Strategi Dakwah Islam yang Dilakukan Walisongo

Strategi Dakwah Islam yang Dilakukan Walisongo

Dalam melaksanakan dakwahnya di Pulau Jawa tentu para Walisongo mempunyai strategi dan metode dakwahnya masing-masing, mengingat masyarakat Jawa pada waktu itu–terutama yang berada di daerah pedalaman itu sangat memegang teguh ajaran mereka.

Oleh karenanya para Walisongo ini pun tidak serta merta langsung mencekoki mereka dengan ajaran Islam, namun harus melalui pendekatan serta strategi dakwah yang kiranya mereka dapat menerimanya.

Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik) pada awal kedatangannya ke Jawa kira-kira pada tahun 1379 M itu beliau tidak serta merta langsung berdakwah dan menyebarkan Islam secara masif, namun beliau berdakwah itu secara perlahan-lahan dan juga tetap menghormati adat istiadat setempat.

Selain itu beliau juga kerap berbagi kepada masyarakat setempat terutama yang kurang mampu dan mengajari mereka bercocok tanam.

Sifat-sifat yang ditunjukan Sunan Gresik inilah yang agaknya membuat para penduduk setempat kian lama makin tertarik terhadap ajaran Islam yang dibawa Sunan Gresik ini hingga pada akhirnya beliau berhasil mendirikan pesantren di Desa Sawo (Bambang Suhermanto, 2008: 62).

Raden Rahmat (Sunan Ampel) ini agaknya bisa dibilang mempunyai akses lebih untuk menyebarkan Islam karena seperti yang kita ketahui bahwasannya Raden Rahmat yang dari keluarga Kerajaan Campa ini juga adalah kerabat Kerajaan Majapahit juga karena bibinya yang bernama Putri Dwarawati itu menikah dengan Raja Brawijaya V.

Berbeda dengan Sunan Gresik yang pendekatan dakwahnya adalah masyarakat bawah, Sunan Ampel ini justru pendekatan dakwahnya adalah para bangsawan Majapahit. Kemudian sama seperti Sunan Gresik Sunan Ampel ini juga pada akhirnya mendirikan pesantren di daerah Surabaya (sekarang) (Bambang Suhermanto, 2008: 64).

Raden Paku (Sunan Giri) ini sadar bahwasanya orang Jawa itu sangat menyukai kidung dan tembang oleh karenanya metode dakwahnya pun  menggunakan gending dan tembang. Beberapa tembang yang diciptakan beliau antara lain Asmarandana dan Pucung.

Selain itu beliau juga memakai tarikat dalam dakwahnya yakni Tarikat Sattariyah. Beliau juga mendirikan pondok pesantren di Giri yang mana kemudian menjadi Giri Kedaton yang dipimpin langsung oleh beliau.

Kepopuleran pesantren Sunan Giri pun tidak hanya di Jawa bahkan sampai di luar Jawa yang mana banyak juga murid-murid Sunan Giri yang berasal dari luar Jawa yang mana diantaranya yakni Dato Ri Bandang dan Dato Ri Pattimang yang berasal dari Minangkabau yang kemudian menyebarkan Islam di Kalimantan dan Sulawesi.  

Baca Juga  4 Karya Sastra Peninggalan Kerajaan Kediri

Raden Makdum Ibrahim (Sunan Bonang) ini juga pendekatan dakwahnya agak mirip dengan Sunan Giri yakni memakai tembang dan gending. Salah satu gending yang beliau gubah adalah Gending Dharma. Selain itu juga beliau yang pelan-pelan mengubah upacara-upacara adat seperti 7 hari, 40 hari, 100 hari, mitoni dan lain sebagainya itu untuk diubah agar lebih bernafaskan Islam.

Raden Qosim (Sunan Drajad) sama seperti Sunan Gresik, beliau juga pendekatan dakwahnya adalah masyarakat bawah, selain itu beliau juga menggunakan tembang sebagai salah satu metode dakwahnya. Tembang yang beliau gubah adalah tembang Pangkur. Sunan Drajad juga mendirikan pesantren di daerah Lamongan (sekarang).

Sunan Kudus ini mengutamakan toleransi dalam dakwahnya yang mana dibuktikan dengan beliau membebaskan untuk tidak disembelihnya hewan Lembu (sapi) yang merupakan hewan suci bagi agama Hindu untuk dijadikan makanan di Kudus, bahkan hal ini masih lestari hingga kini. Lalu masjid yang beliau dirikan juga menyerupai bangunan candi Hindu. Selain itu beliau juga menggubah tembang Maskumambang dan Mijil.

Kemudian Sunan Kalijaga ini metode pendekatan dakwahnya ini menggunakan kesenian dan kebudayaan yang mana beliau banyak mengubah tradisi dan budaya setempat agar lebih bernafaskan Islam seperti pakaian, seni ukir, kentongan dan bedug, grebeg Mulud, Sekaten, wayang kulit, tembang, dan masih banyak lagi.

Semua metode/ strategi dakwah para Walisongo untuk lebih lengkapnya dijelaskan sebagai berikut:

1. Membangun dan Mendirikan Masjid Agung Demak

Faktor yang menyebabkan pentingnya dibangun masjid Demak adalah  Sebagai tempat ibadah tempat berkumpul, tempat pertemuan sumber ilmu dan sumber informasi keagamaan.

Sebagai langkah antisipasi barangkali suatu saat Ampel diserang Giri Wardhana dari darat karena pada tahun 1478 M pemberontak ini sedang menyerang dan menghancurkan Majapahit dan pada gilirannya Ampel akan jadi sasaran pula. Agar hal ini tidak terjadi maka dewan walisongo segera memindahkan pusat Islam dari Ampel ke Demak yang jauh dari Majapahit.

