Tradisi Penjamasan Pusaka pada Bulan Suro

Jamasan Keris

Kita tahu bersama bahwasanya masyarakat Indonesia khususnya Jawa memiliki tradisi dan pandangan tersendiri mengenai benda pusaka. Pusaka dianggap sebagai produk budaya yang harus dihargai dan dihormati sebagai identitas bangsa. Budaya pusaka ini memiliki suatu makna filosofi yang sangat mendalam yang mana di dalamnya tersirat berbagai macam nilai-nilai luhur yang membentuk kepribadian dan karakteristik seseorang.

Kebudayaan pusaka sendiri sebenarnya sudah ada sejak zaman praaksara, yang pada zaman itu produk pusaka yang dihasilkan masih sangat sederhana misalnya batu untuk berburu atau menciptakan api dan juga tulang binatang untuk alat pemotong dan atribut kesukuan. Pada perkembangan yang selanjutnya, yakni memasuki zaman logam kebudayaan pusaka bisa dibilang mengalami perkembangan yang sangat pesat. Bahkan muncul suatu kelas sosial tersendiri yang mana di dalamnya ditempati oleh para pengrajin pusaka yang disebut golongan undagi. Mereka memiliki keahlian untuk menciptakan berbagai macam pusaka dari berbagai bahan, tetapi sebagian besar pusaka yang dihasilkan oleh para undagi berbahan dasar logam karena sifat logam sendiri adalah sangat kuat dan bisa tahan lama meskipun sudah berumur ratusan bahkan ribuan tahun lamanya.

Berbagai kebudayaan di seluruh dunia mengenal pusaka sebagai senjata maupun atribut kebangsaan. Bangsa Jepang misalnya, mereka memiliki sebuah pusaka kebanggaan yang kita kenal dengan katana yang berupa sebilah pedang yang pada zaman dahulu biasa dipakai oleh kaum samurai sebagai senjata perang. Kaisar Jepang pun memiliki tiga buah pusaka yang bernama pedang kusanagi no tsurugi, cermin yata no kagami, dan permata yasakani no magatama. Begitu pula dengan kerajaan-kerajaan di Jawa. Mulai dari kerajaan Majapahit hingga Mataram Islam semua memiliki pusaka kebanggaan. Sebagai contoh di Kerajaan Mataram Islam memiliki pusaka andalan Keris Kanjeng Kyai Ageng Kopek dan Tombak Kanjeng Kyai Ageng Plered. Itu semua menunjukkan bahwa eksistensi pusaka sebagai atribut budaya sudah dikenal sejak dahulu kala dan mendarah daging di kehidupan masyarakat. Seiring dengan perkembangan zaman dan globalisasi, budaya pusaka ini mengalami pasang surut bahkan ada yang sudah meninggalkan budaya tersebut sehingga menjadi punah. Sebagian orang masih ada yang melestarikannya hingga saat ini sesuai dengan tingkat pemahaman mereka dalam rangka usaha menjaga identitas bangsa.

Sejarah Tradisi Penjamasan Pusaka

Secara garis besar, tradisi penjamasan pusaka ini bisa dipetakan menjadi dua, yaitu pada masa Hindu-Buddha dan pada masa Islam. Penjamasan pusaka pada masa kerajaan Hindu dilaksanakan pada setiap wuku landhep pada penanggalan Jawa kuno. Hari di mana upacara penjamasan tersebut dilaksanakan disebut dengan hari raya tumpek landhep yang hingga saat ini masih diperingati dan dirayakan oleh rakyat Bali. Pada saat hari raya tersebut, semua orang di pulau Bali akan membersihkan benda pusaka kepunyaan mereka masing-masing dan setelah dibersihkan, benda pusaka tersebut akan dibawa ke pura untuk didoakan bersama-sama.

Dari perspektif Tattwa (filosofis umat Hindu), upacara Tumpek Landep dilaksanakan untuk memohon keselamatan ke hadapan Sang Hyang Pasupati, manifestasi Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan) sebagai Dewa pencipta dan pemilik peralatan yang terbuat dari besi, perak, emas dan lain sebagainya. Di samping itu, juga sebagai wujud atau simbol puji syukur umat Hindu (di Bali khususnya) ke hadapan Sang Hyang Widhi yang telah memberikan pengetahuan dan kemampuan merancang teknologi canggih sehingga tercipta benda-benda yang dapat mempermudah hidup manusia. Banyak orang yang memiliki aura spiritual yang kuat memuji tradisi penuh ritual ini sebagai event yang penuh spirit kemanusiaan, membangun manusia yang arif dalam memanfaatkan teknologi. Selain mengaturkan sesajen pada kendaraannya, umat Hindu juga mengaturkan sesajen itu di atas benda-benda teknologi yang mengandung unsur besi, sepeda motor, sepeda, mesin-mesin, komputer, televisi, radio, pisau, keris, tombak, cangkul, dan berbagai jenis senjata.

