Serangan Umum Surakarta 1949: Ketika para Pelajar Berjuang Angkat Senjata

serangan umum surakarta
sumber gambar: news.okezone.com

Kebanyakan dari kita ketika mendengar mengenai Agresi Militer II pasti akan langsung teringat mengenai  heroisme Presiden Soeharto ketika memimpin Serangan Umum 1 Maret di Yogyakarta. Beberapa orang mungkin juga ada yang terbayang mengenai keteguhan hati Jenderal  Soedirman yang berkeliling memimpin gerilya di penjuru Jawa menggunakan tandu.  Namun sejatinya kepahlawanan para pejuang dalam menghadapi Agresi Militer II Belanda tersebut tidak hanya ada di Yogyakarta saja. Kota Surakarta yang letaknya tidak jauh dari Yogyakarta ini ternyata juga memiliki kenangan tersendiri dari perlawanan para pejuangnya dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Peristiwa Serangan Umum terhadap kekuatan militer Belanda pada masa Agresi Militer II nyatanya tidak hanya dilakukan oleh para pejuang Republik yang berada di Yogyakarta, namun juga di kota Surakarta. Serangan Umum Surakarta atau yang juga dikenal sebagai Serangan Umum Empat Hari merupakan sebuah puncak dari serangkaian perlawanan yang dilancarkan oleh para pejuang Republik yang berada di Surakarta dan sekitarnya. Serangan Umum Surakarta dilancarkan pada tanggal 7 hingga 10 Agustus 1949 oleh koalisi dari TNI, Tentara Pelajar dan laskar-laskar bersenjata yang  bersatu demi mengusir keberadaan Belanda.

Agresi Militer II Belanda merupakan upaya Belanda yang secara paksa ingin kembali merebut wilayah kedaulatan Republik Indonesia. Aksi ini sekaligus bentuk pelanggaran terhadap perjanjian damai Renville yang telah dilaksanakan sebelumnya. Agresi diawali dengan operasi yang disebut sebagai “Operasi Burung Gagak” atau Operatie Kraai  yaitu serangan secara kilat dengan melumpuhkan Ibu Kota Yogyakarta dan menagkapi para pemimpin Republik Indonesia. Akibatnya dibentuklah Pemerintahan Darurat Republik Indonesia yang berkedudukan di Bukittinggi demi menjaga keberlangsungan negara Indonesia.  Sementara itu, Panglima Besar Jenderal Soedirman memutuskan bahwa TNI akan bergerilya demi mendukung upaya diplomasi yang dilakukan oleh pimpinan pemerintahan sipil.

Kedatangan serangan Belanda tersebut sebelumnya telah diperhitungkan oleh para pemimpin TNI dan pemerintah Republik Indonesia. Panglima Besar Jenderal Soedirman bersama para petinggi militer lainnya akhirnya menemukan strategi yang sesuai yakni bernama Wehrkreise. Strategi merupakan adaptasi dari sistem serupa yang diterapkan oleh Jerman dalam Perang Dunia II. Siasat tersebut tertuang dalam perintah Siasat Nomor  1 Tanggal 9 November 1948

Struktur pemerintahan militer di Jawa jabatan paling tinggi di duduki oleh Panglima Besar Angkatan Perang Jenderal Soedirman. Pemerintahan selanjutnya dipimpin Kolonel A.H Nasution sebagai Panglima Tentara dan Teritorium Jawa (PTTD), kemudian struktur pemerintahan militer dibawahnya adalah Gubernur Militer. Jabatan Gubernur Militer diduduki oleh Panglima Divisi. Di pulau Jawa dibagi menjadi empat daerah Divisi militer. Struktur Pemerintahan setelah Gubernur Militer adalah Pemerintah Militer Daerah (PMD) setingkat Karisidenan dipimpin oleh Komandan daerah perlawanan (wehrkreise).

