Tentara Asing Jepang dalam Perang Dunia II dari Asia Timur

tentara asing jepang

Jepang tidak bisa menarik lagi ambisi mereka setelah tujuan Hokushin mereka yakni menguasai dunia ke arah utara terjadi begitu saja. Tahun 1931, Jepang telah mengobarkan perang lanjutan di daerah Cina daratan. Manchuria dianeksasi Jepang lalu dibuatlah negara boneka Manchukuo. Tahun 1933, Jepang keluar dari Liga Bangsa-Bangsa (LBB) yang secara tidak langsung, Jepang berani membuat aturan sendiri dan siap berperang dengan kompetitornya (Subagio, 2015). Inilah awal dari kehancuran sang negeri amaterasu-ano-kami.

Dalam peperangan, sumber daya manusia merupakan sebuah dasar untuk menentukan kekuatan. Oleh karena itu, unsur utama dalam pertempuran dan peperangan ialah manusia atau prajurit itu sendiri. Namun, manusia pun sebagai unsur tidak bisa dilepaskan dengan senjata (alutsista). Maka, kedua unsur ini merupakan dua hal secara kuantitatif dan kualitatif tidak dapat dipisahkan (Sebastian, 2015). Dengan begitu, dalam menganalisis sebuah perang si analisator perlu memperhatikan sebuah manpower yang terjadi seperti Jepang yang salah menganalisis kekuatan Sekutu terutama Amerika Serikat dalam Perang Dunia II.

Pada kesempatan ini, penulis mengangkat topik yang relevan dengan poin tadi. Dalam Perang Dunia II, Jepang sendiri merupakan negara yang tidak lebih besar dari Amerika Serikat sebagai kompetitor utamanya, lebih-lebih sekutunya seperti Inggris dan Belanda yang mempunyai koloni di Selatan Asia. Menyoal dinamika sejarah, jejak pemakaian serdadu asing sudah malang-melintang di berbagai pertempuran maupun peperangan. Menjadi kontradiksi, Perang Dunia II yang merupakan perang ideologi, sangat berkeyakinan pada ras atau golongan manusia misalnya Jerman yang percaya Arya dan fasis, Jepang yang percaya Ainu juga Shinto dan Uni Soviet yang percaya komunisme. Kendati demikian, pada akhirnya Jepang tetap merekrut serdadu asing. Bukan hanya direkrut sebagai tentara reguler, bahkan direkrut dalam unit khusus atau spesial.

Jepang Memobilisasi Tentara Asing dari Kawasan Asia Timur

Jepang sendiri memformat dua matra dalam angkatan bersenjatanya. Adalah Kaigun (Angkatan Laut) dan Rikugun (Angkatan Darat), yang keduanya terdapat friksi yang boleh jadi mengobarkan perang di Pasifik. Angkatan darat sendiri lebih mendapat tempat dalam Diet untuk berpolitik praktis setelah Tojo Hideki menjadi Kepala Staf  Tentara Kwantung hingga Perdana Menteri, yang membawa Jepang maju berperang demi ambisi dan keterpaksaannya (Sutimin, 2012, pp. 80-82) . Sementara itu, angkatan laut lebih memilih apatis namun, represif secara kolektif. Dari kedua matra tadi, dua-duanya mengangkut atau memobilisasi serdadu asing nantinya.

Dilihat dari jumlah penduduk dan luas wilayahnya Jepang tidaklah lebih besar dan baik dari Amerika Serikat. Pada tahun 1868, penduduk Jepang mencapai 31 juta jiwa dan meningkat hingga 70 juta jiwa pada tahun 1935. Di tahun tersebut pula terdapat 2 juta saja yang berstatus ningrat atau aristokrat juga kaum samurai, dan 29 juta jiwa selebihnya merupakan petani dan pekebun, hal tersebut menjadi naik dalam komposisi 70 juta jiwa tadi bukan hanya sebagai petani karena hanya 17% tanah di Jepang pada tahun 1868 yang dapat diolah. Lantas, mereka banyak dipekerjakan menjadi buruh di pabrik (Sluimers, 1952). Dengan begitu, Jepang harus memulai perang dengan sumber daya manusia yang tidak mencukupi dan memadai baik arah Hokushin (1895-1945) maupun Nanshin (1940-1945).

