Simbol Bulan Sabit dan Kaitannya dengan Peradaban Islam

simbol bulan sabit islam

Seorang filsuf bernama Ernst Cassier pernah berpendapat bahwa manusia merupakan homo symbolicum atau makhluk yang bersimbol. Manusia merupakan satu-satunya makhluk yang begitu banyak menciptakan serta mempergunakan sekian banyak simbol-simbol untuk memenuhi kebutuhan, berinteraksi, dan mengatur pola perilaku hidupnya. Kemampuan unik tersebut pulalah yang melahirkan berbagai macam kebudayaan manusia yang beraneka ragam di berbagai belahan dunia. Sepanjang peradabannya, manusia telah menciptakan beraneka ragam simbol–baik verbal maupun non verbal–yang tak sedikit di antaranya yang kini dipahami secara universal di seluruh dunia.

Di antara berbagai simbol tersebut, salah satu simbol yang paling banyak dipakai di dunia yaitu simbol bulan sabit. Sejak lama simbol bulan sabit diidentikkan dengan umat Islam. Hal tersebut  bisa dilihat pada banyaknya negara-negara muslim yang menggunakan simbol bulan sabit pada bendera mereka, seperti Turki, Pakistan, Tunisia, Aljazair, dan masih banyak lainnya. Di Indonesia sendiri lambang bulan sabit juga banyak digunakan dalam logo organisasi-organisasi Islam, komunitas-komunitas, serta partai politik yang beraliran Islam. Bahkan saking eratnya lambang bulan sabit dengan kebudayaan Islam maka tidak jarang ditemui bagian kubah maupun menara masjid yang berhiaskan lambang tersebut.

Meskipun demikian sebenarnya simbol bulan sabit telah jauh digunakan oleh peradaban manusia bahkan sejak sebelum lahirnya kebudayaan Islam. Salah satu bukti tertua ditemukan pada prasasti peninggalan peradaban Babilonia yang diperkirakan berasal dari abad 10 SM. Pada prasasti tersebut terdapat ukiran bulan sabit sebagai penggambaran Dewa Sin (Dewa Bulan).

Peninggalan lainnya yaitu terdapat pada penemuan koin bergambar bulan sabit dan bintang yang ditemukan di Kota Terentum, Italia–yang diperkirakan berasal dari abad 3 SM. Penemuan koin bergambar bulan sabit juga ditemukan dari peninggalan Kekaisaran Romawi yang diperkirakan berasal dari sekitar abad 1 SM.

Baca Juga  6 Saluran Islamisasi di Indonesia

Pada awal peradaban Islam, kaum muslim sebenarnya tidak memiliki simbol-simbol khusus untuk mengidentifikasikan diri mereka. Pada zaman Nabi Muhammad umat Islam hanya menggunakan bendera berwarna hitam atau putih tanpa hiasan apa pun. Pada perkembangan selanjutnya bendera tersebut kemudian dihiasi dengan kalimat “Laillahaillallah” sebagai bentuk perlambang kesetiaan mereka kepada agama Islam.

Penggunaan simbol bulan sabit pada peradaban Islam baru terjadi setelah penaklukan Kekhalifahan Turki Usmani terhadap kota Byzantium/Konstantinopel pada 1453. Kota tersebut sebelumnya telah menggunakan simbol bulan sabit sebagai lambang kota. Setelah penaklukan, Sultan Muhammad II mengadopsi simbol bulan sabit tersebut ke dalam bendera Kekhalifahan Turki Usmani.

Kisah lain mengatakan bahwa bendera bulan sabit pada Kekhalifahan Turki Usmani merupakan penggambaran dari wilayah kekuasaan Turki yang membentang dari Timur Tengah, Mediterania hingga Afrika Utara. Wilayah yang terbentang tersebut secara kasar membentuk seperti gambar bulan sabit.

Kekhalifahan Turki Usmani sebagai pusat kekuasaan Islam yang bertahan hingga berabad-abad serta peperangan yang dijalaninya dengan kerajaan-kerajaan Kristen Eropa akhirnya menciptakan asosiasi bahwa lambang bulan sabit sebagai lambang umat Islam. Bahkan setelah keruntuhannya, bekas wilayah Kekhalifahan Turki Usmani yang kini terpecah menjadi negara-negara merdeka banyak yang masih tetap menggunakan lambang bulan sabit dalam benderanya. Tidak hanya itu, negara-negara mayoritas muslim lainnya yang tidak terkait Turki Usmani juga banyak yang mengadopsi lambang tersebut. Akhirnya, selama waktu berjalan simbol bulan sabit kini sering diidentikkan sebagai simbol milik umat Islam.

Sumber:

Mike Markowitz. 2017. “The Star and Crescent on Ancient Coins”. https://coinweek.com/ancient-coins/star-crescent-ancient-coins/

Huda. 2018. “A History of the Crescent Moon in Islam”. https://www.learnreligions.com/the-crescent-moon-a-symbol-of-islam-2004351

.

Penulis: Ardiyan Agung Nugroho

Editor: Fastabiqul Hakim

Baca Juga  Sejarah Berdirinya Partai Komunis Australia