Solusi Airlangga untuk Menghindari Perang Saudara

airlangga membagi kerajaan

Pada tahun 928 masehi Pu Sindok memindahkan pusat Kerajaan Mataram dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Banyak teori yang menyebutkan alasan dipindahnya ibu kota kerajaan tersebut. Salah satu contohnya pendapat dari van Bemmelen yang mengatakan perpindahan ibu kota diakibatkan meletusnya Gunung Merapi. Raja Pu Sindok ini menjadi awal dari lahirnya wangsa baru yaitu Wangsa Isana.

Airlangga merupakan salah satu penerus dari Wangsa Isana (Pu Sindok), yang naik tahta setelah masa pemerintahan Dharmmawangsa Teguh. Airlangga dinobatkan menjadi raja pada tahun 1019 masehi dengan gelar Rake Halu Sri Lokeswara Dharmmawangsa Airlangga.

Masa Pemerintahan Airlangga dapat dikatakan cukup terang. Di masa pemerintahannya Airlangga bahkan dapat menundukkan daerah-daerah lain. Dia membangun kembali kerajaan yang sempat hancur saat pemerintahan Dharmmawangsa Teguh.

Di akhir masa pemerintahannya, anak dari Dharmmawangsa Teguh yang bernama Samarawijaya meminta haknya untuk menjadi raja. Sementara itu, dia juga memiliki seorang putra bernama Mapanji Garasakan yang juga ingin menjadi penerusnya.

Masa Pemerintahan Airlangga

Sepeninggal Dharmmawangsa Teguh akibat serangan Haji Wurawari, Airlangga menjadi penerus tahta kerajaan Mataram di Jawa Timur. Saat itu Airlangga berhasil menyelamatkan diri dari serangan tersebut kemudian masuk ke hutan dengan hambanya yaitu Narottama.

Setelah mendapatkan restu dari para pendeta dan rakyat, pada tahun 941 saka (1019 M) Airlangga dinobatkan menjadi raja dengan gelar Rake Halu Sri Lokeswara Dharmmawangsa Airlangga. Saat itu kerajaan mengalami krisis kepercayaan dan perpecahan. Naiknya Airlangga ini diharapkan agar dapat memperbaiki keadaan tersebut (A. Imran, 2012: 190).

Pada masa pemerintahan Airlangga dapat dikatakan cukup cerah. Terdapat tiga fase dalam pemeritahannya yaitu fase konsolidasi, masa keemasan, masa akhir pemerinta han. Fase konsolidasi ini merupakan penaklukkan Airlangga kepada kerajaan-kerajaan kecil di bawah pemerintahan Mataram yang malah melakukan pemberontakan pada masa Dharmmawangsa Teguh (A. Imran, 2012: 191).

Baca Juga  Islam Masuk ke Nusantara pada Abad ke-7 atau ke-13 Masehi?

Dalam Prasasti Pucangan didapatkan keterangan mengenai penyerangan kepada musuh-musuhnya yang pernah menyerang Dharmmawangsa Teguh mulai dari tahun 951 Saka (1029 M) sampai tahun 959 saka (1037 M).  Pertama Airlangga menyerang Wuratan dan berhsasil ditaklukkan. Kemudian penyerangan dilanjutkan kepada Haji Wengker yang bernama Panuda. Dia ternyata dapat melarikan diri, anaknya dapat dikalahkan dan kratonnya juga dihancurkan (M.D. Poesponegoro, 2008: 179).

Pada tahun 1032 M, Airlangga menyerang Haji Wurawari yang merupakan pelaku utama serangan pada kerajaannya. Airlangga berhasil menyingkirkannya dan dengan demikian para musuh-musuh Mataram berhasil untuk dilenyapkan.

Sekitar tahun 1030 M, Airlangga sudah berhasil mencapai kemajuan dalam perekonomiannya. Jawa saat itu berkembang menjadi daerah perdagangan jalur laut yang penting. Pelabuhan-pelabuhan Airlangga terdapat di teluk Surabaya dan di Tuban. Daerahnya menjadi tempat singgah para saudagar dari barat, seperti Tamil, Sinhala, Malabar, Cham, Khmer, dan Aceh (D. G. E. Hall, 1988: 67).

Dengan kejayaan pada masanya prasasti-prasasti yang dikeluarkan oleh Arlangga menyebutkan dirinya sebagai Cakrawatin, raja ideal yang memiliki moral yang baik dan dapat memimpin kelangsungan kehidupan di alam semesta. Bahkan dalam prasasti Pucangan disebutkan kalau Airlangga merupakan raja titisan atau penjelmaan dari Dewa Wisnu (A. Imran, 2012: 193).

Silsilah Raja Airlangga

Raja Airlangga merupakan keturunan dari Wangsa Isana yang berawal dari Pu Sindok. Berdirinya Wangsa ini dibarengi dengan peristiwa perpindahan pusat Kerajaan Mataram ke Jawa Timur. Hal tersebut dikarenakan Pu Sindok bukan keturunan dari Wangsa Sanjaya ataupun Wangsa Sailendra.

Pu Sindok berkuasa dari tahun 929-948 M sebagai Raja Mataram. Menurut Prasasti Pucangan, kemudian Pu Sindok digantikan oleh putrinya yaitu Sri Isyanatunggawijaya. Dia menikah dengan Sri Lokapala. Mereka berdua memiliki putra Sri Makutawangsawarddhana yang juga naik tahta sebagai raja (M.D. Poesponegoro, 2008: 170).