Di tahun 1894, sebagai imbas meningkatnya moral dan peningkatan indikator kemajuannya maka, Jepang harus berperang melawan Cina di daerah sekitar Korea maupun di Laut Cina Selatan. Kalahnya Qing 1895, membuahkan Perjanjian Shimonoseki dengan hasil yang cukup merugikan Qing sendiri. Qing harus melepaskan daerah di antaranya Taiwan dan mengakui kemerdekaan Korea yang segera disahkan menjadi bagian koloninya 1910 (Lan, 1952, pp. 215-216). Kedua daerah tersebut nantinya menjadi daerah koloni yang menyumbangkan bukan hanya sebagai daerah pemasaran dan penghasil sumber daya industri Jepang pun menyumbang manpower di bawah kesatuan Tentara Kekaisaran Jepang.

Baca Juga  Sejarah Ideologi Konsumerisme

Lazimnya seperti kebanyakan negara-negara imperialis untuk menstimuluskan, diajarkanlah nilai-nilai atau budaya dalam negara jajahannya itu, tidak terkecuali Korea dan Taiwan. Kedua negara inilah, berperan dalam mengirim serdadunya ke kancah Perang Asia Timur Raya itu. Dimana di antara mereka rela mati untuk Jepang seperti yang diajarkan oleh “tuan” mereka yang rasis. Dalam perkembangan selanjutnya, 1937 Jepang telah memulai perang yang dikobarkan di Cina. Menyoal soal keterbatasan sumber daya manusia (manpower), Jepang membuat rencana rekrutmen serdadu dari Taiwan yang sebelumnya tidak pernah dibuat oleh Pemerintah Kolonial Jepang sebelumnya. Jepang membuat tipu daya yang dimaksudkan agar mereka direkrut sebagai serdadu untuk kembali ke daratan utama Cina bersama “tuan” mereka Jepang (You, 1996, pp. 161-201).

Tidak hanya tentara kulit kuning Cina yang direkrut, Jepang juga memfasilitasi atau menyediakan tempat bagi suku pribumi Pulau Formosa (Taiwanese Aborigines) dalam kesempatannya. Mereka ini nantinya dinamai dengan nama Sukarelawan Takasago. Mereka tidak mendapat perbedaan layaknya prajurit dari kulit kuning lainnya, tentu saja mereka juga banyak di latih tempur di Sekolah Nakano. Jepang justru menganggap mereka sebagai unit tempur yang ganas sehingga, diberikanlah keistimewaan pada mereka secara simbolik yakni, dengan dibuatkannya senjata khusus mirip parang dengan nama giyuto. Di tahun 1942, terdapat 1,000 orang yang diterima dan dilatih dari 4,000 pendaftar. Yang sebelumnya telah diwartakan pembukaan rekrutmen kombatan oleh Gubernur Jenderal Hasegawa Kiyoshi, Juni 1941 sebagai tentara reguler disamakan statusnya sebagai buruh (Bo, 2018).

Seperti halnya kasus di Taiwan, Korea juga tidak luput rencana perekrutan. Model yang digunakan oleh Jepang sama halnya yang terjadi bagi Taiwan namun, Korea lebih dahulu lima tahun dari Taiwan. Perekrutan terjadi masif di tahun 1938. Kendati demikian, Jepang hanya sedikit sekali menerima pendaftar dari jumlah 2,946 hanya 406 orang yang diterima (Katroska, 2006). Jumlah itu sebenarnya terus naik sebab kebutuhan manpower yang sedikit sekali terlebih, kilas balik Jepang di Guadal Canal, Pasifik 1942-1943.