Kolonel A.H. Nasution selaku Panglima Tentara Teritorium Jawa (PTTD) segera mengeluarkan maklumat No.2/ MBKD/ 1948 yang berisi pemberlakuan Pemerintahan Militer di seluruh Pulau Jawa. Pelaksanaan Maklumat di seluruh Pulau Jawa, termasuk di Surakarta. Segera Pemerintah Militer Surakarta mengeluarkan Siaran Kilat No. 5 tanggal 2 September 1949.10 yang menetapkan wilayah Surakarta sebagai Wehrkreise I di bawah pimpinan Letnan Kolonel Slamet Riyadi, Komandan Brigade V.  Wehrkreise I kemudian dibagi menjadi tujuh sub wehrkreise (SWK), yaitu:

  1. Sub Wehrkreise (SWK) 100 wilayahnya Boyolali, dipimpin Mayor Soeradji.
  2. Sub Wehrkreise (SWK) 101 wilayahnya Klaten, dipimpin Soenitioso.
  3. Sub Wehrkreise (SWK) 102 wilayahnya Wonogiri, dipimpin Mayor Soedigdo.
  4. Sub Werhkreise (SWK) 103 wilayahnya Sukoharjo, dipimpin Mayor Soenaryo.
  5. Sub Wehrkreise (SWK) 104 wilayah Karanganyar, dipimpin Mayor Soeharto.
  6. Sub Wehrkreise (SWK) 105 wilayah Sragen, dipimpin Mayor Hartadi.
  7. Sub Wehrkreise (SWK) 106 wilayah Surakarta, dipimpin Mayor Achmadi (Pratama, : 634).
Baca Juga  Kehidupan Politik Kerajaan Demak

Komandan wehrkreise I menentukan kebijaksanaan bahwa masing-masing SWK dapat mangambil prakarsa sendiri untuk melaksanakan kegiatanya, sepanjang masih tetap dalam koordinasi strategi pertempuran yang telah ditetapkan oleh Komandan wehrkreise I Letkol Slamet Riyadi sebagai pemimpin unit operasional pertahanan wilayah Surakarta. Dengan begini maka pertahanan militer dapat berlangsung lebih optimal karena tiap unit SWK dapat langsung melaksanakan respon tindakan yang diperlukan bila terjadi serangan oleh Belanda tanpa harus menunggu perintah dari Komandan wehrkreise I.

Salah satu yang menarik adalah keberadaan SWK 106 sebagai unit operasional pertahanan wilayah kota Surakarta. SWK 106 beranggotakan kesatuan dari Tentara Pelajar Detasemen II Brigade 17  yang dipimpin oleh Mayor Achmadi. Keberadaan Tentara Pelajar sendiri awalnya lahir dari Kongres Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) pada tahun 1945 untuk menyertakan para pelajar dalam upaya mempertahankan kedaulatan negara Indonesia.  Atas persetujuan Markas Besar Tentara Keamanan Rakyat (MB TKR) Yogyakarta maka anggota pasukan pelajar dari IPI Pertahanan dijadikan pasukan khusus yang diberi nama Tentara Pelajar (TP). Kesatuan ini sempat beberapa kali mengalami perubahan penyesuaian.Pada  November 1948 melalui penetapan Presiden No.14  Tahun 1948,status Tentara Pelajar ditingkatkan menjadi TNI Brigade XVII TNI yang secara taktis langsung dibawah Markas Besar Tentara (MBT) dengan komandan brigadenya yaitu Letkol. Soedarto (Tirnando, Melay dan Bunari, : 7).

SWK 106 dibawah pimpinan Mayor Achmadi tidak hanya beranggotakan dari para Tentara Pelajar Detasemen II Brigade XVII TNI saja,namun juga di dalamnya terdapat para pejuang yang berasal dari berbagai organisasi kelaskaran yaitu Laskar Satria, Laskar Kere, Laskar Jelata, Laskar Alap- alap, Laskar Garuda, dan juga Barisan pemberontak Rakyat Indonesia Pelajar.  Hal tersebut sebagai bukti bahwa rakyat berada bersama-sama dengan TNI dalam mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia.