Baca Juga  Representasi Film Hotel Rwanda terhadap Genosida di Rwanda 1994

Sri Makutawangsawarddhana memiliki dua orang putra yaitu Dharmmawangsa Teguh dan Mahendradatta. Kemudian Dharmmawangsa Teguh yang menjadi pewaris tahta kerajaan. Dia memiliki anak bernama Samarawijaya, sedangkan Mahendradatta merupakan ayah dari Airlangga.

Dharmmawangsa Teguh memerintah di Mataram hingga tahun 1017 M. Dharmmawangsa Teguh meninggal akibat pemberontakan dari Haji Wurawari kerajaan kecil di bawah pemerintahannya.

Samariwijaya waktu itu masih terlalu muda untuk menjadi raja. Airlangga yang ikut selamat dari pemberontakan tersebut menggantikannya menjadi raja. Setelah menjadi raja ia memiliki seorang putri yaitu Sri Sanggramawijaya Dharmmaprashadottunggadewi yang langsung dinobatkan menjadi putri mahkota (M.D. Poesponegoro, 2008: 261).

Pembagian Kerajaan oleh Airlangga

Pembagian kerajaan merupakan pemecahan sebuah kerajaan menjadi beberapa kerajaan baru, wilayah, raja, dan pemerintahan baru. Pembagian kerajaan biasanya terjadi akibat adanya perang saudara atau adanya perebutan tahta kerajaan. Contoh dari pembagian kerajaan yang masih terlihat yaitu Mataram Islam pada perjanjian Giyanti yang dibagi menjadi dua, Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Ngayogyakarta.

Masalah timbul pada masa pemerintahan Airlangga ketika Samarawijaya sudah berumur lebih dari 20 tahun. Ia menuntut haknya menjadi raja di Mataram. Samarawijaya merupakan anak Dharmmawangsa Teguh raja yang memrintah sebelum Airlangga.

Sebelumnya Airlangga sudah menetapkan pewarisnya yaitu putri mahkota Sri Sanggramawijaya. Dengan terpaksa Airlangga menyerahkan kedudukan putra mahkota kepada saudara sepupunya. Samarawijaya pun menyandang sebagai putra mahkota Mataram.

Berdasarkan Prasasti Gandhakuti setelah membangun pertapaan di Pucangan dan tanah-tanah sima-nya, Airlangga memutuskan untuk mengundurkan diri dari kerajaan. Kemudian Airlangga memilih menjadi pendeta dengan gelar Aji Paduka Mpungku Sang Pinakacatraning Bhuwana. Putrinya Sri Sanggramawijaya juga terpaksa melepaskan kedudukan sebagai putri mahkota dan memilih menjadi pertapa di pertapaan Gandhakuti (M.D. Poesponegoro, 2008: 262).

Tindakan yang dilakukan oleh Airlangga dimungkinkan akan menimbulkan masalah baru yaitu perang saudara. Hal tersebut dikarenakan Airlangga ternyata juga memiliki anak kedua bernama Mapanji Garasakan. Adik dari Sri Sanggramawijaya itu mungkin saja akan menentang keputusan yang dilakukan oleh Airlangga.

Baca Juga  Biografi Christian Snouck Hurgronje, Tokoh Orientalis Asal Belanda

Supaya dapat mencegah hal tersebut Airlangga melakukan tindakan yang tidak wajar dengan membagi Kerajaan Mataram menjadi dua. Mungkin keputusan ini terinspirasi dari kisah Mahabharata ketika Hastinapura dibagi menjadi dua. Hastina menjadi milik Kurawa dan Amarta (Indraprastha) untuk para Pandawa. Tetapi itu juga tidak membawa penyelesaian dengan ditunjukkan adanya Perang Bharatayudha.

Pembagian kerajaan ini terdapat dalam prasasti Turun Hyang B yang berisi tentang pemberian anugrah tambahan kepada penduduk Desa Turun Hyang, sebelumya telah mendapat anugrah dari Airlangga (Prasasti Turun Hyang A). Pemberian anugrah dilakukan karena jasa-jasa penduduknya membantu Raja Mapanji Garasakan di dalam peperangan pada waktu raja memisahkan diri dari Haji Panjalu (Boechari, 1968: 3). Sehingga dapat dianggap memang sebenarnya pembagian kerajaan dilakukan oleh Airlangga (Suwardono, 2019: 127).

Walaupun Airlangga tahu akan kisah itu, pembagian kerajaan merupakan satu-satunya solusi untuk mengatasi perang saudara. Dengan demikian pada tahun 1042 M kerajaan dibagi menjadi dua. Pertama, Kerajaan Pangjalu dengan ibu kota lama yaitu Dahanapura yang diberikan kepada Samarawijaya. Kedua, Kerajaan Jenggala yang berarti hutan, dengan ibu kota mungkin di Kahuripan yang diserahkan kepada anak Airlangga yaitu Mapanji Garasakan. Kedua kerajaan tersebut dipisahkan oleh Sungai Lamong.

Kerajaan Pangjalu ini dihubungkan dengan Kerajaan Kadiri. Bahwa Kadiri ini merupakan nama satuan kewilayahan negara dan ibukotanya yaitu Daha. Ibu kota Daha in dipindah di Kadiri. Pada Prasasti Hantang terdapat tulisan yang besar melingkar di tengah cap kerajaan berupa Narasingha yang berbunyi pangjalu jayati yang artinya Pangjalu menang. Prasasti ini dikeluarkan pada masa pemerintahan Jayabhaya di Kadiri.

.

Penulis: Fastabiqul Hakim

Editor: Adien Tsaqif