Kiprah Tentara Asing dari Asia Timur Selama Perang Dunia II

Taiwan dan Korea memberi sumbangsih yang besar pada cita-cita Jepang dalam pembentukan Asia Timur Raya itu. Dalam perkembangannya, Sukarelawan Korea dimobilisasi dalam matra darat (Rikugun) masyhur berperang di daerah Manchuria. Selain sebagai tentara reguler (ilbon gunnin-dalam Bahasa Korea), mereka banyak diperbantukan sebagai tentara dalam rincikan penjaga kamp tahanan atau sipir (phorokamsiwon-dalam Bahasa Korea) (Sandler, 2001, p. 522) . Penjaga kamp tahanan ini ditempatkan di berbagai tempat di Pasifik yang sekitar 3,000 orang bergabung dalam kesatuan ini, di antaranya pun banyak dijumpai di Jawa yang berasal dari Korea bagian Selatan.  Iming-iming gaji lumayan serta disamakan statusnya sebagai buruh ialah faktor ketertarikan pada pemuda Korea berdasarkan keadaan di Korea yang terjajah, sulit untuk mencari penghidupan.

Korea tercatat mengirim 150,000 prajurit ke medan pertempuran. Dari jumlah tersebut 80,000 di antaranya bergabung dengan Angkatan Laut Jepang (Kaigun) dan selebihnya 70,000 bergabung dalam Angkatan Darat (Rikugun). Sebelumnya, Manchuria tepatnya Nomonhan 1939-1945 melawan Uni Soviet dan Mongolia pro-Soviet. Korea Gunzoku ini sedianya dimobilisasi dalam jumlah melimpah pada kampanye di Burma 1941-1945 dan Nugini Australia dan Papua Belanda 1942-1944 melawan sekutu (Jowett, 2002, p. 21). Uniknya dalam kampanye di Burma, Inggris juga mengerahkan British Indian Army (BIA) dan Burma yang juga merupakan satuan serdadu asing asal India dan Burma.

Sementara itu, Taiwan yang dimobilisasi Jepang dalam Unit Takasago sedianya dimuat dalam front Pasifik atau Nanshin. Dibuat dalam dua unit yakni, 1st and 2nd Raiding Companies dibawah perwira Jepang. Kemampuan mereka sangat mumpuni karena dilatih skema gerilya di Nakano intelligence school yang kemudian banyak dari mereka banyak yang namanya di-Jepang-kan. Banyak dari mereka dikirim ke Filipina menjelang Perang Dunia II berakhir 1944-1945 (Jowett, 2002, p. 21). Oleh karena itu, banyak di antara Unit Takasago ini ditempatkan dalam tubuh Angkatan Darat (Rikugun).

Baca Juga  Lingkaran Wina: Gerakan dalam Bidang Filsafat untuk Mencapai Kebenaran Ilmiah

Dalam Perang Dunia II, Sukarelawan Takasago atau Unit Taiwan ini paling masyhur berada dalam pertempuran di Filipina. Satu di antaranya ialah Manila, dengan banyak jatuh korban jiwa di kedua belah pihak tahun 1944-1945 terutama Sukarelawan Takasago sendiri. Jepang mati-matian mempertahankan Filipina dengan mengirim banyak pasukan mengingat kekalahan pada Kampanye Nugini yang telah lalu. Pada saat itu, Rikugun berada dibawah komando Kolonel Tomoyuki Yamashita dalam Pertempuran di Manila (1945) yang terkenal atas keberaniannya dalam menghabisi Malaya, sehingga disebut “Harimau Malaya”. Sementara itu, Kaigun berada dalam komando Wakil Panglima Jisaburo Ozawa dalam Pertempuran Leyte (1944). Keduanya sejatinya ialah veteran tempur di Malaya bahkan, Ozawa pernah ambil bagian dalam serbuan ke Jawa Barat 1942. Dari 260,000 pasukan, sebanyak 190,000 korban jiwa dari pihak Jepang termasuk Sukarelawan Takasago selama Kampanye Filipina (Marston, 2005).

