Tokoh Filsafat Cina Kuno: Meng Zi, Han Fei Zi, Zhuang Zi, dan Mo Zi

Tokoh Filsafat Cina Kuno

 

Filsafat berawal dari asumsi yang diungkapkan pertama kali oleh Socrates (470-399 SM) bahwa an unexamined life is not worth living (hidup yang tidak diuji adalah hidup yang tidak berharga) dan while hard thinking about important issues disturbs it also consoles (meskipun berpikir mendalam tentang hal-hal penting itu menyusahkan, tetapi ia juga menyenangkan).[1]

Filsafat pertama kali dikenal pada masa Yunani Klasik, dimana tokoh yang mengawali lahirnya filsafat di Yunani Klasik adalah Thales (624-546 SM). Pada masa itu Yunani Klasik sangat kental dengan mitos-mitos. Para masyarakat Yunani Klasik percaya akan dewa-dewa yang mereka yakini sebagai penguasa alam semesta. Thales mencoba mendobrak mitos-mitos yang berkembang di Yunani Klasik. Hal ini kemudian lahir istilah filsafat yang berkembang pesat di Yunani dengan sifat dari mitos menuju logos.

Filsafat tidak hanya berkembang di Yunani saja. Pada saat filsafat sangat gencar pada masa Yunani Klasik sampai Kuno, Filsafat juga berkembang di dunia Timur, salah satunya adalah filsafat Cina. Dalam sejarah pemikiran, filsafat timur sangat berkontribusi. Khususnya ialah pada masa Cina kuno, dimana pada masa cina kuno lahir tokoh-tokoh filsafat dengan pemikirannya yang sangat berpengaruh dalam sejarah pemikiran. Filsafat cina kira-kira muncul pada abad ke 600-an SM yang ditandai dengan dibukanya sekolah-sekolah pendirina filosof Cina Kuno.

Para sejarawan setuju bahwa kemunculan filsafat Cina Kuno diawali dengan pemikiran Kong-Fu-Tse dengan ajaran Konfusius, Kong-Fu-Tse/ Kong Hu Cu hidup antara tahun 551 dan 497 S.M yakni pada era Dinasti Chou di utara. Setelah Kong-Fu-Tse wafat ajaran Konfusius diwariskan kepada para tokoh yang juga memberikan kontribusi pemikiran dalam bidang filsafat yakni Mau Tzu dan Mencius.[2]

Filsafat Cina Kuno juga lahir aliran-aliran filsafat yang pemikiranya saling bertentangan seperti ajaran Taoisme oleh Lao Tse yang hidup sekitar 550 S.M. Ajaran Lao Tse secara umum melawan ajaran Konfusius. Menurut Lao Tse, bukan “jalan manusia” melainkan “jalan alam”-lah yang merupakan Tao. Tao menurut Lao Tse adalah prinsip kenyataan objektif. Ada beberapa tokoh filosof Cina Kuno yang menganut ajaran Taoisme yakni Zhuangzi (Zhuang Zhou), dan Liezi (Lie Yukou).

Kemudian muncul aliran legalisme dengan tokohnya yakni Han Fei Zei. Pemikiran legalisme secara umum menentang ajaran Konfusius oleh Mencius yang menganggap bahwa manusia kodratnya baik, tetapi aliran legalisme menentangnya dengan pemikiran bahwa sesungguhnya manusia kodratnya adalah jahat.

Kemudian yang penulis sorot selanjutnya ialah aliran Mohisme, aliran Moisme didirikan oleh Mo Tse yang hidup antara 500-400 S.M. Menurut Mo Tse bahwa kehidupan manusia yang terpening adalah cinta universal, kemakmuran untuk semua orang, dan perjuangan bersama-sama untuk memusnahkan kejahatan.[3]

Sebenarnya masih banyak aliran-aliran filsafat yang berkembang pada masa Cina Kuno, tetapi pada tulisan ini penulis hanya mengambil empat tokoh, yakni Meng ZI dengan aliran Konfusius, Han Fei ZI dengan aliran Legalisme, Zhuang Zi yang menganut Taoisme, dan Mo Zi dengan ajaran Mohisme. Pada tulisan ini nantinya penulis akan menjabarkan tentang latar belakang serta pemikiran keempat tokoh tersebut.