Untuk kepentingan operasional, maka Mayor Achmadi membagi SWK 106 menjadi lima rayon:

  1. Rayon I dipimpin oleh Kapten Suhendro.
  2. Rayon II dipimpin oleh Kapten Sumarto.
  3. Rayon III dipimpin oleh Kapten Prakoso.
  4. Rayon IV dipimpin oleh Kapten Abdul Latif.
  5. Rayon V dipimpin oleh Letnan Hartono.
Jalannya Pertempuran

Pada 21 Desember 1948, Belanda berhasil memasuki Kota Surakarta. Kedatangan pasukan Belanda tersebut telah diketahui sebelumnya oleh TNI. Karena itu bangunan-bangunan penting yang berada di dalam kota telah dirusak dan dibumi hanguskan oleh para pejuang sehingga tidak bisa dimanfaatkan oleh tentara Belanda.  Pasca masuknya Belanda ke dalam kota,TNI terus memberikan perlawanan sengit lewat operasi gerilya yang sering dilaksanakan untuk  merebut kombali wilayah kota yang dikuasai Belanda.

Baca Juga  Kebijakan Ekonomi Daendels di Indonesia

Pada Juni 1949, Kolonel Gatot Soebroto mengeluarkan instruksi Nomor 16A tanggal 10 Juni 1949 yang menyatakan  bahwa anggota angkatan perang dan pegawai pemerintah sipil untuk harus berjuang terus selama belum ada perintah caese fire dari Gubernur Militer meskipun apabila terdapat perintah dari instansi lain. Instruksi dari Gubernur Militer tersebut merupakan respon dari kabar burung yang mengabarkan bahwapemerintah sipilmenginstruksikan untuk menghentikan tembak-menembak.  

Perkembangan diplomasi Indonesia membuat presiden Soekarno pada 3 Agustus 1949 mengeluarakan perintah untuk penghentian permusuhan antara Indonesia dan Belanda mulai tanggal 10 sampai 11 Agustus 1949 tengah malam harus berhenti. Namun, karena tidak adanya sarana komunikasi yang memadai berita tentang pemberhentian permusuhan dengan Belanda tersebut terlambat datangnya sampai di Surakarta.

Mayor Achmadi telah merencanakan untuk membuat serangan besar-besaran terhadap kedudukan Belanda di Surakarta. Menjelang subuh pasukan SWK 106 Arjuna mulai menyusup secara sembunyi- sembunyi ke dalam kota dari berbagai jurusan. Minggu tanggal 7 Agustus 1949 jam 06.00 pagi dimulailah serangan umum secara besar-besaran dan serentak terhadap kedudukan Belanda di Kota Surakarta. Serangan umum secara serentak ini berhasil membuat TNI menguasai kurang dari tiga perempat kota. Pihak Belanda yang terus digempur habis-habisan oleh pasukan SWK 106 Arjuna tidak tinggal diam, pada sore hari pda pukul 15.00 mereka melakukan serangan balasan dengan menggunakan enam pesawat terbang. Serangan balasan yang dilakukan dengan cara pengeboman secara membabi buta yang mengakibatkan banyak korban dari rakyat jelata yang tidak bersalah. Tanggal 8 Agustus 1949 sejak subuh hingga subuh berikutnya serangan terhadap markas dan pos-pos penjagaan Belanda di Kota Surakarta terus gencar dilakukan. Akibatnya, sebagian besar pasukan Belanda terkurung dalam markas-markas mereka. Hal ini tentu saja menguntungkan pihak TNI karena Hubungan suplai persenjataan antar markas tentara Belanda menjadi terputus.

Tanggal 8 Agustus 1949 pada pukul 10.00 keluar perintah siasat No. 018/Co.P.P.S/49 dari Letkol Selamet Riyadi selaku komandan Wehrkreise I  untuk mengadakan serangan perpisahan ke pusat Kota Surakarta secara umum dan besar-besaran sebelum dimulainya gencatan senjata pada 10 Agustus. Sasaran utama yang ditargetkan dalam serangan ini yaitu pos dan markas Belanda di dalam kota. Serangan dimulai dari pukul 06.00 sampai pukul 24.00 tanggal 10 Agustus 1949 pada saat gencatan senjata dimulai sesuai dengan instruksi Presiden Panglima Tertinggi Angkatan Perang.