Perlu dipahami bahwa semua benda atau teknologi canggih itu memang harus dimanfaatkan untuk hal-hal yang bersifat positif, sesuai dengan konsep hidup umat Hindu di Bali yang berlandaskan Tri Hita Karana ( hidup harmonis dengan Yang Maha Kuasa, dengan alam lingkungan, dan dengan sesama manusia). Karena itu seluruh peralatan yang dipakai manusia untuk mengolah isi alam, harus tetap terjaga kesuciannya, sehingga selalu dapat digunakan dengan baik tanpa merusak alam atau menyakiti makhluk lain.

Sebagai contoh, orang yang berprofesi sebagai petani akan merawat dan menjaga peralatan pertaniannya dengan baik, seperti bajak, cangkul, sabit, pisau, kapak, dan berbagai bentuk senjata seperti keris, tombak, bedil atau panah. Orang yang berprofesi sebagai pandai (tukang membuat berbagai peralatan dari besi, baja, emas, perak) juga memelihara dan menjaga peralatannya agar tidak disalahgunakan untuk membuat benda-benda yang membahayakan kehidupan di alam semesta ini. Para sopir akan selalu merawat kendaraannya dengan baik, para operator komputer atau peralatan teknologi canggih lainnya juga akan bekerja dengan baik.

Baca Juga  Kegagalan Kubilai Khan dalam Menaklukkan Jawa Tahun 1293

Secara teknis, prosesi upacara Tumpek Landep diuraikan dalam Lontar Sundarigama. Persembahan kepada Sang Hyang Pasupati berupa sebuah Sesayut Pasupati, sebuah Sesayut Jayeng Perang, sebuah Sesayut Kusumayudha, Banten Suci, Daksina, Peras, Ajuman, Canang Wangi, Reresik atau pabersihan. Besar kecilnya upacara ini dilaksanakan sesuai kemampuan seseorang atau perusahaan. Namun, ada juga perusahaan besar atau orang yang mampu secara materi, akan melaksanakan upacara ini dengan meriah. Hal ini disesuaikan dengan Desa, Kala, Patra umat yang bersangkutan. Makna ketajaman maksudnya adalah bahwa dalam upacara Tumpek Landep bermaksud untuk mengasah dan meningkatkan ketajaman pikiran serta mohon kekuatan lahir batin agar manusia selamat dalam mengarungi samudra kehidupan.

Dalam Kitab Sarasamuccaya mengajak umat Hindu agar terus meningkatkan ketajaman dan kecerdasan akal serta pikiran dengan mempelajari berbagai ilmu pengetahuan. Sebab dari semua makhluk yang dilahirkan ke dunia, hanya manusia yang dibekali kecerdasan akal pikiran, dan kesadaran. Karena itu, dalam pelaksanaannya pun yang sebagian besar diupacarai adalah senjata tajam seperti keris, tombak, cangkul, bajak dan lain-lain. Namun seiring kemajuan zaman, barang-barang hasil teknologi yang membantu bagi kehidupan manusia pun mulai ikut diupacarai. Makna universal Tumpek Landep ini bisa dihayati dan diamalkan oleh seluruh umat manusia di muka bumi, sehingga tidak akan terjadi berbagai kerusakan lingkungan, perlombaan senjata serta peperangan di berbagai belahan dunia. Tentu sangat bagus jika spirit perdamaian dari Upacara Tumpek Landep yang dilaksanakan umat Hindu kini terus didengungkan ke seluruh pelosok dunia untuk membangun kehidupan dunia global yang damai sejahtera.

Sementara itu ketika agama Islam mulai masuk ke tanah Jawa, maka tradisi penjamasan pusaka ini pun perlahan mulai mengalami perubahan. Jika pada masa kerajaan Hindu upacara penjamasan pusaka dilaksanakan pada wuku landhep, maka setelah masuknya Islam upacara penjamasan pusaka dilaksanakan pada bulan Muharam atau Suro dan pada bulan Mulud atau Maulid. Kedua bulan tersebut dipilih karena dalam keyakinan Islam sendiri bulan tersebut adalah bulan yang dimuliakan. Bulan Muharram atau Suro adalah bulan permulaan pada sistem penanggalan hijriah dan juga penanggalan Jawa yang telah diperbarui. Sementara Bulan Mulud atau Maulid dalam tradisi Islam diperingati sebagai bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Filosofi bulan tersebut adalah sebagai lembaran hidup baru dan kelahiran baru bagi manusia yang suci dan tanpa noda.