Meng Zi 

Meng Zi atau lebih dikenal dengan Mencius adalah tokoh filsafat cina kuno yang hidup sekitar abad ke 4 SM, para sejarawan kebanyakan menyebutkan mencius hidup sekitar tahun 372-289 SM. Meng Zi  lahir di Mang Ko negara Zhou, dimana pada saat itu cina kuno berada pada masa perang besar antar kerajaan (476-289 SM).[4]

Meng Zi adalah penganut aliran konfusianisme/ konfusius yang merupakan ajaran dari Nabi Kong Hu Cu. Meng Zi kemudian melanjutkan ajaran konfusius dan melahirkan beberapa pemikiran yang sangat berpengaruh dalam sejarah pemikiran filsafat.

Meng Zi lahir ari keluarga menengah kebawah tetapi ada pendapat yang menyebutkan bahwa keluraga Meng Zi keturunan bangsawan. Pada waktu kecil Meng Zi sudah ditinggal ayahnya meninggal, kemudian Meng Zi diasuh ibunya yang sangat bijaksana.

Baca Juga  Kondisi Perekonomian pada Masa Pemerintahan Pu Sindok sampai Kerajaan Kediri

Diceritakan ibunya Meng Zi sangat memperhatikan Meng Zi terutama dalam hal pemdidikan. Sampai-sampai ibunya Meng Zi harus berpindah rumah tiga kali demi mendapatkan lingkungan yang baik untuk kehidupan anaknya.

Pada awalnya Meng Zi dan ibunya pertama kali tinggal di dekat pemakaman. Di pemakaman mereka menjumpai orang-orang berduka yang ditinggal mati. Tinggal di dekat pemakaman menjadikan ternyata malah membuat Meng Zi bersikap dan menirukan layaknya orang sedang berduka. Ibunya Meng Zi khawatir sikap Meng Zi yang menirukan orang yang berduka akan terbawa sampai ia dewasa.

Hal inilah yang kemudian membuat ibunya memutuskan untuk berpindah tempat tinggal lagi. Meng Zi dan ibunya akhirnya tinggal di dekat pasar. Lingkungan pasar sangat dipenuhi hiruk pikuk orang jual beli. Ternyata pindah rumah di dekat pasar membuat Meng Zi suka menirukan gaya orang jual beli. Ibunya khawatir lagi Meng Zi dikhawatirkan dewasa nanti akan bersikap layaknya penjual yang kadang suka berbohong. Akhirnya ibunya memutuskan untuk berpindah tempat tinggal lagi. Meng Zi dan ibunya berpindah di dekat sekolahan. Akhrinya tempat tinggal di dekat sekolahan inilah yang cocok untuk lingkngan Meng Zi. Disinilah Meng Zi juga menempuh pendidikan. Di sinilah Meng Zi mulai meniru perilaku, pidato, dan disiplin guru sehingga ia menjadi seorang sarjana hingga akhirnya Meng Zi  menjadi seorang pejabat dan guru di Jixa Academy di negara bagian Qi dan menjadi filsuf yang tersohor.[5]

Pemikiran Meng Zi

Seperti yang telah saya singgung sebelumnya bahwasanya Meng Zi ini hidup pada masa kekacauaan yakni perang perebutan kekuasaan yang terus menerus. Hidup di tengah kekacauan membuat Meng Zi berpikir untuk mencerahkan para penguasa dengan filsafat. Tidak hanya ditujukan kepada penguasa, pemikirannya ini juga memberikan dampak pada masyarakat Cina Kuno.

Menurut Meng Zi kodrat manusia adalah baik. Seseorang yang berbuat baik hakikatnya didorong oleh kesadarannya yang terdalam terhadap kodratnya. Sebaliknya orang yang tidak berbuat baik, tidak menyadari kodratnya alias lupa hakekat dirinya yang sesungguhnya.