Pasukan Belanda tidak tinggal diam dan membalas dengan menggunakan serangan udara melalui pesawat Mustang. Pesawat Belanda terbang mengelilingi kota dengan menjatuhkan bom dan menembaki sasaran untuk menekan serangan dari pasukan SWK 106 Arjuna.

Baca Juga  Sejarah Kerajaan Samudera Pasai, Mulai dari Kejayaan hingga Kemunduran

Tanggal 9 Agustus 1949 pasukan SWK 106 Arjuna masih terus menggempur Pasukan Belanda yang masih bertahan di dalam markas-markasmereka.Mendapati situasi yang semakin terjepit, pasukan Belanda mendatangkan bantuan pasukan dari Semarang yaitu pasukan Korps Spaciale Troepen (KST). KST sendiri merupakan unit pasukan elit Belanda yang terkenal juga dikenal sebagai Pasukan Baret Hijau. Pasukan KST Belanda membalas serangan SWK 106 Arjuna dengan sekuat tenaga dan membabi buta dengan menembak setiap laki-laki yang dijumpai sehingga menimbulkan banyak korban dari kalangan sipil.

Puncak serangan umum di Surakarta terjadi pada tanggal 10 Agustus 1949. Serangan diawali oleh pasukan SWK 106 Arjuna dibawah pimpinan Mayor Achmadi yang berkekuatan sekitar 2000 orang. Serangan dari pihak Republik menjadi lebih kuat karena mendapat bantuan dari Brigade V di bawah pimpinan Letkol Slamet Riyadi yang datang dari luar kota. Serangan habis-habisan dipimpin langsung oleh Letkol Slamet Riyadi dengan menggempur kota Surakarta dari empat penjuru.

Pihak Geriliya pada umumnya mengambil peranan sebagai penyerang, sedangkan pihak pasukan Belanda hanya bertahan. Pada beberapa titik terdapat serangan balasan dari pasukan Belanda menggunakan tank dan kendaraan tempur mereka. Selain itu, Belanda juga mengerahkan enam pesawat terbang yang menjatuhkan bom dan menembaki para gerilyawan. Belanda melakukan serangan secara membabi buta sepanjang siang hingga hingga sore hari sehingga banyak menelan korban dari penduduk sipil. Beberapa rumah warga seperti di Wangkung, Laweyan, Kabangan, Pasar Kembang, Sambeng, Pasar Nongko dan beberapa tempat lainnya hangus terbakar.

Tepat pada pukul 24.00 tengah malam, tembak-menembak antara kedua belah pihak berhenti sesuai dengan instruksi caese fire yang telah ditetapkan sebelumnya. Pertempuran berakhir dan membawa keuntungan bagi pihak Republik Indonesia yang telah berhasil memukul pasukan Belanda hingga menguasai tiga perempat Kota Surakarta. Keberhasilan Serangan Umum Empat Hari di Surakarta juga berakibat menurunkan moril pasukan musuh dan sebaliknya ikut meningkatkan kepercayaan rakyat terhadap TNI. Keberhasilan tersebut sekaligus menjadi dukungan bagi proses diplomasi yang dijalankan oleh pemerintahan sipil Republik Indonesia dalam menghadapi Konferensi Meja Bundar dan menguatkan posisi tawar untuk menekan posisi Belanda di PBB.

Daftar Pustaka:

Pratama, Unggul. journal.student.uny.ac.id. “Peran Swk 106 Arjuna Dalam Mepertahankan Kemerdekaan Di Surakarta 1948-1950”. 2017, 2.4.

Rahmawati, Sri Bulan dan Romadi Abdul Muntholib. Journal of Indonesian History. “Pertempuran Empat Hari di Kota Surakarta Tahun 1949”. Vol 5 (1) (2016)

Spoor, Julius. 2009. Doorstoot Naar Djokja Pertikaan Sipil Militer. Jakarta: Penerbit Kompas

Tirnando, Rizki, Ridwan Melay dan Bunari. Jurnal Jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial Pendidikan Sejarah FKIP Univerisitas Riau. “Peran Tentara Pelajar Dalam Pertempuran Empat Ahri di Solo pada 1949”.