Maka dari itu, momen tersebut dimanfaatkan oleh masyarakat Jawa untuk melaksanakan prosesi penjamasan pusaka. Tradisi penjamasan tersebut juga dibarengi dengan “menjamas” diri, menjamas di sini diartikan membersihkan kotoran yang bersifat lahiriah yang menempel pada jasad atau badan dengan cara mandi dan juga membersihkan kotoran yang bersifat batiniah yang berupa dosa dan segala macam kesalahan yang telah dilakukan dengan cara introspeksi diri serta memohon maaf dan juga ampunan dari Allah SWT karena sejatinya manusia ini tidak pernah luput dari kekhilafan dan dosa baik yang disadari maupun tidak disadari. Dengan adanya upacara penjamasan tersebut, harapannya adalah kita sebagai manusia ini berusaha untuk meninggalkan segala macam keburukan yang dapat menutup kebaikan dalam diri. Jika diri ini dikuasai oleh keburukan maka senantiasa kehidupannya akan dikuasai oleh nafsu angkara murka yang bisa mendatangkan kemarahan dan azab dari Allah SWT. Para leluhur kita memasukkan pengajaran tersebut dengan cara disimbolis sebagai penjamasan pusaka. Karena pada zaman dahulu keberadaan suatu pusaka bisa dibilang wajib bagi setiap orang, terlebih lagi seorang pria karena pusaka merupakan simbol kegagahan dan kejantanan.

Tata Cara Penjamasan Pusaka

Penjamasan pusaka pakem Yogyakarta dan pakem Surakarta umumnya sama. Dalam pembahasan ini, difokuskan pada pusaka yang berupa tosan aji seperti : keris, tombak, pedang, wedung, dan juga patrem. Penjamasan di dalam Keraton dan di luar keraton memiliki perbedaan makna. Jika di dalam keraton, prosesi jamasan dilakukan hanya sebagai simbol saja yakni hanya dibasuh dengan air kembang. Tradisi Keraton adalah mempertahankan warangan lama yang menempel pada bilah pusaka selama puluhan bahkan ratusan tahun, tidak dijamasi secara penuh karena di samping tradisi juga mencegah agar bilah pusaka bisa tahan lama. Bilah pusaka yang terlalu sering diberikan jamasan penuh setiap tahun maka akan terkikis, dalam bahasa Jawa disebut dengan istilah gripis bahkan bisa berlubang dan sampai patah. Sedangkan penjamasan di luar keraton atau yang kebanyakan dilakukan pemilik dan kolektor pusaka adalah setiap tahun pada bulan Suro dan diberikan jamasan secara penuh. Jamasan secara penuh dilakukan dengan mengolesi bilah pusaka dengan jeruk nipis untuk memutihkan bilah lalu dibersihkan dengan air dan diolesi larutan warangan dan langkah terakhir adalah diolesi dengan minyak pusaka. Sebenarnya jamasan penuh setiap tahun justru akan merusak bilah karena sifat dari jeruk nipis adalah asam yang dapat mengikis bilah.

Baca Juga  6 Saluran Islamisasi di Indonesia

Secara umum, tata cara mewarangi untuk prosesi jamasan adalah mutih dengan jeruk nipis, direndam, disikat, dilumuri larutan warangan, dibilas sampai bersih dan diberi minyak pusaka. Mewarangi atau dalam bahasa Jawa disebut marangi adalah pekerjaan untuk membersihkan dan memberikan larutan warangan pada bilah pusaka yang berupa tosan aji. Tujuan mewarangi pusaka tosan aji tersebut adalah untuk menumbuhkan atau memperjelas gambaran pamor (motif lipatan besi pada bilah tosan aji yang dihasilkan melalui proses tempa lipat secara berulang-ulang) pada permukaan bilah sekaligus untuk menambah keawetan pusaka tersebut. Jika proses mewarangi ini berhasil dengan baik, maka pamor pada permukaan bilah tosan aji akan terlihat indah secara optimal. Sebelum diwarangi, tosan aji harus dibersihkan permukaannya terlebih dahulu dari sisa-sisa minyak, jamur, karat, dan juga warangan lama. Masing-masing daerah memiliki pakem dan cara yang berbeda dalam mewarangi tosan aji, tetapi tujuannya tetap sama (Bambang Harsrinuksmo, 2003:282).