Meng zi menjelaskan bahwa setiap manusia ada 4 buah hati , yakni (1) Empati, dalam keadaan normal manusia akan merasa kasihan kepada orang lain ketika dilanda kesusahan; (2) Malu berbuat jahat, pada dasarnya manusia sejatinya bersifat malu akan bertindak kejahatan, (3) Mau mengalah, menurutnya manusia dalam keadaan normal orang akan memberi kemudahan atau mengalah kepada orang lain yang lebih membutuhkan; (4) Membedakan benar dan salah, dalam keadaan normal manusia akan jujur mengakui mana suatu hal yang benar dan mana yang salah.

Menurut Meng Zi manusia seharusnya menjaga keempat buah hati tersebut agar selalu berfungsi melaksanakan tugasnya. Karena empat buah hati itu adalah jiwa yang memberikan nilai kemanusiaan dirinya. Itulah Inner Beauty karunia Tuhan yang tak ternilai harganya. Ke 4 hati itu harus selalu disirami, dirawat, di pupuk dan diberi anti hama serta dijaga kebersihan lingkungan, layaknya kita merawat tanaman di kebun, maka hasilnya akan mendapatkan buah yang manis subur serta indah dan menyenangkan. Inilah makna hidup manusia yang paling dasar sesungguhnya yang menjanjikan kebahagiaan.

Lalu mengapa manusia melakukan kejahatan? Menurut Meng Zi manusia bertindak jahat karena tiga hal, Pertama, kejahatan terjadi karena pengaruh lingkungan sosial.  Kedua, kejahatan terjadi karena orang menyangkal atau menolak kebaikan kodrati yang ada dalam dirinya. Mereka yang memandang diri terlalu negatif dan tanpa berharga, tak akan peduli dengan kebaikan.  Ketiga, kurang merefleksi diri. Semakin seseorang kurang merefleksi diri, semakin ia tidak mengenal kebaikan yang ada dalam dirinya.

Han Fei Zi (Legalisme)

Han Fei Zi atau biasa disebut Master Han lahir sekitar tahun 280 SM dan wafat sekitar tahun 233 SM. Han Fei Zi berasal dari keluarga bangsawan penguasa Han, ia belajar di bawah filsuf  aliran Konfusianisme bernama Xunzi. Tetapi ia meninggalkan dia karena tidak cocok dan kemudian masuk di sekolah lain dengan pemikiran yang lebih cocok dengannya.

Baca Juga  Gardu: Sang Penjaga Memori yang Kini Mulai Terlupakan

Ketika itulah Han Fei Zi menghasilkan beberapa pandangan dan pemikiran. Kebanyakan pemikiran Han Fei Zi ditujukan kepada pemerintah, tetapi  pemikirannya di daerah asalnya tidak disukai oleh penguasa karena pemikiranya mengkritik pemerintahan yang diktator. Akhrinya teman Han Fei Zi menyarankan untuk pindah ke negeri Qin.

Di negeri Qin tulisannya sangat disukai. Esainya terhadap pemerintahan otokratik begitu mengesankan raja Qin Shi Huang dari Qin bahwa Kaisar masa depan mengadopsi asas-asasnya setelah merebut kekuasaan pada 221 SM. Disinilah gagasan-gagasanya Han Fei Zi sangat dikenal dan diterapkan dalam kerajaan.

Pemikiran Han Fei Zi

Han Fei Zi mengkritik pendapatnya Meng Zi yang menyatakan bahwa kodrat manusia adalah baik, menurut Han Fei Zi sebaliknya, ia berpendapat bahwa sesungguhnya kodrat manusia adalah jahat. Menurut Han Fei Zi moral manusia tidak bisa menjadi pijakan utama untuk membuat keteraturan, karena pada dasarnya sifat manusia adalah ingin berbuat jahat. Menurutnya manusia akan berubah menjadi baik jika diatur dengan aturan yang ketat dan ancaman hukuman yang keras, dan untuk ini diperlukan penguasa yang kuat. Hal ini diperlukan untuk  stabilitas dan ketertiban masyarakat.

Metode alternatif menurut Han Fei Zi untuk mewujudkan stabilitas dan ketertiban masyarakat adalah  penguasa harus menerapkan hukum secara tegas dengan hadiah bagi yang patuh dan hukuman yang keras bagi yang membangkang.

