Tan Malaka: Bapak Bangsa yang Terlupakan

tan malaka

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya”

Ir. Soekarno

Tan Malaka dalam catatan sejarah terbilang kontroversi dengan pemikirannya yang memunculkan beragam penilaian baik itu bersifat pro maupun kontra. Bisa dikatakan bahwa Tan Malaka merupakan pahlawan nasional yang paling tidak dikenal yang disebabkan oleh stigma yang berkembang di masyarakat yakni Tan Malaka merupakan tokoh komunis Indonesia dan komunis Internasional. Bahkan jujur saya pun dari TK sampai SMA kelas XI itu tidak mengetahui dan tidak pernah diajarkan tentang siapa itu Tan Malaka. Praktis saya baru mengetahui Tan Malaka itu saat kelas XII. Berbagai bentuk pengasingan terhadap sosok Tan Malaka ini memang terlihat jelas pada masa pemerintahan Orde Baru yang melakukan pembredelan terhadap karya-karya pemikiran Tan Malaka yang berbentuk buku. Bahkan dewasa ini saat sosok seorang Tan Malaka dan buku-bukunya mulai kian dikenal orang, tetap saja framing negatif terhadap sosok Tan Malaka dan karya-karyanya tetap saja ada dengan dijadikannya barang bukti buku Tan Malaka yang berjudul “Massa Aksi” dari seorang mahasiswa yang diduka provokator demo anarkis dan kelompok anarko beberapa waktu lalu oleh polisi. Ini tentu menjadi pro kontra baru yang seolah membuat citra yang buruk terhadap sosok Tan Malaka. Nah pada tulisan kali ini saya akan membahas siapa itu Tan Malaka dan bagaimana lika-liku hidup yang dilaluinya.  

Kehidupan Masa Muda Tan Malaka

Nagari Pandan Gadang berada di antara lintasan Koto Tinggi yang merupakan kota bersejarah karena dijadikan tempat pelarian pemerintah darurat RI setelah Belanda menduduki Yogyakarta pada Agresi Militer I. Sementara Manggani adalah tempat penghasil emas yang dibangun oleh Belanda pada kisaran dua dekade sebelum meninggalkan Indonesia. Tambang Manggani sendiri tidak berusia lama karena Belanda akhirnya menutupnya.

Antara Koto Tinggi dan Manggani masuk ke pedalaman Bukit Barisan dengan jarak 35 km di barat Payakumbuh, 75 km dari arah Bukittinggi, dan 165 km dari arah Padang. Pada akhir abad ke 19, Desa Nagari Pandan Gadang hanyalah bagian dari hutan belantara yang dihuni tidak lebih dari 200 orang. Di desa tersebutlah seorang Tan Malaka dilahirkan.

Tan Malaka–yang memiliki nama asli Sutan Ibrahim ini–lahir di Nagari Pandan Gadang, Kecamatan Suliki, Kabupaten Limo Puluh Koto, Payakumbuh, Sumatra Barat pada 2 Juni 1897. Nama Tan Malaka sendiri merupakan nama semi bangsawan yang diperoleh dari garis keturunan ibunya. Ayahnya bernama H.M. Rasad merupakan seorang pegawai pertanian Hindia Belanda, sedangkan ibunya Rangkayo Sinah merupakan orang yang cukup disegani di Pandan Gadang.

Sejak kecil Tan Malaka dididik dengan ajaran Islam secara ketat, ini sesuatu yang lazim bagi tradisi masyarakat Minangkabau yang cenderung religius. Bahkan sejak menginjak usia remaja Tan Malaka sudah memiliki kemampuan berbahasa Arab dan ilmu agama yang mumpuni jauh melebihi anak-anak sebayanya. Hal tersebut pun membuatnya dipercaya untuk menjadi guru muda di surau kampungnya. Namun tetap disisi lain Tan Malaka ini adalah anak yang terkenal nakal. Akibat kenakalannya, Tan Malaka pun acap kali sering mendapat hukuman dari orang tuanya terutama ibunya.