Peralatan yang diperlukan untuk mewarangi tosan aji adalah blandongan atau kowen yakni  semacam wadah untuk merendam tosan aji yang akan diwarangi. Di Madura dan sebagian Jawa Timur, blandongan biasa disebut dengan istilah blendungan. Selain itu harus disiapkan beberapa peralatan yang lain, yaitu beberapa jenis sikat dari yang kasar sampai yang halus. Kemudian diperlukan juga kuas serta jagrak atau gawangan untuk mengangin-anginkan tosan aji. Untuk meniriskan air dan mempercepat pengeringan bilah tosan aji biasanya menggunakan kawul (serutan batang bambu), tahi gergaji, atau dedak padi. Sejak beberapa dekade terakhir ini untuk keperluan pengeringan bilah tosan aji juga menggunakan kertas tisu atau kertas pengisap. Penggunaan kipas angin listrik juga bisa mempercepat pengeringan bilah tosan aji.

Bahan yang digunakan untuk mewarangi tosan aji adalah air kelapa yang telah basi sekitar 2,5 liter atau buah mengkudu yang sudah masak sebanyak 15 buah dan buah klerak sekitar 5 butir untuk membersihkan sisa minyak, yang paling penting adalah buah jeruk nipis sedikitnya 15 buah serta bahan warangan. Bahan-bahan warangan ini cukup untuk mewarangi sekitar 5 buah tosan aji. Air kelapa basi, buah mengkudu, serta buah klerak berfungsi untuk memudahkan proses penghilangan sisa-sisa minyak yang masih melekat pada bilah tosan aji. Selama sisa minyak tersebut masih ada, maka bilah tosan aji akan sulit untuk dibersihkan. Pada masa kini, beberapa kolektor tosan aji juga menggunakan bubuk detergen dan sabun colek untuk membersihkan sisa minyak. Namun beberapa kolektor tosan aji mengkhawatirkan bahan kimiawi tersebut akan mempercepat proses pengikisan bilah. Demikian pula dengan penggunaan asam sitrat sebagai pengganti air jeruk nipis tidak dianjurkan oleh para kolektor tosan aji.

Air jeruk nipis berguna untuk melarutkan bibit karat; karat dan sisa warangan lama. Karat yang menempel pada permukaan billah tosan aji akan mudah dibersihkan dengan sikat, bila tosan aji tersebut sudah direndam dengan air jeruk nipis terlebih dahulu. Selain itu, air jeruk nipis juga berfungsi untuk melarutkan warangan baru ayang akan bersenyawa dan menempel di permukaan bilah yang telah dibersihkan. Bila permukaan bilah tosan aji telah benar-benar dibersihkan, maka senjata tradisional tersebut akan berwarna putih keperakan seperti pisau dapur yang baru selesai diasah. Ini berarti tahap mutih telah dikerjakan dengan baik. Sesudah tahap mutih selesai, bilah tosan aji harus dikeringkan dahulu dengan cara diangin-anginkan di gawangan sebelum diwarangi. Warangan yang baik digunakan adalah kristal warangan alam, yang berwarna jingga kemerahanan. Kristal warangan ini harus dihancurkan dahulu hingga halus seperti bubuk sebelum dilarutkan dalam air jeruk nipis. Akhir-akhir ini ada kolektor tosan aji yang menggunakan bahan warangan arsenikum dari apotek tetapi hasilnya tidak sebaik warangan kristal yang alami. Dengan arsenikum apotik, bilah tosan aji menjadi cepat hitam tetapi motif pamor yang timbul kurang cemerlang.

Baca Juga  Sejarah Berdirinya Partai Komunis Australia

Seorang pecinta tosan aji yang berpengalaman banyak dalam pekerjaan ini akan mudah membedakan besi tosan aji yang mana yang mudah diwarangi, dan besi mana yang sulit. Selain itu Ia juga harus pandai angon mangsa yakni menentukan cuaca yang terbaik untuk melaksanakan proses pewarangan tersebut. Dalam proses menimbulkan pamor, cuaca (dalam hal ini suhu udara dan terangnya pencahayaan) berpengaruh besar terhadap gagal atau berhasilnya proses tersebut. Bila suhu udara panas dan cahaya terlalu banyak maka bilah tosan aji akan menjadi terlalu hitam atau dalam dunia kolektor tosan aji disebut dengan istilah kebrangas. Sedangkan jika suhu terlalu dingin dan cahaya kurang, maka bilah tosan aji yang diwarangi akan pucat keabu-abuan. Ada tiga cara dalam mewarangi tosan aji, cara yang pertama adalah dengan cara kum-kuman atau direndam dalam cairan warangan dalam waktu tertentu.