Dalam kampanye di Filipina, Jepang sempat mengerahkan Kaoru Detachment Unit. Mereka merupakan unit khusus yang merupakan tahap paripurna dalam tubuh Rikugun yang dimana di dalamnya terdapat sukarelawan dari Takasago. Tercatat mereka ambil bagian dalam Kampanye Leyte, Filipina tertanggal 25 Oktober 1945Markas Besar Tentara Kekaisaran Jepang, memberi maklumat setelah menimbang bargaining position aktivitas sekutu terhadap garnisun Jepang di Filipina. Mereka sedianya dikirim sebagai 3rd Raiding dan 4th Raiding Brigade yang berturut-turut sampai di Luzon, Filipina 11 dan 30 November 1944 (Takizawa, 2005, pp. 46-47). Mereka ini dimobilisasi guna menyukseskan Operasi Gi.

Selain unit Kaoru yang distempel sebagai unit khusus atau spesial, pun terdapat juga Giretsu Kutetai (Giretsu Airborne Unit) Rikugun, di antaranya berasal dari Taiwan atau Formosa. Sebuah ironi dimana mereka harus bertempur melindungi tanah majikannya Okinawa, 1945. Disatukan di Saitama airbase dan lebih lanjut di Nakano intelligence school sehingga, terciptalah lima peleton dengan kualifikasi komando. Akibat pendaratan Okinawa 1 April 1945 dan penguasaan Saipan, Mariana sarang bomber B29 oleh Sekutu,  Jepang merencanakan penerjunan di Pangkalan Yontan, Okinawa. Akhirnya, tanggal 23 Mei Jepang memberi perintah untuk beraksinya pasukan namun, karena situasi cuaca yang buruk, sedianya mereka beraksi pada 24 Mei sebagai ksatria bushido yang tak harap kembali. Setelah peristiwa itu, Jepang ternyata berambisi melakukan aksi yang serupa dalam kemasan Operasi Ken namun batal, karena pernyataan kekalahan Jepang 14 Agustus 1945 (Takizawa, 2005, pp. 53-58).

Dampak dan Nasibnya Pasca Kekalahan Jepang pada Perang Dunia II

Jepang bertekuk lutut pada Sekutu setelah pernyataan Kaisar Hirohito tertanggal 14 Agustus 1945 dalam suatu rekaman langsung. Bagi mereka yang telah mengabdi pada kaisar, nama mereka diabadikan dalam Kuil Yasukuni yang mana menjadi polemik bagi Korea dan Tiongkok hingga kini karena terdapat seremonial terhadap prajurit yang bertempur dalam Perang Dunia II yang mereka anggap sebagai penjahat perang. Hal itu sebenarnya klise, mengingat Tiongkok dan Korea pun turut mengirim sumber daya manusia dalam perang paling berdarah sepanjang sejarah umat manusia itu. Tercatat sebelum menjadi polemik akut, Korea Selatan pernah dipimpin oleh Park Chung Hee, presiden ketiga Korea Selatan yang ternyata pernah beraksi sebagai Letnan di Manchuria 1944 (John Sullivan, dkk, 1987, p. 67). Sementara itu, Lee Teng Teng Hui, yang merupakan Presiden Taiwan juga pernah berkontribusi dengan saudara laki-lakinya Lee Teng Chin yang tewas dalam Pertempuran Manila 1945. Ia selamat setelah perintah kembali ke Jepang membantu membersihkan negeri itu dari pemboman masif, Maret 1945 sampai kelulusannya 1946 di Universitas Kekaisaran Kyoto (Liu, 2007).