Walaupun Tan Malaka tergolong anak yang nakal tetapi di satu sisi ia merupakan anak yang cerdas dan berprestasi di sekolahnya. Setelah menyelesaikan sekolahnya di Bukittinggi pada tahun 1913, Tan Malaka sudah disiapkan oleh orang tua dan masyarakat Pandan Gadang untuk memperoleh gelar kehormatan Datuk Tan Malaka dan seorang wanita yang akan menjadi tunangannya. Akan tetapi Tan Malaka tidak bersedia untuk ditunangkan melainkan Tan Malaka hanya memilih bersedia untuk menerima gelar Datuk Tan Malaka.

Biasanya para penerima gelar Datuk diharuskan tinggal dan memimpin nagarinya, akan tetapi hal demikian tidak dilakukan Tan Malaka, cita-citanya menjadi seorang guru membuatnya memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi lagi untuk mendapat ijazah guru bahasa Belanda (Syaifudin, 2012:55).

Berkat kecerdasannya, keinginan yang keras dan tingkah lakunya yang sopan, Tan Malaka mendapat perhatian dari seorang guru Belanda yang bernama Horensma. Bahkan, Horensma menganggap Tan Malaka ini sebagai anaknya sendiri karena kebetulan Horensma ini tidak memiliki anak. Atas anjuran Horensma inilah, nantinya Tan Malaka dapat meneruskan pendidikannya ke Belanda.

Baca Juga  Biografi dan Gerakan Mao Zedong

Melanjutkan Pendidikan di Belanda         

Kebiasaan merantau bagi masyarakat Minangkabau merupakan salah satu cara untuk meraih kebebasan hidup. Dengan cara meninggalkan daerahnya, seseorang akan mengetahui posisi untuk dirinya sendiri melalui pengalamannya ia akan dapat berkembang. Tinggal di perantauan juga merupakan suatu pengorbanan dan memberi tanggung jawab tugas bagi yang merantau untuk nantinya menyampaikan ilmu yang telah didapat di tempat perantauan ke daerah asalnya.

Kecerdasan dan semangat belajar Tan Malaka membuatnya dapat melanjutkan pendidikan ke Belanda tentu atas dukungan banyak pihak. Atas jaminan harta benda keluarganya, maka didirikanlah Engkufonds yang disokong oleh para Engku di Suliki dengan mengumpulkan 50 Rupiah setiap bulannya. Uang tersebut digunakan untuk membantu Tan Malaka di Belanda selama 2 sampai 3 tahun. Tan Malaka pun berjanji bahwa ia akan membayar kembali kelak setelah pulang dari Negeri Belanda.

Pada bulan Oktober 1913, Tan Malaka pun meninggalkan kampungnya untuk belajar ke Negeri Belanda. Masa sulit di perantauan tidak hanya menyoal dana semata tetapi juga meliputi adaptasi dengan budaya dan lingkungan baru. Pada masa di Harleem, Belandalah Tan Malaka mengalami shock culture baik itu menyangkut sistem sosial budaya, iklim, maupun sandang pangan dan tempat tinggal yang puncaknya adalah tatkala Tan Malaka terserang penyakit pleuritis yang membuatnya harus pindah dari Harleem ke Buscum (Novi Fuji, 2017:16).

Selama di Belanda, pengetahuan Tan Malaka perihal revolusi mulai berkembang. Ia juga mulai mengenal para tokoh kaum radikal revolusioner. Pengetahuan tersebut didapatnya melalui membaca dan berdiskusi. Diskusi sering ia lakukan di rumah sewaan Jacobijnestraat bersama teman satu kosnya, yakni seorang imigran asal Belgia yang bernama Herman Wouters dan pemilik kos yang juga seorang buruh yakni Ny. Van der Mij (Syaifudin, 2012:57).

Pemahaman Tan Malaka soal revolusi semakin dalam selepas ia membaca buku de Fransche Revolutie, yang bisa dikatakan buku tersebutlah yang membuka pikiran-pikiran kritisnya. Buku tersebut tidak lain adalah pemberian guru sekaligus mentornya yakni Horensma pada saat berpisah di Teluk Bayur.

Pada saat menyelesaikan pendidikan di Belanda, Tan Malaka sempat diminta Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara) untuk mewakili Indische Vereninging dalam Kongres pemuda Indonesia dan pelajar ideologi di Kota Deventer. Melalui interaksi mahasiswa Indonesia dan Belanda, ia semakin yakin bahwa keyakinannya itu ia pegang secara konsisten. Itulah masa awal dalam pengembangan politiknya (Susilo, 2008:15).