Ada tiga unsur legalisme menurut Han Fei Zi yakni Shi, Shu, dan Fa. Shi atau otoritas yakni suatu kekuatan yang membuat satu perintah yang dapat dipatuhi. Shu atau metode/seni memerintah adalah suatu kemampuan untuk mengatur bawahan. Kemudian yang terakhir adalah Fa yakni hukum dengan garansi berlakunya berupa imbalan dan hukuman.

Ada pendapat Han Fei Zi yang begitu populer menurut Han Fei Zi tidak ada negara yang kuat atau lemah selamanya; kalau mereka yang menegakkan hukum kuat, negara akan kuat; namun kalau penegak hukum lemah, negara akan lemah. Masyarakat itu takluk pada kekuatan, dan sedikit yang dapat dipengaruhi doktrin-doktrin kebajikan.

Zhuang Zi

Chuang Tzu atau lebih dikenal dengan nama Zhuang Zi hidup sekitar tahun 369 – 286 SM, merupakan seorang filsuf Cina Kuno yang menganut aliran Taoisme. Zhuang Zi lebih dikenal sebagai filsuf dengan pemikiran tentang kebahagiaan yang sebenarnya/ hakiki.[6]

Zhuang Zi hidup pada masa peperangan antar kerajaan. Zhuang Zi berasal dari negeri Meng (sekarang provinsi Henan). Tidak ada sumber sejarah yang menyebutkan lengkap riwayat hidup Zhuang Zi. Dalam berbagai sumber sejarah beliau pernah menjabat sebagai Qiyuan Li atau seorang pejabat dari negeri Meng pada masa pemerintahan Liang Hui Wang dan Qi Xuan Wang.

Pemikiran Zhuang Zi

Menurut Zhuang Zi ada tiga orang yang paling bijaksana yakni Buddha, Konfusius, dan Lao-tse. Kata Zhuang Zi, Buddha menganggap hidup ini pahit. Ia menganggap hidup ini penuh penderitaan dan ilusi, penuh dengan keterikatan dan jebakan. Ia merasa bahwa kita harus memasuki dunia spiritual untuk menyingkirkan penderitaan tersebut. Kemudian Konfusius menganggap hidup ini asam/kecut. Ia merasa dunia ini adalah tempat yang tidak teratur, sehingga harus dikontrol. Yang terakhir ialah Lao-tse yang berpendapat bahwa  hidup ini sempurna dan indah sesuai apa adanya. Ia melihat adanya satu harmoni alam yang bisa dialami siapapun dan kapanpun. Dunia ini adalah guru yang paling berharga untuk hidup kita.

Seperti yang telah saya singgung sebelumnya Zhuang Zi merupakan filsuf aliran Taoisme, segala pemikirannya nantinya akan bersandar pada prinsip-prinsip Taoisme. Secara garis besar pemikiran Zhuang Zi merupakan ajaran tentang cara memandang dan cara menjalani hidup.

Baca Juga  Sebelum 8 Maret 1942 di Kalijati

Menurut Zhuang Zi hidup ini adalah sebagai suatu proses alamiah yang harus dijaga, dijalani, dinikmati dan diisi dengan hal-hal positif. Ia berpendapat bahwa manusia itu bagaikan alam semesta kecil yang mempunyai ikatan erat dengan alam semesta yang besar dan yang maha besar, sehingga menganjurkan agar manusia hidup secara alamiah serta selaras dengan alam.

Menurut Zhuang Zi kebahagiaan tertinggi adalah “Wu-wei”. Wu-wei secara harafiah: ‘tidak mempunyai kegiatan’ atau ‘tidak berbuat’, Maksudnya bukan tidak berbuat apapun, melainkan berbuat tanpa dibuatbuat dantidaksemau-maunya. Bersikap dibuat-buat dan semau-maunya berlawanan dengan sikap kodrati atau sikap yang wajar. Menurut teori Wu-wei, seseorang hendaknya membatasi kegiatan-kegiatannya pada apa yang diperlukan dan apa yang kodrati atau wajar.[7]

Mo Zi/ Mo Tzu (Mohisme)

Mo Zi atau biasa dikenal dengan Mo Tzu merupakan tokoh filsuf Cina Kuno pendiri aliran Mohisme, Mo Zi juga merupakan filsuf pra modern. Mo Zi hidup sekitar tahun 479-381 SM, berasal dari negara Lu.

