Voltaire: Penuh Karya dan Kontroversi

Voltaire

Sejarah memang lekat akan dimensi ruang dan waktu. Oleh karena itu, kronologi juga periodisasi merupakan salah satu bahan untuk mencetak historiografi. Termasuk akan riwayat seorang Voltaire. Lahir dan mati di Perancis, tak membuatnya hanya dikenal di Perancis. Semasa hidup, Voltaire berkelana ke Inggris pasca peristiwa Bastile dan Prusia. Pertualangan serunya bermula ketika menulis satir pada bupati yang membuatnya diasingkan ke Sully Sur-Loire tahun 1716. (Cronk, 2009)

Francois Marie Arouet lahir di dekat Paris tahun 1694. Pada tahun 1704-1711 ia menempuh pendidikan agama di Jesuit College of Louis le-Grand. Setelahnya, ia masuk ke pendidikan hukum kurun waktu 1711 hingga 1715 namun, ia justru sibuk menulis puisi. Voltaire memang dikenal pokal dalam menuliskan kritik kepada pemerintah. Salah satu aksinya yakni, saat menulis ayat satir ialah dengan menyebut bupati melakukan inses dengan putrinya berbuah penjara selama 11 bulan dari tanggal 16 Mei 1717 hingga 15 April 1718 di Penjara Bastille tanpa jendela dan dinding sel setebal sepuluh kaki. (Pearson, 2005)

Tahun 1718, pasca pentas dramanya ia kemudian mempopulerkan nama Voltaire. Ia di penjara lagi dan pengembaraannya bermula di Inggris. Kemudian ia beberapa kali ke daerah lain seperti Prusia dan daerah lainnya yang mengabdi pada institusi pengadilan. Sementara itu, ia pernah bekerja pula saat Raja Louis XV bertakhta di sebuah pengadilan. (Cronk, 2009)

Voltaire kemudian bertemu dengan Emilie du Chatelet dan mereka bersinergis dalam karya sastra tahun 1733 hingga kematiannya di tahun 1749. Dalam waktu berikutnya ia lebih sering beraktualisasi diri dalam karyanya yang kemudian dipentaskan. Dia juga pernah terlibat sebagai diplomat untuk Prusia saat negaranya tengah baku hantam dengan Inggris. Ia sempat menghabiskan masa tuanya di Ferney, Perancis Februari 1759. Di tahun 1774, Raja Louis XV wafat dan digantikan oleh Raja Louis XVI. Empat tahun berselang ia kembali dan wafat di Perancis 30 Mei 1778. (Cronk, 2009) 

Baca Juga  Sejarah Kaum Mu’tazilah, Pelopor Rasionalisme Islam

Voltaire erat di mata khalayak sebagai revolusioner dan pujangga hebat. Semasa hidupnya ia selalu menyokong pendapat Jean Jacques Rousseau. Ia berkata bahwa, semua peraturan yang telah tidak sesuai harus ditiadakan. Ia juga acap kali mengkritik pemerintahan raja sendiri dengan raja di negara lain seperti Parlemen Raja Louis XIV dengan Parlemen Inggris. (Djaja, 2016)

Sumbangsihnya pada peradaban juga terbukti dengan diterbitkannya buku Dictionnarie Philosophique tahun 1679. Pada waktu itu, revolusi ilmu pengetahuan sedang digalakkan dengan terbitnya 17 buku ensiklopedia dari tahun 1751 hingga 1772. Voltaire kemudian erat disapa dengan golongan rasionalisme yang lain. (Purwanta, 2020) Penerbitan ensiklopedia ini dirasa penting sebagai fondasi abad pencerahan karena memuat informasi selengkap mungkin dan sesistematik mungkin.

Banyak karyanya yang kemudian ia pantas digelari pujangga. Dalam bidang seni puisi, ia sempat menyuguhkan karya mengenai Joan of Arc. Dalam bidang prosa, ia sempat mengorbitkan Traktat Toleransi dengan duduk perkara kasus Calas dan intrik anti-Protestan yang dimulai Oktober 1762. (Voltaire, 2004) Selanjutnya soal pentas drama, berulang kali ia menyajikan beberapa pementasan yang gila seperti “Mahomet” tahun 1741 dan “Oedipus” (1718) yang melejitkan namanya. (Garreau, 1984)           

Meskipun sebagai sosok yang dikenal menginspirasi lewat karyanya untuk peradaban, Voltaire juga memiliki sisi kontroversial sendiri menyoal pandangan religinya. Dengan Islam, ia pernah mementaskan drama kontroversial bertajuk “Mahomet” tahun 1741. Selain itu, ia menyebut Muhammad sebagai penyair bukan orang yang buta huruf. Dengan demikian, dia mempunyai orientasi negatif pada Islam dan Nabi Muhammad karena mengabaikan hukum fisika. (Gunny, 1996)

Terkait Agama Kristen dan Yudaisme ia pun mempunyai konotasi negatif. Berbeda kemudian terkait Agama Hindu, Voltaire memiliki pandangan yang menarik bahwa orang Hindu merupakan orang yang cinta damai. Voltaire akhirnya mempunyai konotasi positif pada Konfusianisme yang menyebut bahwa tidak ada kepalsuan dan Konfusius sendiri merupakan pribadi yang tak gila hormat sebagai sebuah Mesias. Pro-kontranya pandangan agama dari kacamata Voltaire sejatinya tidak terpisahkan dengan akal pikirannya yang berhulu pada rasionalisme. Dirunut sejak masa mudanya, terlukis sebagai sosok pemikir bebas. (Cronk, 2009)

Baca Juga  Kyai Raden Santri: Jalan Dakwah Sang Pangeran

.

Penulis: Muhammad Ath Thaariq

Editor: Fastabiqul Hakim