Melalui pergolakan revolusi komunis Rusia yang telah berhasil meruntuhkan rezim tirani pada Oktober 1917, pengetahuan dan keyakinan Tan Malaka mulai bertambah untuk melakukan revolusi di Indonesia. Berangkat dari pergolakan tersebut, Tan Malaka mulai berkenalan dengan buku-buku yang mengulas tentang komunis ataupun sosialis serta para tokohnya seperti Marx-Engels maupun Lenin. Pada bulan November 1919, Tan Malaka dinyatakan telah berhasil menyelesaikan sekolah keguruannya dengan mendapat gelar Diploma Hulpactie. Setelah berhasil menyelesaikan pendidikannya di Belanda, Tan Malaka memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya.

Kepulangan Tan Malaka dilatarbelakangi semangat untuk mengubah nasib bangsanya. Namun, sesampainya di kampung halamannya, Tan Malaka dihadapkan pada persoalan hutang yang melilit keluarganya. Hutang tersebut tentu untuk biaya pendidikannya di Belanda. Perkara tersebutlah yang menyebabkan Tan Malaka akhirnya menerima tawaran pekerjaan dari Perkebunan Sanembah di Deli, Sumatra Timur. Pada Desember 1919, Tan Malaka mulai bekerja di perkebunan tersebut sebagai guru yang mengajar pelajaran menulis dan bahasa Melayu.

Dalam Pelarian dan Pengasingan        

Barangkali sudah menjadi suatu kebiasaan apabila orang-orang yang berpikir revolusioner seperti Tan Malaka akan mengalami pengasingan, hidup berpindah-pindah dalam pelarian, berada dalam bayang-bayang penangkapan dan lain sebagainya. Banyak negara-negara selain Belanda yang pernah ia singgah dan tinggali di antaranya seperti Uni Soviet, Filipina, Cina, dan Singapura. Meskipun berada di luar Indonesia, keberadaan Tan Malaka tetap dalam bayang-bayang penangkapan.

Di Uni Soviet pada tanggal 22 November 1922, Tan Malaka menjadi wakil PKI dalam Konferensi Komunis Internasional (Komintern) ke 4 di Moskow, Uni Soviet. Tan Malaka bahkan diangkat sebagai Wakil Komintern untuk wilayah Asia. Selama di Moskow, Tan Malaka bertemu dengan pemimpin Uni Soviet, Vladimir Lenin yang kala itu sedang sakit. Ia juga berkenalan dengan beberapa tokoh penting Uni Soviet seperti Joseph Stalin yang kala itu masih itu masih menjadi Sekjen Partai Komunis Uni Soviet, Trosky sang pemimpin Tentara Merah Soviet, Sinovief (ketua Kongres Komintern), Kalimin Rykoff, dan Kemenenv. Melalui perkenalan tersebut Tan Malaka membicarakan tentang perlunya bantuan dari Komintern terhadap gerakan-gerakan kemerdekaan yang sedang diusung oleh negara-negara di Asia.

Baca Juga  6 Saluran Islamisasi di Indonesia

Kemudian pada saat di Kanton, Cina, Tan Malaka ditemui oleh Ketua Partai Komunis cabang Kanton yakni Tan Ping Shan yang kemudian memperkenalkan Tan Malaka kepada Dr. Sun Yat Sen sang pemimpin revolusioner Cina. Pertemuan tersebut berlangsung pada bulan Desember 1923 di rumah Sun Yat Sen di Kanton. Sejak pertemuan tersebut Tan Malaka memakai nama baru yakni Ong Soong Lee.

Selanjutnya, kepergian Tan Malaka ke Filipina ditempuh dengan menggunakan paspor palsu dengan nama Hasan Ghozali, setiba di Manila kehidupan Tan Malaka dibantu oleh Dr. Mario Santos yang merupakan sahabatnya. Melalui sahabatnya inilah Tan Malaka mendapat tempat tinggal dan makan secara cuma-cuma di Asrama Manila University. Di Filipina pun Tan Malaka juga rajin menulis hingga akhirnya ia diundang oleh koran El Debate. Namun sial dalam perjalanan ia ditangkap oleh agen polisi. Tan Malaka pun berhasil bebas setelah Juan Fernandes (pemilik koran El Debate), membayar jaminan sebesar 10.000 Peso. Akibat kehadirannya yang dikhawatirkan akan memicu kebangkitan rakyat Filipina, maka Wakil Gubernur Jenderal Filipina, Gilmore menyuruh Tan Malaka meninggalkan Filipina untuk menuju Amoy.