Cara kedua adalah dengan cara di-enyek yakni setelah bilah tosan aji diolesi larutan warangan segera dipijit-pijit rata seluruh permukaan bilah dengan tangan. Cara ketiga dengan cara di-konyoh yakni diolesi secara terus menerus dengan larutan warangan dengan kuas halus sampai timbul pamornya. Menurut ahli marangi, setiap tosan aji mempunyai sifat besi yang berbeda satu sama lain. Tosan aji A mungkin lebih baik diwarangi dengan cara konyoh, dan bukan cara enyek. Tetapi mungkin tosan aji B lebih baik dengan cara sebaliknya. Itulah sebabnya, untuk mendapatkan hasil yang optimal kadang-kadang sebilah tosan aji harus diwarangi sampai tiga kali untuk menemukan cara mewarangi yang paling tepat (Bambang Harsrinuksmo, 2003:283).

Beberapa kolektor keris di Surakarta dan Yogyakarta menganjurkan bahwa agar selama mewarangi tosan aji, orang yang melakukan kegiatan tersebut berpakaian lengkap dan bukannya mengenakan kolor dan kaus singlet. Bagi para penganut tradisi, mewarangi tosan aji bukan hanya membersihkan tosan aji dari karat dan kotoran; lebih dari itu mewarangi menurut mereka pada hakikatnya juga merupakan suatu upacara, dan karena itu seyogyanya berpakaian lengkap. Cara mewarangi pun juga harus dengan duduk bersila, bukan dengan berjongkok. Dengan demikian, suasana selama acara mewarangi keris akan terasa khidmat , resmi, dan tertib.

Selain memperindah penampilan pamor pada permukaan bilah tosan aji, warangan juga berfungsi mengawetkan bilah tosan aji dari serangan karat. Larutan warangan yang dilumurkan pada permukaan bilah tosan aji akan bereaksi dengan besi dan baja bahan tosan aji, maka warnanya akan berubah menjadi kehitaman dan sekaligus membentuk lapisan anti karat. Itulah sebabnya mengapa tosan aji yang baik bila dicuci dan diwarangi dengan baik dan benar, keindahannya bisa bertahan sampai lebih dari empat tahun. Sebagian masyarakat mengira bahwa marangi sama dengan njamasi atau nyirami. Sebenarnya tidak, njamasi atau nyirami hanya membersihkan tosan aji dengan cara “memandikan”, tidak memberikan tosan aji dengan larutan warangan. Keris yang masih baik tampilan pamornya sebaiknya tidak dijamasi dan jangan diwarangi dahulu.

Sementara itu, mewarangi tosan aji dengan cara keraton tidak banyak berbeda dengan cara yang biasa dilakukan oleh masyarakat di luar keraton. Yang jelas-jelas berbeda terutama adalah soal waktu dan kelengkapan sesajinya. Di keraton, mewarangi pusaka dilakukan hanya pada hari dan waktu tertentu. Sedangkan masyarakat di luar keraton lebih bebas mengenai soal waktu ini. Di Keraton Yogyakarta, saat mewarangi adalah hari Selasa Kliwon, bulan Suro. Kalau dalam bulan Suro tahun itu tidak terdapat Hari Greneng Kliwon, dipilih hari alternatif kedua, Jumat Kliwon. Pusaka yang mendapatkan perlakuan khusus saat mewarangi adalah Kanjeng Kyai Ageng Pleret dan Kanjeng Kyai Pengarab-arab. Sesaji khusus untuk Kanjeng Kyai Ageng Pleret adalah yang paling lengkap, di antaranya daging kambing kendit, yakni kambing hitam mulus dengan belang putih mulus di selingkar perut atau dadanya. Yang mewarangi harus raja sendiri, dan harus berbusana kebesaran lengkap. Sebelum K.K.A Pleret selesai diwarangi, maka pusaka yang lain belum boleh mulai diwarangi. Sedangkan pusaka K.K. Pengarab-arab harus diwarangi dengan berdiri. Setelah selesai diwarangi, pedang pusaka tersebut harus ditusukkan ke tubuh bekakak, yakni boneka yang dibuat dari tepung ketan berisi cairan gula Jawa. Ketika boneka ketan itu ditusuk dengan pedang pusaka tersebut, cairan gula Jawa akan meleleh seperti darah (Bambang Harsrinuksmo, 2003:284).

.

Penulis: Victor Antonio Jevon

Editor: Fastabiqul Hakim