sekarang ini mengatur wilayah-wilayah dan penduduknya…akan tunduk kepada pengaturan khusus antara Jepang dan penguasa-penguasa tersebut.” Berdasarkan hal tersebut, Korea juga memiliki hak-hak seperti diatur dalam Pasal 21.

Sedangkan kompensasi kepada Sekutu yang menjadi tawanan perang menurut Pasal 16 Perjanjian San Francisco “Sebagai ungkapan keinginan mengganti kerugian kepada personel militer Kekuatan Sekutu yang mengalami penderitaan berlebihan selama menjadi tawanan perang Jepang, Jepang akan mentransfer aset-asetnya dan aset warganegaranya di negara-negara yang netral selama perang atau di negara-negara yang berperang melawan Kekuatan Sekutu, atau, sesuai dengan pilihannya, nilai setara dari aset-aset tersebut ke Komite Palang Merah Internasional yang akan melikuidasi aset-aset tersebut dan menyalurkan dana hasilnya ke badan-badan nasional, untuk kesejahteraan mantan tawanan-tawanan perang dan keluarga-keluarga mereka berdasarkan pembagian yang pantas. Kategori-kategori untuk aset yang dijelaskan dalam Pasal 14(a)2(II)(ii) hingga (v). Perjanjian ini merupakan pengecualian dari transfer, begitu pula aset Orang Jepang yang bukan penduduk Jepang. Ketentuan mengenai transfer dalam Pasal ini juga dipahami tidak berlaku bagi 19.770 lembar saham di Bank for International Settlements yang sekarang dimiliki institusi keuangan Jepang”. Berdasarkan ketentuan tersebut, Jepang membayar £4.500.000 ke Palang Merah Internasional. Pasal 14 perjanjian ini menyatakan “Jepang diharapkan segera berunding dengan Kekuatan Sekutu yang wilayah miliknya diduduki tentara Jepang dan dirusak oleh Jepang, dengan maksud membantu membayar pampasan perang kepada negara-negara tersebut untuk biaya perbaikan untuk kerusakan yang telah disebabkan, dengan cara menyediakan bantuan rakyat Jepang dalam produksi, pemulihan, dan pekerjaan lain untuk Kekuatan Sekutu seperti tersebut.” Berdasarkan Pasal 14, Filipina dan Vietnam Selatan masing-masing menerima kompensasi pada tahun 1956 dan 1959. Burma dan Indonesia menandatangani perjanjian bilateral sesuai Pasal 14 Perjanjian San Francisco. Pembayaran terakhir diterima oleh Filipina pada 22 Juli 1976.

Sementara itu, di Jepang sendiri berita tentang kejahatan perang yang dilakukan oleh para serdadunya di fasilitas Unit 731 dirahasiakan dari masyarakat Jepang. Semua data dan arsip yang berisi tentang Unit 731 disimpan dan disembunyikan rapat-rapat oleh pemerintah Jepang. Bahkan membicarakan tentang Unit 731 di Jepang merupakan hal yang dianggap tabu dan tidak sopan karena hal tersebut merupakan jejak hitam dalam sejarah panjang bangsa Jepang. Masyarakat Jepang saat ini pun banyak yang tidak mengetahui tentang keberadaan Unit 731, karena sejak mereka mengenyam bangku pendidikan tidak diajarkan mengenai sejarah Jepang yang seperti ini. Hal ini merupakan tradisi yang turun temurun untuk tidak menceritakan sesuatu yang buruk dimasa lalu kepada generasi yang akan datang. Orang-orang Jepang generasi tua yang mengetahui sejarah kelam bangsanya tidak menginginkan jika anak cucunya mewarisi dendam dan dosa para leluhur mereka dimasa lalu. Keberadaan Unit 731 seakan hilang bagaikan uap air yang tertiup angin. Hanya kalangan elite pemerintah dan para petinggi militer saja yang mengetahui tentang keganasan sang macan Asia tersebut.

.

Penulis: Victor Antonio Jevon

Editor: Fastabiqul Hakim