Baca Juga  Gardu: Sang Penjaga Memori yang Kini Mulai Terlupakan

Sebagai langkah taktis untuk mendatangkan penduduk Jawa yang masih banyak beragama Hindu-Budha. Dengan bentuk masjid yang terbuka dan mirip pendopo penduduk Jawa tidak akan “terkejut” melihatnya. Untuk mempersatukan dua klubu Dewan Walisongo yang sering berbeda pandangan yaitu kubu putihan dan kubu abangan dalam satu atap dan satu tujuan.

2. Mengembangkan Ajaran Tasawuf

Walisongo yang juga dikenal sebagai ahli sufi dalam penyebaran Islam ke Jawa memegang peranan yang sangat dominan. Dalam penyebaran itu beliau juga mengajarkan ilmu tasawuf. Dengan mengajarkan Ilmu Tasawuf, rupanya Walisongo berusaha mengambil alih kedudukan sentral para Pendeta, Guru, Resi dan Empu yang demikian dihormati dan dijadikan panutan oleh Masyarakat. Sejak pra-Islam di Jawa sudah dikenal empu resi manusia “Suci”.

Mereka memiliki kemampuan mistik dan kekebalan tubuh. Dalam suasana seperti itulah, walisongo melihat pentingnya menggantikan kedudukan mereka.

Selain itu, walisongo sangat pandai mengunakan daya lentur ajaran Islam untuk meneguhkan tradisi-tradisi setempat, terutama ajaran mistikisme lama yang berasal dari agama Hindu, yang memang mempunyai banyak persamaan dengan ajaran mistikisme Islam.

Namun tidak semua mistikisme Jawa diterima oleh Islam, paganistik dan hal yang prinsipal bertentangan dengan Islam, secara berangsur-angsur dihilangkan. Dari sisi intern dewan walisongo, penggunaan ajaran Tasawuf dimaksudkan sebagai jembatan utama mempersatukan aliran-aliran Sunni dan Syiah yang dianut anggota dewan walisonggo. Karena diantara mereka ada yang berfaham Syiah Syafi’iyah.

Selain itu, juga untuk menyeimbangkan pandanagan ‘Ulama Fiqhiyah dan ‘Ulama Tasawufiyah artinya memberi peluang kepada keduaanya untuk hidup dan berkembang secara seimbang.tanpa harus ada konfrontasi. Tasawuf merupakan salah satu faktor yang menyebabkan Islamisasi pulau Jawa dapat berlangsung.

Dan sampai sekarang pemeluk Islam di Jawa masih diliputi sikap-sikap sufistik dan kegemaran kepda hal-hal yang mengandung keramat. Hal ini dapat kita lihat pada risalah-risalah keagamaan berbahasa Jawa paling tua yang masih ada sampai sekarang, tampaknya menunjukkan adanya usaha mencari keseimbangan antara ajaran ketuhanan, fiqih dan tasawuf. Hal ini dapat kita lihat pada kitab pegangan di Pesantren yaitu kitab Bidayatul Hidayah karangan Imam Ghozali (berbahasa jawa).

Baca Juga  Apa Itu Marxisme?, Sebuah Pengertian Singkat

3. Mengembangkan Tradisi Keagamaan

Salah satu srategi penyebaran Islam yang efektif adalah melalui tradisi-tradisi yang berkembang di tenggah-tenggah kehidupan bermasyarakat. Dewan Walisongo menyadari bahwa pengembanagan tradisi seremonial yang ada dalam Islam perlu dikembangkan untuk mengimbangi tradisi Hindu-Budha dan animistik yang masih dianut sebagai besar rakyat.

Acara-acara seperti Maulud Nabi, Nisfu Sya‘Ban, Hari Raya Idul Fitri, Hari Raya Ketupat dan Hari Raya Idul Qurban segera dikembangkan. Perayaan perayaan yang dilakukan untuk memperingati hari-hari besar Islam tersebut dengan cepat segera diikuti oleh masyarakat Jawa karena mereka sudah terbiasa melakukan perayaan keagamaan–yang pelaksanaannya mirip dengan agama Islam. Mereka tidak asing dengan acara-acara tersebut.

Walaupun demikian walisongo dalam mempengaruhi mereka tidak larut dalam tradisi budaya Jawa pra-Islam tetapi beliau berusaha mengisi tradisi-tradisi tersebut dengan nilai nilai Islam. Ini bisa kita lihat bagaimana halusnya Sunan Kalijaga dengan acara  Grebeg Maulud dan Gong Sekaten untuk mengajak orang mendekati masjid dan masuk Islam, serta menghadiri da’wah (Jama’ah wali).

Dapat kita lihat betapa halusnya Sunan Bonang memasukkan ajaran Islam pada upacara Mitoni atau Nujuh Bulan. acara yang semula berbau musyrik kemudian diganti dengan acara ritual Islam. Serta banyak acara-acara keagamaan yang dirubah oleh Sunan Kalijaga untuk diisi dengan nilai-nilai Islam. Hanya saja upaya yang dilakukan oleh beliau sedikit condong pada tradisi syiah (persia). Seperti upacara srada (upacara memperingati orang mati yang menghabiskan biaya banyak) dirubah dengan upacara telung dino, petung dino, petang puluh dino, satus dino dan seterusnya yang diisi dengan bacaan tahlil.

Demikian juga formulasi tahlil yang telah dilakukan seperti sekarang, pada dasarnya adalah ciptaan ‘Ulama-‘Ulama syiah dan isinya lebih berorientasi pada ajarannya dan pengagungan Ahlul Bait. Hal serupa terjadi dalam tradisi membaca qosidah diba’ dan berjanji yang merupakan karya ‘ulama Syiah.