Baca Juga  Kegagalan Kubilai Khan dalam Menaklukkan Jawa Tahun 1293

Di antara kedua sosok tadi sebenarnya terdapat nama Yang Chil Sung alias Komarudin dan Attun Palanin alias Teruo Nakamura yang berperan mewarnai khazanah serdadu asing Jepang yang menolak menyerah pada musuh pasca kekalahan Nippon 1945. Yang Chil Sung yang pertama merupakan seorang phorokamsiwon namun, dicurigai ia merupakan ilbon gunnin karena tindak-tanduknya dalam serangkaian serangan terhadap Pasukan Belanda di Garut atau daerah Jawa Barat lainnya pada Revolusi Fisik Indonesia 1945-1949. Ia meninggal dieksekusi Selasa, 10 Agustus 1948 sebagai pejuang republikan dalam tubuh Pasukan Pangeran Papak (PPP) pun sebagai muslim, setelah tertangkapnya mereka dalam suatu konsolidasi di Desa Parentas, kaki Gunung Dora, Agustus 1948 akibat ulah mata-mata pribumi yang melaporkan kedudukan peristiwa itu (Jo, 2016).

Selanjutnya ialah Attun Palanin alias Teruo Nakamura. Ia merupakan Sukarelawan Takasago tahun 1943 yang kemudian dikirim ke Morotai pada awal 1944 yang unitnya sedianya ditugaskan guna persiapan invasi ke Benua Kanguru. Atas perintah atasannya, ia diperintah untuk tetap bertempur dalam satuan kecil kantong gerilya di dalam hutan untuk mengganggu kedudukan Sekutu di Morotai 1945. Namun, tertanggal 15 Maret dia justru diasumsikan meninggal atau hilang dalam pertempuran. Kendati setelah 29 tahun lamanya, Ia ditemukan 18 Desember 1974, TNI Angkatan Darat mengepung kedudukannya dalam hutan di Morotai. Pada akhirnya, ia kembali menyambung kehidupan rumah tangganya yang ia tinggal 30  tahun, mendapat kewarganegaraan Taiwan dengan nama baru Li-Kuang Hwei, hingga kematiannya 1979 akibat kanker (Trefalt, 2003).

Terlepas dari itu semua, terdapat banyak korban jiwa pasca perang dari kedua daerah asal tentara asing itu. Dari Taiwan terdapat 26,000 korban jiwa, dari Takasago terdapat sekitar ratusan korban jiwa, dan dari Korea terdapat ribuan korban jiwa yang diperkirakan. Pasca perang sedianya mereka akan dipulangkan ke negara majikannya, Jepang lalu dikembalikan ke negara asalnya. Tidak sedikit dari mereka turut berpartisipasi dalam Perang Saudara Cina (1945-1949) dan Perang Korea (1950-1953) seperti kedua sosok awal tadi. Namun, di antaranya turut diadili di pengadilan penjahat perang oleh Sekutu, seperti sukarelawan asal Korea, Letjen. Hong Sa-ik yang dijatuhi hukuman gantung di Filipina, 1946 (Sik, 2003).  

Kebutuhan akan manpower akan menjadi sebuah polemik menahun bagi setiap institusi militer maupun dalam format negara sekalipun. Belajar dari Jepang yang sudah getir sejak dimulainya Perang Cina-Jepang kedua (1937-1945) sekaligus Perang Pasifik (1941-1945) menuai banyak kelemahan, menguatkan posisi strategis manpower. Hal di atas pun mengindikasikan nafsu dan ambisi Jepang tidak berjalan padu dengan realitas yang sangat terlihat Jepang tidak mungkin menang dari peperangan. Sejak awal langkah perang Jepang dirasa kontroversial dan riskan, baik di  Hokushin maupun Nanshin memaksa memobilisasi tentara asing yang berlainan dengan semangat bangsa Jepang yang superior dalam dogma militer dan kepercayaan Shinto. Memobilisasi angkatan perang asing atau tentara asing memang dirasa sangat mengeksploitasi. Sejak adanya PBB, hal semacam itu belum pernah dibahas secara berlanjut. Perancis juga masih memobilisasi Legiun Asing mereka pasca Perang Dunia II juga Inggris dan Belanda itu sendiri dalam menghadapi semangat kemerdekaan pasca Perang Dunia II.

.

Penulis: Muhammad Ath Thaariq

Editor: Fastabiqul Hakim