Mo Tzu pada awalnya belajar kepada Konfusius, namun kemudian Mo Tzu  tidak setuju dengan pemikiran Konfucius tentang tradisi kuno yang menurut Mo Tzu tidak bermakna pada masa sekarang (Keadaan politik pada zaman masa kehidupan Mo Tzu adalah Zaman ambang kehancuran dinasti chou yang terkenal dengan ke feodalanya). Dari sinilah Mo Tzu mendirikan aliran/ madzab sendiri yang mernama Mohisme untuk mengkritik argumen-argumen para penganut Konfusianisme.[8]

Pemikiran Mo Zi

Seperti yang telah saya singgung sebelumnya bahwa dasar/ inti pemikiran dari Mo Zi adalah kritik terhadap argumen Konfusianisme. Menurut Mo Zi  ajaran Konfusianisme itu terlalu fatalistik dan terlalu banyak ritual, dan perayaan-perayaan tradisi, termasuk penguburan, yang merugikan kehidupan dan produktifitas orang biasa.

Ia mengatakan bahwa Konfusius memiliki pandangan dengan ukuran moral adalah diri sendiri. Tetapi MoZi mengkritiknya, ia berpandangan bahwa apabila diri sendiri adalah titik ukur sebagai moral terhadap orang lain. Itu adalah sempit karena dia harus memandang dirinya sendiri untuk memandang orang lain. Kitalah yang harus memperhatikan orang lain, seperti memperhatikan diri kita sendiri.[9]

Gagasan pemikiran Mo Zi juga lebih dikenal dengan universal love atau impartial care. Seperti pendapatnya tentang  seseorang harus peduli kepada sesama, siapapun, tanpa mempertimbangkan posisi dan relasinya dengan dirinya. Orang baik itu adalah orang yang mampu mewujudkan cinta sesama tanpa syarat. Oleh karena itu diperlukan satu unconditional love/universal love (Jin Ai).

Mo Zu juga dikenal sebagai filsuf anti fatalisme, seperti gagasanya tentang fatalisme yang ia anggap sebagai jalan kejahatan. Ia meemberi contoh bahwa di masa lalu, orang-orang yang malang, gemar makan dan minum, namun malas bekerja. Akhirnya mereka kekurangan makanan dan pakaian, terancam kelaparan dan sakit. Mereka tidak berkata: “Aku ini bodoh dan rendah, serta tidak tekun bekerja”.Namun mereka berkata:“memang takdirku menjad imiskin”.

[1] Fahruddin Faiz. 2018. Sebelum Filsafat. 2018. Yogyakarta: MJS Press. Hlm 3.

[2] Sudarto. Perbandingan Filsafat Cina dengan Filsafat India. Jurnal Artefak. 2015. 3 (2) .Hlm 134.

[3] Diolah dari ngaji filsafat cina oleh Dr. Fahruddin Faiz, Masjid Jendral Sudirman Colombo Yogyakarta.

[4] Joshua J. Mark. 2012. Mencius. Diakses di laman ancient.eu, https://www.ancient.eu/Mencius/ pada tanggal 15 Mei 2020.

[5] Ws. Ir. Djohan Adjuan. 2013. Meng Zi : ”Semua Manusia Ada 4 Hati”. Diakses di laman spocjournal.com, http://www.spocjournal.com/religi/404-meng-zi-%E2%80%9Dsemua-manusia-ada-4-hati%E2%80%9D.html pada 15 Mei 2020.

[6] Stephanus Djunatan. Mengikuti Dao, Bahagia Sejati Menurut Chuang Tzu. Extension Course Filsafat (ECF), 2018.

[7]  John M. Koller, Filsafat Asia, terj. Donatus Sermada, (Maumere: Penerbit Ledalero, 2010) hlm. 583, bdk. Fung Yu Lan, History of Chinese Philosophy, hlm. 239.

[8] Yi Pao Mei. Mo Zi, Chinese Philosopher. Diakses di laman britannica.com https://www.britannica.com/biography/Mozi-Chinese-philosopher pada 16 Mei 2020.

[9] Diolah dari ngaji filsafat dengan tema Mo Zi oleh Dr. Fahruddin Faiz