Perjalanan Tan Malaka ke Amoy, Cina ditempuh dengan kapal Suzanna, akan tetapi sebelum Tan Malaka ini sampai, Pemerintah Amoy telah berencana untuk menangkap Tan Malaka. Namun Tan Malaka berhasil lolos dari upaya penangkapan tersebut atas bantuan Kapten Roro yang memanggil seorang Tionghoa bernama Pel untuk membawa Tan Malaka pergi dari kapal dengan menaiki sampan. Di Kota Amoy, Tan Malaka bertemu Fransisco Tan Quan (Ki Koq) yang kemudian mengajaknya ke Desa Siongching, desa tempat tinggal Ki Koq. Di sana Tan Malaka tinggal selama beberapa bulan hingga akhirnya wabah penyakit melanda desa tersebut yang membuat Tan Malaka akhirnya pindah ke Shanghai. Namun di Shanghai terjadi pertempuran antara tentara Jepang dengan kelompok Nasionalis Cina menyebabkan mau tak mau Tan Malaka harus meninggalkan Shanghai.

Pada Oktober 1932, Tan Malaka sampai di Hongkong dengan menggunakan paspor Ong Soong Lee, namun saat di Kota Kowloon ia ditangkap polisi Inggris dan dibawa ke Hongkong untuk diinterogasi. Selama 2,5 bulan, Tan Malaka dipenjara di Hongkong tanpa diadili. Karena tak kunjung diadili maka Tan Malaka pun kemudian diasingkan ke Shanghai. Namun Tan Malaka justru memutuskan berhenti di Amoy tepatnya ke Desa Iwe. Selama di sana berhubung kesehatannya menurun, Tan Malaka memutuskan untuk melakukan pengobatan di rumah Sinse Choa hingga 4 bulan kemudian keadaannya membaik. Di sana pun Tan Malaka mendirikan Foreign Languages School (kursus bahasa asing) untuk membantu pemuda-pemuda setempat lebih mudah untuk belajar karena pada waktu itu di sana buku-buku yang beredar berbahasa Inggris. Namun tatkala Tan Malaka sedang disibukkan dengan mengajarnya, keberadaan tentara Jepang semakin mendekati Amoy. Oleh karenanya pada Agustus 1937, Tan Malaka pun pergi dari Amoy menuju Singapura. Di sana ia menjadi guru matematika dan bahasa Inggris hingga pada tahun 1942, Tan Malaka pulang ke Hindia Belanda (Indonesia).

Babak Akhir Perjalanan Hidup Tan Malaka

Pada 10 Juni 1942, dengan mengaku sebagai Legas Hussein, Tan Malaka berlayar ke Medan. Dari Medan, Tan Malaka selanjutnya menuju ke Jawa. Ia mampir dulu di Padang mengaku sebagai Ramli Hussein, lalu melanjutkan perjalanan ke Lampung. Pada bulan Juli 1942, Tan Malaka tiba di Jakarta. Ia kemudian tinggal di Rawajati. Di Rawajati inilah Tan Malaka kemudian menulis buku Madilog dan Aslia. Pada tahun 1943, Tan Malaka kemudian menuju ke Banten. Di sana dengan menggunakan nama Ilyas Hussein, ia menjadi kerani di pertambangan batu bara di Bayah, Banten.

Baca Juga  Krisis Fashoda: Puncak Sengketa antara Inggris dan Prancis di Afrika (1898)

Pada 17 Agustus 1945, Tan Malaka sendiri tidak mengetahui bahwa Soekarno dan Hatta sudah memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ia baru mendengarnya dari orang-orang yang ramai membicarakan proklamasi di jalan. Terbatasnya peran Tan Malaka menurut Harry A. Poeze sungguh ironis, mengingat Tan Malaka adalah orang pertama yang menggagas soal Republik yang ia tuangkan dalam buku Naar de Republiek Indonesia yang ditulis pada tahun 1925 di Kanton. Buku tersebut bahkan menjadi pegangan bagi beberapa tokoh pergerakan termasuk Soekarno. Tan Malaka juga tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya, “rupanya sejarah proklamasi 17 Agustus tidak mengizinkan saya ikut campur tangan, hanya mengizinkan campur jiwa saja. Ini sangat saya sesalkan! Tetapi sejarah tidak memedulikan penjelasan seorang manusia atau golongan manusia” (Yandhrie Avrian dkk. Seri Buku Tempo Tan Malaka Bapak Republik yang Dilupakan hal 11).

Pada 9 September 1945, di kediaman dokter pribadi Soekarno, Tan Malaka bertemu dengan Soekarno. Dalam pertemuan tersebut Tan Malaka menyarankan Soekarno untuk menarik pemerintahan ke pedalaman yang mana ini merupakan strategi untuk mengusir Belanda ataupun Sekutu dari Indonesia. Mendengar pernyataan Tan Malaka yang begitu menggelora membuat Soekarno berkata pada Tan Malaka apabila ia harus tersingkir, maka Tan Malaka harus tampil sebagai penggantinya. Pada 19 September 1945 di Jakarta ia menggerakkan pemuda menggelar rapat Raksasa di lapangan Ikada (kawasan Monas sekarang). Kemudian di Purwokerto ia menggalang Kongres Persatuan Perjuangan untuk mengambil alih kekuasaan dari tangan Sekutu. Di Madiun, Tan Malaka dan Sukarni ditangkap pada 17 Maret 1946 karena persatuan perjuangan dituduh akan mengkudeta Soekarno-Hatta. Sejak itu, keduanya hidup dari penjara ke penjara di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di Magelang pada Juni 1948, Tan Malaka menulis buku autobiografinya yang diberi judul Dari Penjara ke Penjara. Pada 16 September 1948, Tan Malaka dibebaskan.

Kemudian di Yogyakarta, Tan Malaka dan Sukarni mendirikan Partai Murba pada 7 November 1948. Lalu hidup Tan Malaka akhirnya berakhir di kaki Gunung Wilis, tepatnya di Desa Selopanggung, Kediri, Jawa Timur pada 21 Februari 1949 setelah ditembak mati oleh Suradi Tebekek, seorang anggota Batalyon Sikatan dari Divisi Brawijaya atas perintah Letda Soekotjo. Kemudian jasadnya dimakamkan di tengah hutan dekat markas Soekotjo dan kematian Tan Malaka pun dirahasiakan bertahun-tahun.

Pengasingan tidak hanya dirasakan Tan Malaka semasa ia hidup, akan tetapi setelah kepergiannya pun ia tetap diasingkan dalam sejarah. Sebelum dan setelah meninggal dunia tidak sedikit yang mengenal sosok Tan Malaka. Selain dikenal sebagai sosok yang cerdas dan berani, ia juga terkenal sebagai pejuang revolusioner yang kesepian. Selain itu sosok Tan Malaka tidak pernah lepas dari labeling komunis. Labeling tersebut membuat Tan Malaka disegani dan ditakuti dari masa penjajahan Belanda hingga masa Orde Baru. Tan Malaka dianggap berbahaya karena berpikir dan bertindak revolusioner serta berpaham Marxisme, untuk alasan tersebut maka sepanjang hidupnya Tan Malaka tidak pernah lepas dari pengawasan bayang-bayang penangkapan dari berbagai polisi maupun tentara baik dalam negeri maupun luar negeri.

Kehidupan Tan Malaka selalu berpindah-pindah dari satu kota ke kota lainnya di Indonesia bahkan dari negara satu ke negara lainnya. Ia pernah dipenjara 13 kali. Selama berjuang di Indonesia ataupun negara lain Tan Malaka sering mendapat perlakuan buruk baik di negara lain maupun di negerinya sendiri. Ironisnya para penguasa di negerinya sendiri justru memperlakukannya jauh lebih buruk. Selama 2,5 tahun dipenjara tanpa diadili dan kemudian berakhir dengan dieksekusi oleh bangsanya sendiri menjadi ketragisan hidup yang harus diterima Tan Malaka. Lebih tragis lagi setelah ia tiada, sosoknya pun dijauhkan dari rekaman sejarah dan ingatan bangsanya sendiri.

.

Penulis: Almas Hammam Firdaus

Editor: Fastabiqul Hakim